Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
100 Hari Bencana Aceh: Nestapa Penyintas, Hidup Dari yang Tersisa
Seorang perempuan penyintas bencana bertahan di tenda pengungsian di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Seratus hari pascabanjir di Aceh Tamiang, ribuan penyintas masih hidup di tenda dan hunian darurat tanpa kepastian bantuan Dana Tunggu Harian maupun relokasi dari pemerintah.
  • Warga seperti Nurhayati bertahan hidup dengan membuat kue pesanan selama Ramadan, sementara sebagian lainnya membangun hunian sederhana dari kayu sisa banjir secara mandiri.
  • Relawan menilai pemerintah lamban menangani pemulihan; mereka mendesak percepatan bantuan, pembangunan hunian layak, serta program ekonomi alternatif agar penyintas bisa bangkit berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1986

Desa Sekumur diterjang banjir besar yang menyebabkan kerusakan parah dan menjadi salah satu alasan warga ingin direlokasi.

1996

Sekumur direlokasi untuk pertama kalinya setelah banjir besar melanda dan menghancurkan perkampungan.

2006

Sekumur kembali direlokasi akibat banjir yang meluluhlantakkan desa, menjadi relokasi kedua dalam sejarahnya.

26 November 2025

Banjir besar dan longsor melanda Aceh Tamiang, termasuk Desa Sekumur. Ratusan rumah hilang dan ribuan warga mengungsi.

kurang dua bulan lalu

Warga Sekumur bermusyawarah membahas wacana relokasi desa ke lokasi baru, namun belum ada tindak lanjut dari pemerintah.

7 Maret 2026

Seratus hari pascabencana, warga seperti Nurhayati masih hidup di tenda pengungsian dan bergantung pada bantuan relawan di Aceh Tamiang.

9 Maret 2026

Koordinator RAWANTARA menyoroti lambannya penanganan pascabencana oleh pemerintah Aceh dan menuntut percepatan pemulihan serta bantuan bagi penyintas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seratus hari pasca banjir dan longsor di Aceh, ratusan warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang masih hidup di pengungsian dengan kondisi ekonomi sulit dan belum menerima bantuan resmi pemerintah.
  • Who?
    Penyintas seperti Nurhayati dan sekitar 272 keluarga di Desa Sekumur, serta relawan dari RAWANTARA yang membantu pemulihan. Pemerintah daerah disebut belum menyalurkan Dana Tunggu Harian maupun hunian sementara.
  • Where?
    Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Wilayah ini termasuk zona merah rawan bencana dan sebelumnya beberapa kali mengalami relokasi akibat banjir besar.
  • When?
    Bencana terjadi pada 26 November 2025. Laporan kondisi terkini disampaikan pada awal Maret 2026, tepat seratus hari setelah kejadian banjir dan longsor melanda wilayah tersebut.
  • Why?
    Banjir besar membawa lumpur dan kayu menghancurkan rumah serta kebun warga. Hingga kini bantuan pemerintah belum terealisasi sehingga penyintas masih bergantung pada relawan untuk bertahan hidup.
  • How?
    Warga membangun hunian darurat dari sisa kayu banjir, membuat kue untuk penghasilan tambahan, berbagi bahan makanan antar keluarga, serta menunggu kepastian relokasi dan
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Aceh ada banjir besar yang bikin banyak rumah hilang. Sudah seratus hari, orang-orang masih tinggal di tenda. Ada ibu namanya Nurhayati, dia buat kue supaya bisa beli makan. Banyak relawan bantu mereka, tapi uang dari pemerintah belum datang. Warga capek menunggu rumah baru dan tempat pindah belum pasti sampai sekarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah keterpurukan pascabencana, kisah warga Sekumur memperlihatkan keteguhan dan solidaritas yang luar biasa. Nurhayati dan keluarganya tetap berusaha mandiri dengan membuat kue pesanan, sementara warga lain memanfaatkan kayu sisa banjir untuk membangun hunian sederhana. Dukungan relawan yang terus hadir menumbuhkan semangat kebersamaan dan harapan di tengah ketidakpastian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sudah 100 hari pasca bencana banjir dan longsor di Aceh
Warga masih hidup di pengungsian
Seolah ditinggalkan,
Pemerintah dinilai abai,
Nasib warga tanpa kepastian

Aceh Tamiang, 7 Maret 2026

Di selasar bertenda biru itu, Nurhayati terlihat sibuk mengayak tepung panir. Memisahkan bagian yang sudah menggumpal. Dengan beberapa anggota keluarga besarnya, Nurhayati merampungkan pesanan risoles dan kue lainnya dari kelompok relawan.

“Nanti sore ada acara buka puasa bersama di masjid. Mereka pesan kue. Warga di sini yang membuatnya,” kata Nurhayati, saat ditemui IDN Times.

Nurhayati menjadi salah satu dari 1.200 an penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada 26 November 2025 lalu. Kampung Sekumur hilang ditelan banjir yang membawa lumpur dan berkubik-kubik kayu itu.

Tepat 100 hari pasca bencana, Nurhayati bercerita soal kondisi mereka di Sekumur. Nurhayati sudah pasrah. Mereka hidup tanpa kepastian. Rumah mereka habis, pertanian yang jadi sumber penghidupan juga lebur bersama lumpur.

