ilustrasi pasangan (pexels.com/Antoni Shkraba)
Contoh sederhananya, ketika kamu berbuat kebaikan, lalu kamu mengunggahnya ke media sosial, akan ada dua sisi yang melihat aksimu. Yakni, di satu sisi ada pihak yang menganggap kamu tak ikhlas berbagi, pamer kekayaan, hingga haus validasi.
Namun, di sisi lain ada orang-orang dengan pemikiran yang tepat akan melihat dari sudut pandang yang positif. Mulai dari melihat niat baikmu hingga memberikan validasi bahwa kamu juga orang yang baik hati. Bahkan, sampai pada pemikiran bahwa aksimu itu heroik bak menetralisir isi konten media sosial yang sudah mulai dipenuhi konten akan hal buruk.
Dengan konten aksi berbagimu, orang yang tepat bisa menilai hal itu memotivasi orang lain. Pun setidaknya sekadar menormalisasi akan bolehnya mengunggah apa pun itu, terlebih dalam hal kebaikan.
Jadi, kamu lebih mendengar validasi dari orang yang tepat atau sakit hati dengan omongan tak baik dari orang yang tak mengenalmu? Bijaklah dalam memilih. Jadikan validasi dari orang yang tepat untuk bisa membuat kamu terus bersemangat berbuat baik untuk orang lain dan dirimu sendiri.