Medan, IDN Times- PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) melakukan groundbreaking Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit-alumina–aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada 6 Februari 2026 lalu. Proyek ini merupakan bagian dari upaya percepatan hilirisasi mineral nasional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta selaras dengan kebijakan hilirisasi pemerintah.
3 Kelebihan Fasilitas Terintegrasi Bauksit-Alumina-Aluminium Mempawah

1. Menekan ketergantungan impor
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita, mengatakan pembangunan fasilitas ini bertujuan memperkuat kemandirian industri aluminium nasional dan menekan ketergantungan impor.
“Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery dilakukan untuk meningkatkan daya saing dan membangun rantai pasok aluminium terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujar Melati.
2. Kapasitas produksi alumina domestik akan mencapai 2 juta ton
Fasilitas di Mempawah terdiri dari Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. SGAR Fase 2 memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dan dibangun di area yang sama dengan SGAR Fase 1 yang juga berkapasitas 1 juta ton per tahun.
Dengan tambahan tersebut, kapasitas produksi alumina domestik akan mencapai 2 juta ton per tahun. Kebutuhan bijih bauksit diperkirakan sebesar 6 juta ton per tahun yang dipasok dari wilayah Izin Usaha Pertambangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) di Kabupaten Mempawah dan Landak.Pengelolaan SGAR dilakukan oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak perusahaan Inalum dan Antam
3. Diprediksi meningkatkan PDB Rp71,8 triliun dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja
Selain refinery, proyek ini juga mencakup pembangunan Smelter Aluminium dengan kapasitas produksi 600 ribu ton per tahun. Seluruh produksi aluminium dari fasilitas tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan tambahan ini, total kapasitas produksi aluminium Inalum, termasuk dari Smelter Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara, akan mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun.
Pasokan listrik untuk smelter aluminium kedua akan berasal dari PT Bukit Asam Tbk. Proyek ini ditetapkan sebagai bagian dari Program Strategis Nasional dengan total investasi sebesar Rp104,55 triliun atau setara USD 6,23 miliar.
Secara ekonomi, proyek ini diproyeksikan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp71,8 triliun per tahun dan menambah penerimaan negara sekitar Rp6,6 triliun per tahun. Selain itu, pembangunan dan operasional fasilitas diperkirakan menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.