Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)
Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Intinya sih...

  • Tempat ini dulunya adalah lahan pemakaman umum pada era 1960-an sebelum dialihfungsikan menjadi Taman Budaya Sumatera Utara.

  • Di area gedung lama, terdapat pohon asam yang menjadi saksi perjalanan zaman dan simbol keteguhan bagi banyak pegiat seni.

  • Taman Budaya Sumatera Utara secara administratif dipindahkan ke kawasan di Jalan Gatot Subroto pada 2020, sehingga satu sejarah terbagi dua lokasi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Orang-orang menyebut Old Trafford kandang Manchester United sebagai The Theatre of Dreams. Julukan itu tumbuh dan menggema dari waktu ke waktu. Saat kemenangan yang dirayakan, kekalahan yang diterima, atau pemain yang jatuh lalu kembali berlari. Di sana, mimpi dilatih setiap hari. Di Medan, denyut serupa hidup di Taman Budaya Sumatera Utara, yang kini dikenal sebagai Taman Budaya Kota Medan.

Tempat ini menyimpan banyak cerita manusia. Di lantainya, penari mengulang gerak sampai telapak kaki panas. Di sudut ruangan, aktor teater melafalkan dialog sambil bersila, kadang berhenti, kadang mengulang dari awal. Penyair membaca puisinya dengan suara rendah, lalu mencoret satu baris, menulis ulang, mencoret lagi. Sore dipakai untuk latihan, sementara malam diisi cakap-cakap panjang tentang karya yang belum selesai, tentang rencana yang masih kabur, tentang hidup yang berjalan apa adanya.

Dari ruang-ruang sederhana itu lahir pertunjukan, lukisan, naskah, juga perjalanan banyak orang. Lantainya mulai aus, dindingnya menua, tetapi kerja keras yang pernah tertanam di sini tidak ikut lapuk. Karena itu, Taman Budaya kerap disebut sebagai “Theatre of Dreams”-nya Medan, sebab di sinilah banyak orang belajar bertahan, belajar jatuh, lalu kembali berdiri.

Dari semua kisah yang ada terkait tempat ini,  IDN Times akan mengajak kamu mendekat, melihat fakta-fakta yang tersimpan di balik dinding tuanya. Mari simak!

1. Berawal dari Lahan Pemakaman

Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi pusat kegiatan seni, kawasan di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 ini dulunya merupakan area pemakaman umum pada era 1960-an. Setelah direlokasi, lahan tersebut dialihfungsikan dan pada 1969, mulai digunakan sebagai Taman Bina Budaya cikal bakal Taman Budaya Sumatera Utara.

Latar ini membuat banyak seniman senior merasa gedung lama punya suasana khas. Namun seiring waktu, tempat yang dulu sunyi itu berubah total. Bunyi langkah penari, dialog teater, hingga diskusi sastra menggantikan keheningan. Dari tanah yang pernah menjadi peristirahatan terakhir, lahirlah ruang kehidupan kreatif yang tak pernah berakhir.

2. Misteri Pohon Asam "Saksi Bisu" Sejarah

Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Di area gedung lama, ada pohon asam yang kerap disebut sebagai saksi perjalanan zaman. Konon, pohon ini sudah berdiri sejak masa kolonial dan tetap bertahan melewati berbagai fase sejarah dari awal kemerdekaan hingga masa ramai-ramainya aktivitas teater pada dekade 1980-1990-an.

Bagi banyak pegiat seni, pohon itu simbol keteguhan. Sayangnya, perubahan tata kota membuat pepohonan tua di sekitar kawasan ini makin tergerus, sehingga suasana yang dulu sangat rindang kini terasa jauh berbeda.

3. Satu sejarah, dua “rumah”

Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Kebingungan bermula pada 2020, ketika Taman Budaya Sumatera Utara secara administratif dipindahkan ke kawasan di Jalan Gatot Subroto.

Sejak itu, pusat kegiatan milik provinsi berada di Tapian Daya PRSU. Sementara gedung lama di Jalan Perintis Kemerdekaan dikelola pemerintah kota dan dikenal sebagai Taman Budaya Medan.

Hasilnya, satu sejarah kini terbagi dua lokasi. Yang di PRSU disiapkan dengan konsep dan fasilitas lebih modern. Sedangkan gedung lama tetap hidup sebagai ruang latihan dan berkumpul komunitas seni, terutama karena posisinya yang strategis di tengah kota.

4. Kawah Candradimuka Seniman Top

Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Meski terlihat sederhana, gedung lama Taman Budaya pernah menjadi “kawah candradimuka” bagi banyak pelaku seni. Di sinilah berbagai kelompok teater, penari, mahasiswa seni dan sastrawan mengasah kemampuan mereka.

Pada era 1980-1990-an, kawasan ini nyaris tak pernah sepi. Siang hingga malam diisi latihan, diskusi, pameran, dan pertunjukan. Dari ruang-ruang inilah lahir generasi seniman yang kemudian menyebar ke berbagai daerah, membawa semangat berkesenian Medan ke tingkat nasional.

5. Gedung Tua yang Menolak Dilupakan

Taman Budaya Kota Medan (Mangara Wahyudi)

Dalam beberapa tahun terakhir, gedung lama kerap diterpa isu pengalihan fungsi karena nilai ekonominya yang tinggi. Wacana penjualan hingga pembangunan komersial sempat muncul berulang kali.

Namun para seniman memilih bertahan. Meski fasilitas minim dan kondisi bangunan tak selalu ideal, mereka tetap berkegiatan di sana. Aksi protes dan advokasi pun beberapa kali digelar. Bagi mereka, Taman Budaya adalah simbol ruang hidup seni yang harus dijaga.

Di balik cat dinding yang mulai pudar, Taman Budaya Sumatera Utara menyimpan ribuan cerita, tentang latihan yang melelahkan, obrolan panjang selepas pentas, dan harapan-harapan kecil yang tumbuh di antara panggung dan ruang kelas seni. Tempat ini mengingatkan bahwa Medan bukan hanya dipandang hiruk-pikuk kota atau kulinernya, tetapi juga tentang denyut kebudayaan yang terus berusaha bertahan.

Entah datang ke gedung lama di Jalan Perintis untuk merasakan nuansa nostalgianya, atau ke kawasan PRSU untuk melihat wajah barunya, satu hal yang tetap sama dan terasa, bahwa seni lokal hidup dari kehadiran penontonnya. Datang, menonton, dan meramaikan pertunjukan, itulah cara paling sederhana menjaga warisan ini tetap bernapas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team