Medan, IDN Times - Cloud No 3 menjadi penutup rangkaian Aksi Kamisan Medan ke 111, di Titik Nol Kota Medan, pada 21 Mei 2026 lalu. Massa seakan tidak habis energi. Tetap moshing saat distorsi gitar mulai berteriak lewat pengeras suara. Sebelumnya, ada beberapa penampil lainnya yang tidak kalah seru.
Aksi Kamisan kali ini jauh berbeda dengan biasa. Komunitas yang berdiri karena keresahan dengan kondisi negeri ini, mengemas kritik lewat berbagai seni.
Meilawan dipilih sebagai kata yang melekat pada Aksi Kamisan itu. Karena bagi massa, ada begitu banyak risalah tentang bagaimana perlawanan masyarakat terjadi di Mei.
Ada begitu banyak peristiwa pada Mei di beberapa belahan dunia. Sebut saja peristiwa Haymarket di Amerika Serikat pada awal Mei 1886 yang menjadi cikal bakal Hari Buruh Internasional. Kemudian ada peristiwa pengusiran rakyat Palestina dalam peristiwa Nakba pada 15 Mei 1948, perjuangan kelompok pro-demokrasi di Guangzhou pada 18 Mei 1980 dan peristiwa lainnya.
Di Indonesia sendiri, Mei juga meninggalkan jejak sejarah. Misalnya berdirinya Budi Utomo 1908, kekerasan dan pelanggaran HAM pada tragedy Trisakti pada 12 Mei 1998 hingga kerusuhan 13 – 15 mei sebelum lengsernya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998. Dan begitu banyak peristiwa lainnya.
Bagi Aksi Kamisan Medan, Mei menjadi momentum merawat ingatan. Karena seluruh peristiwa itu menjadi semangat global tentang tekad kolektif manusia dalam menentang eksploitasi, penjajahan dan tirani.
“Sepanjang sejarah dunia, perlawanan-perlawanan global banyak terjadi di bulan Mei. Begitu juga dengan berbagai tragedi Mei berdarah yang acap kali terjadi. Karena itu kami mengangkat tema Aksi Kamisan yakni; menghimpun sejarah panjang dan kebenaran yang tidak kunjung pulang,” kata Deryl.
