Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang hilang setelah longsor menerjang desa yang berlokasi di perbukitan tersebut, pada November 2025 lalu. (Dok. Junaidin Zai)
Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang hilang setelah longsor menerjang desa yang berlokasi di perbukitan tersebut, pada November 2025 lalu. (Dok. Junaidin Zai)

Intinya sih...

  • Empat Warga Sempat Terjebak

  • Banjir kembali terjadi karena lambatnya pemulihan pasca bencana 2025

  • Banjir berulang tak lepas dari kondisi bantaran sungai yang belum dibenahi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tapanuli Tengah, IDN Times- Untuk ketiga kalinya sepanjang periode 2026, banjir bandang kembali menerjang banyak titik di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Di tengah trauma yang belum pulih sejak bencana pada November 2025 lalu, warga kini menghadapi kecemasan apabila hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Pada Senin, 16 Februari 2026, Tapteng kembali diterjang banjir bandang setelah hujan deras mengguyur seharian. Rini Lorensa Sinaga (23), warga Kecamatan Tukka, saat itu berada di tempat saudara usai huniannya hancur diterjang bahala November 2025 lalu.

Katanya, hujan deras mulai turun sekitar pukul 12.00 WIB dan cepat membuat aliran sungai meluap. Dalam waktu singkat, debit air sungai meningkat drastis hingga menutup beberapa jalur darurat yang sejak bahala November telah menjadi akses vital warga perbukitan.

Sementara di daratan lebih rendah, tepatnya di kawasan gereja GKPI Hutanabolon, tanggul darurat yang dibuat dari galian pasir sungai sekaligus diharapkan untuk menghalang luapan air, justru jebol diterjang bandang.

Terlebih lagi, sisa hantaman banjir pada 11 Februari 2026 turut memperparah kondisi jalur. Sejak itu, warga beralih ke sisi kiri sungai yang lebih tinggi. Kini, kedua sisi sama-sama terendam.

"Kecamatan Tukka sudah 3 kali banjir setelah bencana 25 November lalu. Akhir-akhir ini cemas kali kalau hujan deras turun," ucap Rini Lorensa Sinaga (23), warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, kepada IDN Times melalui saluran telepon, Kamis (19/2/2026).

Pendataan untuk hunian sementara (huntara) disebut telah dilakukan, namun belum ada kejelasan realisasi. Di tengah ketidakpastian itu, warga berharap ada solusi permanen terhadap akses perbukitan yang terputus sejak bencanaakhir 2025.

1. Empat Warga Sempat Terjebak

Kondisi jalan rusak di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, setelah dihantam tanah longsor pada November 2025 lalu. (Dok.Junaidin Zai)

Bagi warga perbukitan, jalur sungai adalah akses tercepat. Jika melalui jalan utama yang rusak, perjalanan bisa memakan waktu seharian. Melalui jalur sungai, warga biasanya hanya membutuhkan dua hingga empat jam berjalan kaki, bahkan lima sampai delapan jam untuk kampung terjauh seperti Desa Saur Manggita.

"Semua jalan rusak setelah bencana November 2025 itu," ucap Nova Sari Ayu Sitompul, warga Desa Sigiring-giring, Tukka.

Sedikitnya empat warga dilaporkan sempat terjebak ketika air tiba-tiba membesar. Satu di antaranya adalah adik Nova yang sedang membawa hasil kebun. Tiga lainnya merupakan warga Desa Saur Manggit, yang hendak turun dengan sepeda motor.

“Mereka ketemu di pertengahan jalan. Air sudah naik. Sekarang belum bisa lewat,” katanya.

Dia menduga banjir yang kembali terjadi tak lepas dari lambatnya pemulihan pascabencana 2025. Material sisa longsor dan sedimen di alur sungai dinilai belum sepenuhnya dibersihkan sehingga mempersempit aliran air.

“Kalau hujan deras sedikit saja, langsung naik,” ujar Nova.

Sepanjang periode 2026, Tapanuli Tengah sudah tiga kali diterjang banjir. Kondisi itu memperpanjang kecemasan para penyintas yang sebagian masih tinggal di rumah sewa atau menumpang di rumah kerabat.

Pendataan untuk hunian sementara (huntara) disebut telah dilakukan, namun belum ada kejelasan realisasi. Di tengah ketidakpastian itu, warga berharap ada solusi permanen terhadap akses perbukitan yang terputus sejak bencana akhir 2025.

2. Tanggul Darurat Jebol

Kondisi Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Desember 2025 lalu. (Dok.Junaidin Zai)

Warga menilai banjir berulang tak lepas dari kondisi bantaran sungai yang belum sepenuhnya dibenahi. Paten Sidabutar, seorang pendeta di Gereja HKBP Hutanabolon, Tukka, mengatakan tanggul darurat yang dibangun pascabanjir sebelumnya belum cukup kuat menahan arus.

“Tanggulnya dari pasir yang dikorek dari sungai juga. Jadi kalau hujan deras, jebol lagi,” ujarnya.

Menurutnya, pada banjir 11 Februari lalu, air datang dari tiga titik—dua dari badan jalan dan satu dari sungai. Sementara pada banjir terbaru, air dominan meluap dari sungai setelah tanggul kembali rusak.

Ia juga menyebut material kayu sisa banjir November 2025 yang belum sepenuhnya dibersihkan kembali terbawa arus. Tumpukan kayu tersebut memperparah aliran air saat hujan deras mengguyur wilayah perbukitan.

“Kalau hujan dari arah perbukitan terus-menerus, airnya pasti besar. Itu yang mendorong ke bawah,” katanya.

3. Trauma warga belum pulih

Warga Desa Sigiring-giring, Kecamatan Tukka, mengumpulkan batu untuk perbaiki akses jalan menuju desa mereka. (Foto Junaidin Zai)

Banjir yang kembali terjadi memperpanjang trauma warga. Sebagian penyintas masih tinggal menumpang di rumah kerabat atau menyewa tempat tinggal sementara karena hunian mereka rusak pada bencana November 2025.

Pendataan untuk hunian sementara (huntara) telah dilakukan, namun warga mengaku belum melihat realisasi pembangunan secara menyeluruh.

“Kalau sudah hujan deras, kami langsung waspada. Takut kejadian besar terulang lagi,” kata Rini.

Jalur sungai belum bisa dilalui kendaraan, sementara warga memilih bertahan di lokasi aman sambil memantau ketinggian air.

Diketahui, banjir yang pertama dalam periode 2026, terjadi pada pada Jumat, 2 Januari. Akibatnya, sejumlah bantuan logistik yang sempat disimpan para penyintas sebelumnya, kini terendam dan hanyut dibawa banjir.

Paten Sidabutar, menuturkan jika ketinggian air pada saat itu, diperkirakan mencapai 1,5 meter.

“Hampir semua rumah masuk air. Yang dulunya tidak kena, sekarang kena lagi. Jadi sembako yang disimpan turut hanyut,” katanya.

Saat itu, air merendam hampir seluruh hunian warga. Bahkan, kawasan yang sebelum tidak terkena, kini justru diterjang banjir.

Kata Paten, hujan mulai turun sejak siang sekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa saat kemudian air kemudian naik dan merendam rumah-rumah warga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team