Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
28 Tahun Reformasi, Cerita Gerakan Mahasiswa di Medan hingga Soeharto Lengser
Wikimedia.org/ The Office of the Vice President of the Republic of Indonesia
  • Gerakan mahasiswa di Medan pada Mei 1998 berlangsung masif, dipicu tuntutan agar Soeharto turun dari jabatan presiden setelah 32 tahun berkuasa.
  • Aksi unjuk rasa dilakukan di berbagai titik kota dan mendapat dukungan masyarakat yang turut membantu logistik serta menyemangati perjuangan mahasiswa.
  • Dadang Darmawan Pasaribu mengenang semangat moral gerakan 1998 yang kini memudar karena dominasi kepentingan politik dalam pergerakan mahasiswa masa kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1997

Gelombang protes terhadap rezim Soeharto mulai bergejolak. Dadang Darmawan Pasaribu menjabat Ketua Umum Badko HMI Sumut dan memimpin konsolidasi aksi mahasiswa.

awal Mei 1998

Gelombang besar unjuk rasa mulai terlihat di Medan. Aksi dilakukan hampir setiap hari di berbagai titik kota.

18 Mei 1998

Gelombang unjuk rasa merebak di seluruh Indonesia, termasuk Medan. Mahasiswa menuntut Soeharto turun dari jabatan presiden.

21 Mei 1998

Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah 32 tahun berkuasa. Mahasiswa di Medan merayakan kabar tersebut dengan euforia di pusat kota.

setelah Mei 1998

Unjuk rasa tetap berlangsung menentang kebijakan pemerintah dan penolakan terhadap kepemimpinan Habibie yang dianggap kelanjutan rezim lama.

20 Oktober 1999

Bacharuddin Jusuf Habibie digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui sidang MPR hasil Pemilu 1999.

kini

Gerakan mahasiswa dinilai kehilangan ruh moralnya dan lebih didominasi kepentingan politik. Dadang berharap gerakan moral dapat kembali diperkuat meski kini dianggap sulit terwujud.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Tanggal 18 Mei 1998, atau tepat 28 tahun lalu, gelombang unjuk rasa di Indonesia merebak. Tuntutan agar Soeharto lengser keprabon madeg pandhito atau turun dari tahta presiden menjadi pemicunya.

Unjuk rasa besar-besaran juga terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Mahasiswa kompak melakukan unjuk rasa di mana-mana. Aksi unjuk rasa dilakukan secara masif sebulan penuh selama Mei 1998.

Beberapa kerusuhan juga tak dapat terelakkan. Baik bentrok antara mahasiswa dengan aparat kemanan, atau pun peristiwa penjarahan di pusat kota yang dilakukan masyarakat.

Hingga pada akhirnya Soeharto pun lengser 21 Mei 1998. Menjadi momen tak terlupakan bagi para mahasiswa dan juga tokoh gerakan didalamnya.

Dadang Darmawan Pasaribu, tokoh gerakan mahasiswa yang terlibat aktif pada 1998 silam berbagi cerita. Bagaimana dia merasakan unjuk rasa yang tak ada hentinya hingga kebahagiaan saat Soeharto lengser menjadi pengobat letih selama di jalanan.

Simak nih cerita lengkap dari Dadang yang juga akrab disapa Bang Haji itu:

1. Gelombang protes terhadap rezim Soeharto sudah mulai bergejolak sejak 1997

IDN Times/Sukma Shakti

Saat itu, Dadang menjabat sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara (Badko HMI Sumut). Mereka sepakat untuk melakukan unjuk rasa.

Konsolidasi antar kelompok gerakan mahasiswa sudah seperti menu makanan yang wajib ada setiap hari. Aksi unjuk rasa pun dianggap sebagai vitamin penambah stamina. Merasa rugi bagi Dadang dan kawan-kawan jik  tidak ikut dalam unjuk rasa.

Gelombang besar unjuk rasa mulai terlihat awal Mei 1998. Kata Dadang, gelombang besar itu sudah dibangun sejak setahun sebelumnya. 

“Dalam satu tahun terakhir unjuk rasa memang sudah dilakukan. Namun yang paling panas itu di  bulan Mei. Jadi tiada hari tanpa aksi,” kata pria yang kini menjabat Sekretaris MW KAHMI Sumut.

2. Sejumlah titik padat unjuk rasa hingga konsentrasi aparat yang terpecah

AFP/Kemal Jufri

Pria yang kini berprofesi sebagai Dosen di kampus swasta Kota Medan ini menceritakan, unjuk rasa terpusat di beberapa titik. Seputaran Gedung DPRD Sumut, Lapangan Benteng dan Lapangan Merdeka Medan menjadi titik yang dipadati pendemo.

Aksi unjuk rasa juga dilakukan di sejumlah kampus. Dengan banyaknya titik unjuk rasa membuat konsentrasi aparat keamanan terpecah.

Bentrokan semakin masif jelang Soeharto turun. Aparat kemanan lebih intens untuk menyisir kampus. Menindak siapapun yang berunjuk rasa.

