Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fase Emosional yang Bakal Kamu Alami After Wisuda, Relate Banget
Ilustrasi wisuda. (Pexels.com/Abdullah Hafeez)
  • Usai wisuda, fresh graduate umumnya mengalami euforia dan kelegaan singkat sebelum menghadapi transisi dari rutinitas kampus ke kehidupan dewasa.

  • Lepasnya status mahasiswa dapat memicu hilangnya struktur, krisis identitas, serta kebiasaan membandingkan diri melalui pencapaian teman di media sosial.

  • Pencarian kerja, penolakan, dan ketidakpastian finansial dapat menimbulkan kecemasan; fase berikutnya adalah menerima proses sambil membangun rutinitas, target kecil, dan keterampilan baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Wisuda adalah momen yang sangat dinantikan oleh para mahasiswa karena hari itu adalah sebuah reward setelah berjuang selama 4 tahun di bidang akademik. Hari wisuda sering ditandai dengan selempang, buket bunga, dan foto bersama keluarga. Namun, ketika euforia perayaan itu usai dan toga dilipat masuk lemari, tidak sedikit para fresh graduate yang justru merasa cemas akan masa depan.

Secara psikologis, transisi dari dunia kampus ke dunia nyata merupakan salah satu fase penyesuaian paling berat dalam perkembangan usia emerging adulthood (18–25 tahun). Menurut penelititips psikologi, perubahan ini kerap memicu post-graduation depression atau quarter-life crisis.

​Berikut adalah 5 fase emosional yang umum dialami after wisuda agar kamu sadar bahwa perasaanmu itu valid dan normal!

1. Fase euforia singkat

Ilustrasi wisuda (Dokumentasi Pribadi)

Ketika selesai menyelesaikan ujian skripsi dengan selempang dan ijazah di tangan, fase pertama yang akan kamu rasakan adalah rasa lega yang luar biasa. Kamu merasa lega karena tidak ada lagi deadline tugas, revisi dosen, atau ketakutan tidak lulus.

​Di fase ini, kamu menikmati masa istirahat, menghabiskan waktu bersama teman atau sekadar tidur without pressure. Namun, psikolog mencatat bahwa fase "euforia" ini biasanya berlangsung singkat—mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu saja sebelum kenyataan baru mulai menghampiri.

2. Hilangnya struktur dan identitas diri

Ilustrasi mahasiswa after wisuda (pixabay/mrbudgetphotography)

Selama bertahun-tahun, identitas utamamu adalah "seorang pelajar" atau "mahasiswa" yang jalurnya sudah jelas seperti masuk kelas, ujian, lalu naik tingkat. Saat status mahasiswa itu lepas, kamu merasa ada sesuatu yang hilang karena kamu bukan lagi mahasiswam

​Secara psikologis, hilangnya rutinitas ini memicu identity void atau krisis identitas ringan. Kamu mulai bertanya, "Siapa saya kalau bukan lagi mahasiswa?" atau "Apa yang akan saya lakukan besok jam 8 pagi?". Fase ini adalah titik mula dimana kamu sadar kamu sudah menjadi orang dewasa dan bagian dari society.

3. Fase membandingkan diri dan sosial media

Ilustrasi bermain social media (pixabay/niekverlaan)

Pada fase ini, biasanya dipicu oleh timeline atau fyp social media kamu. Kamu melihat teman seangkatan yang sudah bekerja perusahaan bergengsi, lanjut S2 ke luar negeri, atau memulai bisnisnya sendiri, yang bisa membuat kamu menyalahkan diri kamu sendiri.

​Menurut riset psikologi sosial, paparan highlight reel orang lain dapat memicu The Comparison Trap dan kecemasan berlebih (FOMO). Di fase ini, muncul rasa tidak berguna, imposter syndrome, dan keraguan atas kemampuan diri sendiri. Padahal, setiap orang memiliki garis waktu keberhasilan yang berbeda-beda.

Jadi jangan takut ya, life is marathon not race!

4. Fase penolakan dan reality check

Ilustrasi mahasiswa after wisuda (pixabay/pexels)

Terjun langsung ke dunia kerja sering kali membuat para fresh graduate menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Mengirim puluhan ataupun ratusan lamaran, mendapat email penolakan, hingga menghadapi kualifikasi entry-level yang meminta pengalaman kerja bertahun-tahun adalah kenyataan yang pahit.

​Pada fase ini, suatu individu sering dihadapkan situasi yang disebut burnout mencari kerja dan keputusasaan. Peneliti menyebutkan bahwa ketidakpastian finansial dan karier pada tahap ini merupakan pemicu utama timbulnya post-graduation anxiety.

5. Fase penerimaan dan penyesuaian baru

Ilustrasi mahasiswa after wisuda (pixabay/yazidnasuha)

Fase terakhir ini adalah turning point emosionalmu. Setelah berperang dengan kecemasan dan kebingungan, kamu mulai bisa menerima bahwa proses ini memang membutuhkan waktu yang panjang dan tidak ada yang instan.

​Di fase ini kamu akan mulai membangun rutinitas baru dengan berhenti membandingkan diri dengan orang lain, mulai menyusun target kecil harian, serta memulai untuk belajar hal baru (up-skilling). Sangat wajar jika di usia 20 an belum memulai apa-apa. Yakinlah, jika banyak orang diluar sana juga merasakan hal yang sama karena hal tersebut merupakan bagian dari proses kedewasaan.

Menghadapi fase after wisuda memang tidak pernah mudah, dan tidak ada satu orang pun yang benar-benar siap 100%. Jika saat ini kamu sedang berada di fasi ini, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dan proses penyesuaian ini adalah bagian dari pendewasaan diri. Keep going, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article