Orang-orang menyebut Old Trafford kandang Manchester United sebagai The Theatre of Dreams. Julukan itu tumbuh dan menggema dari waktu ke waktu. Saat kemenangan yang dirayakan, kekalahan yang diterima, atau pemain yang jatuh lalu kembali berlari. Di sana, mimpi dilatih setiap hari. Di Medan, denyut serupa hidup di Taman Budaya Sumatera Utara, yang kini dikenal sebagai Taman Budaya Kota Medan.
Tempat ini menyimpan banyak cerita manusia. Di lantainya, penari mengulang gerak sampai telapak kaki panas. Di sudut ruangan, aktor teater melafalkan dialog sambil bersila, kadang berhenti, kadang mengulang dari awal. Penyair membaca puisinya dengan suara rendah, lalu mencoret satu baris, menulis ulang, mencoret lagi. Sore dipakai untuk latihan, sementara malam diisi cakap-cakap panjang tentang karya yang belum selesai, tentang rencana yang masih kabur, tentang hidup yang berjalan apa adanya.
Dari ruang-ruang sederhana itu lahir pertunjukan, lukisan, naskah, juga perjalanan banyak orang. Lantainya mulai aus, dindingnya menua, tetapi kerja keras yang pernah tertanam di sini tidak ikut lapuk. Karena itu, Taman Budaya kerap disebut sebagai “Theatre of Dreams”-nya Medan, sebab di sinilah banyak orang belajar bertahan, belajar jatuh, lalu kembali berdiri.
Dari semua kisah yang ada terkait tempat ini, IDN Times akan mengajak kamu mendekat, melihat fakta-fakta yang tersimpan di balik dinding tuanya. Mari simak!
