Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)
Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Menjelang Imlek, banyak orang menata ulang harapan. Ada yang sibuk menyiapkan perayaan, ada pula yang memilih berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, tahun baru adalah tentang ingatan, nilai hidup, dan perjalanan panjang para pendahulu.

Di Medan, perenungan semacam itu kerap membawa satu nama ke permukaan. Tjong A Fie. Sosok saudagar besar pada masa kolonial, yang pengaruhnya tak berhenti dibahas hanya pada neraca keuntungan yang ia peroleh. Jejaknya meresap ke ruang sosial, budaya, bahkan cara kota ini bertumbuh.

Perjalanan hidup Tjong A Fie mencerminkan semangat merantau yang lekat dengan tradisi Imlek. Ada kerja keras, ketekunan, juga tanggung jawab sosial yang menyertai kesuksesannya. Di balik rumah megah di kawasan Kesawan dan catatan sejarah yang sering dikutip, tersimpan banyak sisi menarik yang jarang dibahas. Lima fakta berikut membantu melihatnya lebih dekat, sebagai manusia dengan visi yang jauh ke depan. Mari simak!

1. Merantau dengan Bekal yang Nyaris Tak Ada

Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Kisah Tjong A Fie berawal sederhana. Bahkan nyaris getir. Pada usia muda, ia meninggalkan Tiongkok dan tiba di Labuhan Deli dengan bekal yang sangat terbatas. Sejumlah catatan menyebutkan hanya beberapa koin perak yang menemaninya saat memulai hidup di tanah asing.

Alih-alih menumpang pada keberhasilan sang kakak, Tjong A Fie memilih jalan yang pelan tertatih. Ia bekerja sebagai pelayan toko kelontong. Dari sana, ia belajar menghitung, mencatat, melayani, dan membangun kepercayaan. Pengalaman tersebut tampak sepele, tetapi justru menjadi dasar kuat bagi perjalanan bisnisnya di kemudian hari.

2. Rumah Tinggal yang Melampaui Zamannya

Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Pada akhir abad ke-19, rumah Tjong A Fie sudah menunjukkan arah masa depan. Bangunan tersebut menjadi hunian pertama di Medan yang dialiri listrik, sebuah kemewahan yang kala itu masih jarang ditemui.

Ketertarikannya pada teknologi terlihat jelas. Peralatan rumah tangga berbasis listrik telah digunakan, termasuk alat penyedot debu. Rumah tersebut merupakan ruang pertemuan bagi tokoh-tokoh penting. Dari sanalah banyak keputusan dan relasi strategis terjalin.

3. Kepedulian yang Menembus Batas Keyakinan

Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Sebagai penganut Konghucu, Tjong A Fie tidak membatasi kepedulian pada satu komunitas. Pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok dibiayai sepenuhnya melalui dana pribadinya, kemudian diserahkan pengelolaannya kepada Kesultanan Deli.

Perpaduan budaya tampak jelas pada arsitektur masjid, terutama pada bentuk atap yang mencerminkan pengaruh Tionghoa. Dukungan serupa juga diberikan untuk pembangunan gereja, kuil Hindu, dan rumah ibadah lain. Keharmonisan sosial menjadi prinsip yang dipegang teguh.

4. Jejak yang Sampai ke Tanah Leluhur

Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Kesuksesan di perantauan tidak membuat Tjong A Fie melupakan asal-usulnya. Bersama keluarga, ia terlibat dalam pembangunan jalur kereta api di Tiongkok Selatan yang sepenuhnya dikelola oleh modal swasta Tionghoa.

Langkah tersebut tergolong berani. Pada masa itu, proyek infrastruktur besar umumnya berada di bawah kendali kekuatan Barat. Kontribusi tersebut kemudian mendapat pengakuan dari pemerintah kekaisaran Tiongkok, menandai perannya di tingkat internasional.

5. Wasiat yang Berbicara tentang Kemanusiaan

Museum Tjong A Fie Medan (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Menjelang akhir hayat pada 1921, Tjong A Fie menuliskan wasiat yang memperlihatkan kedalaman pandangan sosialnya. Seluruh kekayaan dialihkan kepada yayasan dengan amanat jelas, pendidikan dan kesejahteraan harus diberikan tanpa memandang ras, agama, atau kebangsaan.

Di tengah situasi kolonial yang sarat pemisahan sosial, pesan tersebut terasa melampaui zamannya. Warisan Tjong A Fie tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan bersejarah, tetapi juga dalam nilai kepedulian dan toleransi. Imlek menjadi momen yang tepat untuk mengingat bahwa makna keberhasilan sejati terletak pada manfaat yang dapat dirasakan bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team