Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kebiasaan Lebaran di Sumatera Utara yang Kian Jarang Terlihat
Masyarakat dari berbagai daerah memadati Masjid Raya Al Mashun Kota Medan untuk mengikuti salat Idul Fitri Berjamaah, Sabtu (21/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Perubahan dalam perayaan Idul Fitri tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, ada berbagai kebiasaan yang kini tidak lagi muncul seintens sebelumnya di tengah masyarakat Sumatera Utara.

Sebagian kebiasaan itu dulu berjalan begitu saja. Tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi selalu hadir dalam setiap Lebaran. Kini, beberapa di antaranya mulai jarang ditemui.

Mobilitas yang semakin tinggi, pola keluarga yang tidak lagi besar, hingga pilihan gaya hidup yang lebih praktis, memengaruhi bagaimana Lebaran dijalankan.

Dampaknya, sejumlah tradisi yang sebelumnya bersifat komunal perlahan mengalami penyusutan. Oleh karenanya, berikut beberapa kebiasaan Idul Fitri di Sumatera Utara yang kini mulai jarang ditemukan dalam praktik sehari-hari masyarakat.

1. Perang Senjata Mainan dengan Peluru Plastik, Dulu Meriah Kini Dibatasi

ilustrasi anak memegang senjata mainan (pexels.com/cottonbrostudio)

Suasana setelah salat Id dulu kerap diwarnai permainan anak-anak menggunakan senjata mainan dengan peluru plastik kecil. Permainan ini biasanya berlangsung di gang, halaman rumah, hingga lapangan terbuka.

Tidak ada aturan baku dalam permainan tersebut. Anak-anak berkumpul dan bermain secara spontan. Aktivitas ini menjadi bagian dari suasana Lebaran yang ramai dan interaktif.

Saat ini, permainan tersebut mulai jarang terlihat. Selain karena faktor keamanan, ketersediaan mainan ini juga tidak lagi seperti sebelumnya. Di sisi lain, anak-anak memiliki lebih banyak pilihan hiburan lain, termasuk gadget.

2. Mangalomang, Tradisi Memasak Lemang yang Kini Tak Lagi Ramai

ilustrasi lemang (pexels.com/u_1w1dyw2i1i)

Mangalomang merupakan tradisi memasak lemang secara bersama-sama yang cukup dikenal di wilayah Mandailing. Prosesnya melibatkan beberapa tahapan, mulai dari persiapan bahan hingga pembakaran lemang dalam waktu yang cukup lama.

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara kolektif. Warga berkumpul, terlibat dalam proses memasak, sekaligus berinteraksi satu sama lain. Namun, praktik ini kini tidak lagi banyak dilakukan. Sebagian masyarakat memilih membeli lemang yang sudah jadi. Pertimbangan efisiensi waktu dan keterbatasan ruang menjadi faktor utama berkurangnya kegiatan ini.

3. Malam Tujuh Likur, Tradisi Pelita Indah yang Mulai Meredup

ilustrasi lampu minyak (pexels.com/Batuhan Alper Bilginer)

Di wilayah pesisir Melayu, Malam Tujuh Likur identik dengan pemasangan lampu pelita di sekitar rumah. Tradisi ini dilakukan pada malam-malam terakhir Ramadan sebagai bagian dari suasana menyambut Idul Fitri.

Pelita dipasang secara berderet dan menjadi bagian dari tampilan visual kampung. Selain itu, kegiatan keagamaan seperti zikir bersama juga dilakukan di masjid.

Saat ini, penggunaan pelita mulai berkurang. Lampu listrik menjadi pilihan utama karena lebih praktis. Tradisi ini masih dilakukan di beberapa tempat, tetapi tidak lagi menjadi praktik umum.

4. Mangan Fajar, Tradisi Makan Pagi Lebaran yang Tak Lagi Seramai Dulu

ilustrasi menikmati hidangan makanan (pexels.com/Bayu Franky)

Mangan Fajar merupakan tradisi makan bersama keluarga pada pagi hari Idul Fitri setelah salat Id, khususnya di masyarakat Mandailing.

Kegiatan ini menjadi momen berkumpulnya keluarga besar, termasuk anggota keluarga yang merantau. Selain makan bersama, interaksi antaranggota keluarga juga menjadi bagian penting dari tradisi ini.

Saat ini, tidak semua keluarga dapat menjalankan tradisi tersebut secara utuh. Mobilitas dan keterbatasan waktu membuat pertemuan keluarga besar tidak selalu terjadi. Akibatnya, praktik Mangan Fajar menjadi tidak merata.

5. Tradisi Mengantar Juadah Lebaran ke Tetangga, Kini Tak Lagi Merata

ilustrasi membuat ketupat lebaran (pexels.com/anggit priyandani)

Mengantar makanan Lebaran ke rumah tetangga merupakan kebiasaan yang cukup umum di berbagai wilayah Sumatera Utara. Makanan seperti ketupat, opor, dan kue-kue dibagikan sebagai bentuk silaturahmi.

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah. Dalam beberapa kasus, anak-anak turut dilibatkan dalam proses tersebut. Namun, kebiasaan ini kini mulai berkurang. Banyak keluarga lebih fokus pada lingkup keluarga inti. Interaksi antar tetangga juga tidak lagi seintens sebelumnya.

Perubahan pada kebiasaan-kebiasaan ini terjadi secara bertahap. Tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkan pergeseran ini, melainkan kombinasi dari perubahan sosial, ekonomi, dan gaya hidup masyarakat.

Di satu sisi, perayaan Idul Fitri tetap berlangsung sebagai momen penting. Namun di sisi lain, bentuk interaksi dan praktiknya mengalami penyesuaian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team