3. Gerakan 1998 diparesiasi masyarakat, bahkan ada yang bantu dengan logistik

ilustrasi kerusuhan 1998 (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Kondisi di ibukota semakin memanas di ibukota Jakarta. Bahkan tensinya terasa sampai di Medan beberapa hari jelang Soeharto turun.

Dadang ingat betul, bagaimana saat itu mereka berkonsolidasi dalam jumlah yang cukup besar. Hingga mereka tak menyangka jika gerakan yang selama ini dibangun mendapat sambutan hangat masyarakat.

“Yang paling menarik, sepanjang yang saya jalani sejarah aksi, kami dulu dielu-elukan oleh masyarakat. Mereka membantu kami. Aksi untuk menurunkan Soeharto sudah diimpikan oleh masyarakat. Mereka mendukung dengan banyak cara, misalnya menyiapkan makanan dan minuman untuk massa,” ujar Dadang.

4. Tembakan gas air mata ibarat jadi cemilan, hingga jadi buronan intelijen

IDN Times/Abdurrahman

Tuntutan agar Sang Jenderal turun semakin masif. Masyarakat pun ikut bersuara dan meminta Soeharto turun dari tahta.

Suara desing senjata menjadi hal yang biasa saat Dadang berunjuk rasa.  Upaya pembubaran massa kerap dilakukan aparat. Paling sering menggunakan gas air mata.

Bagi Dadang, gas air mata itu ibarat cemilan. Terkadang dirindukan jika tidak muncul dalam unjuk rasa.

Di Kota Medan, memang tidak separah kejadian semisal Trisakti yng makan korban. Namun setiap mendengar ada korban yang jatuh, malah menjadi pecut semangat Dadang Cs berjuang di lapangan.

Selain gas air, gerakan mahasiswa kerap diteror intelijen. Jika dianggap menjadi pengganggu akan dicari. Kadang kala, gerakan mahasiswa juga disusupi intel.

“Sebagian besar mahasiswa dipukuli oleh aparat TNI pakai popor senjata. Ada yang sebagian kena gas air mata. Tapi itu semua hal yang biasa. Intinya kita tetap berjuang untuk rakyat,” kata Dadang.

5. Lengsernya Soeharto jadi babak baru gerakan hingga Habibie turun

wikipedia.org

Setelah 32 tahun berkuasa Soeharto lengser. Dia mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998.

Kabar itu sampai ke Kota Medan. Dadang bersama kelompok gerakan merayakan lengsernya soeharto. Padahal sebelum pengumuman itu  mereka sudah menyiapkan unjuk rasa besar-besaran.

“Jadi itu memang kabar yang membahagiakan. Kami  merayakannya. Ada  yang mandi di kolam tengah kota.  Pokoknya riuh sekali,” ungkap lulusan Departemen Ilmu Admpinistrasi Negara (Kini Administrasi Publik) FISIP USU itu.

Perjuangan tak selesai sampai di situ. Bacharuddin Jusuf Habibie,yang ditunjuk menggantikan Soeharto juga diprotes.

“Karena pergantian Soeharto ke Habibie dianggap tidak sesuai dengan masyarakat. Makanya kita anggap Habibie bagian dari Soeharto,” ujarnya.

Setelah Mei, unjuk rasa rutin dilakukan. Menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Hingga pada akhirnya Habibie pun digantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada sidang MPR lewat hasil Pemilu 1999 pada 20 Oktober 1999.

“Jadi sampai sidang istimewa MPR, kami terus berunjuk rasa. Menuntut pembentukan pemerintahan baru hingga penolakan Habibie,” pungkasnya.

6. Gerakan moral yang kini lenyap dimakan gerakan politik

Wikimedia.org/Pandusaksono

Sejak itu dinamika gerakan mengalami pasang surut. Hingga para tokohnya mulai terlibat dalam politik praktis.

Dadang juga menggarisbawahi soal gerakan mahasiswa saat ini. Menurutnya, gerakan mahasiswa sudah kehilangan ruh.

“Ada yang menguntungkan dari gerakan moral mahasiswa daripada gerakan politis yang saat ini mendominasi. Ketika mahasiswa memperkuat gerakan moral , dia masih berada di tengah konflik dan persoalan bangsa. Jadi tidak terjebak pada arus politik yang ada. Ketika 1998 gerakan moral lebih tinggi,” ungkapnya.

Saat ini dominasi gerakan politik yang malah menguasai gerakan mahasiswa. Sehingga gerakan moral semakin kabur.

“Kalau dulu akses kekuatan Parpol ditutup oleh mahasiswa. Jadi kita anti partai. Kalau sekarang kebalikannya,”

7. Mengembalikan gerakan moral seperti utopia belaka

Foto Antara/Dhoni Setiawan

Dadang berharap gerakan moral bisa dikuatkan. Namun pertanyaannya, siapa yang menguatkan gerakan moral itu.

“Karena hampir semua kekuatan gerakan di kampus sudah politis itu. Eksternal juga bisa  dikatakan politis. Kita nyaris gak punya gerakan moral yang berdiri di tengah. Hancur-hancuran ini sudah,” pungkasnya.

Editorial Team