Ramadan di Medan selalu terasa seperti pulang. Ada sesuatu yang berubah begitu bulan suci tiba. Jalanan yang biasanya sibuk terasa lebih pelan. Wajah-wajah terlihat lebih ramah. Percakapan kecil di warung kopi terdengar lebih hangat dari biasanya. Kota seperti ikut menahan napas, lalu berjalan dengan ritme yang lebih lembut.
Pagi hari diisi suara kendaraan yang masih tersisa dari waktu sahur. Siang terasa teduh meski matahari tetap terik. Menjelang magrib, aroma santan, gula aren, dan gorengan menyatu dengan udara. Malamnya dipenuhi cahaya masjid dan langkah kaki orang-orang yang pulang dari tarawih. Semua bergerak dalam suasana yang terasa akrab.
Keberagaman etnis dan agama membuat Ramadan di Medan memiliki warna yang khas. Melayu, Mandailing, Minang, Jawa, China hingga Batak hidup berdampingan dan memberi sentuhan masing-masing pada suasana bulan puasa. Dari riuhnya pagi hingga hangatnya antrean takjil, ada banyak cerita yang membuat Ramadan di kota ini sulit dilupakan. Berikut lima hal yang paling terasa dan selalu hadir setiap tahun.