Di tengah nestapa sebagai penyintas, Nurhayati dan 272 keluarga lainnya di Sekumur mencoba bangkit. Nurhayati memilih menjadi pembuat kue di tempat usaha keluarganya. Kegiatan ini dilakukannya selama Ramadan.

“Kami membuat kue supaya ada uang jajan. Untuk beli – beli ikan. Kami kerja kalau ada pesanan kue. Kalau gak ada pesanan, tidak dapat uang,” kata Nurhayati.

Seperti wilayah lainnya di Aceh, belum ada perubahan berarti di Sekumur pasca banjir. Memang, kondisi kampung sudah lebih bersih. Gunungan kayu yang sempat mengepung kampung, sebagian besar sudah dibersihkan. Warga juga memanfaatkan kayu untuk membuat hunian sementara secara mandiri.

Bahala membuat kehidupan Nurhayati seolah terhenti. Selama 100 hari terakhir, keluarganya hanya bertahan hidup dari bantuan relawan.

“Kalau tidak ada relawan, mungkin kami akan kelaparan,” kata Nurhayati.

Selain dari relawan, Nurhayati juga urunan dengan beberapa keluarganya. Mereka hidup secara komunal.

“Jadi kalau satu ada makanan, nanti dibagi bersama. Saling melengkapi kekurangannya,” kata Nurhayati.

Nurhayati pun bercerita soal kehidupannya selama 100 hari terakhir. Mereka mengalami kesulitan ekonomi. Dia nyaris putus asa. Selain harus memenuhi kebutuhan rumah tangga, dia juga harus membiayai sekolah anaknya. Satu anaknya hendak masuk ke SMA. Si sulung tengah berkuliah di semester tiga pada salah satu perguruan tinggi. Sementara laki-laki yang bungsu masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD).

“Kami belum tahu lagi pun entah cemana ceritanya. Ada rezeki bisa sekolah, kalau tidak. Belum tahu lagi,” katanya.

Janji bantuan dana yang belum ditunaikan

Penyintas banjir Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, memperbaiki rumahnya secara mandiri, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Sebelum bahala, Nurhayati menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Mereka menanam sawit. Meski kebunnya tidak luas, hasil penjualan sawit cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Mereka juga menanam padi darat untuk kebutuhan konsumsinya. Kebun mereka hancur seluruhnya.

“Sudah ada rencana untuk memperbaiki. Tapi belum tahu kapan. Biayanya juga tidak ada. Kalau pun menanam lagi, menunggu hasilnya pasti akan lama,” katanya.

Hari ke hari setelah bencana dilewati, Nurhayati bergantung pada donasi relawan. Dia bersyukur, banyak relawan yang menaruh perhatian untuk Desa Sekumur.

Namun, Nurhayati masih menunggu janji dari pemerintah soal Dana Tunggu Harian (DTH). Karena sampai saat ini mereka tidak mendapat kepastian. Mereka belum mendapatkan keputusan soal Hunian Sementara (Huntara), apalagi Hunian Tetap (Huntap).

Dalam penanganan bencana, pemerintah membuat skema DTH sebesar Rp600 ribu per Kepala Keluarga (KK)/bulan bagi penyintas yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau hilang. Di Desa Sekumur, hampir 100 persen rumah-rumah warga hilang digulung banjir. “Sudah 100 hari, belum ada penerima uang. Padahal itu butuh sekali. Apa lagi mau Lebaran juga,” imbuhnya.

Nurhayati paham betul, jika kelak relawan akan semakin berkurang bahkan habis. Sekarang saja, jumlahnya sudah tidak sebanyak di masa bulan pertama pascabanjir.

“Setelah Lebaran nanti kami gak tahu lagi. Kalau sekarang masih banyak. Nanti, kita gak tahu lagi. Makanya kami berterima kasih sekali selama ini ada banyak relawan yang membantu,” imbuhnya.

Warga masih bertahan di Sekumur, membangun mandiri hunian

Penyintas banjir Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, memperbaiki rumahnya secara mandiri, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Di tengah ketidakpastian itu, para penyintas mencoba bangkit. Mereka berupaya membangun kembali penghidupannya.

Sebagian penyintas mencoba membangun kembali hunian. Memanfaatkan kayu-kayu yang terbawa saat banjir. Jamak lainnya masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

“Kayu-kayu itu tidak dijual. Jadi digunakan warga untuk membangun huniannya,” ujar Selamat (50).

Selamat memang melihat ada perubahan berarti dengan kondisi desa mereka. Akses-akses yang sebelumnya tertimbun longsor dan kayu, kini sudah terbuka. Sehingga warga bisa membawa sisa-sisa hasil pertaniannya ke luar dari Sekumur.

“Yang masih terkendala itu memang tempat tinggal. Kemudian, ekonomi belum pulih benar. Kebun hancur semua,” kata Selamat.

Tantangan beratnya, para penyintas harus menjalani ibadah Ramadan dengan kondisi cukup berat. Setiap harinya mereka merasakan langsung teriknya matahari. Di dalam tenda pengungsian, penyintas merasakan hidup bagai di dalam oven.

Belum lagi kesulitan penyintas mendapatkan akses air bersih. Beberapa titik di Desa Sekumur memang sudah terdapat fasilitas sumur bor. Baik yang dibangun oleh pemerintah ataupun relawan.  Namun, itu belum mencakup keseluruhan desa. Beberapa warga mengaku masih harus mengangkut air dari satu-satunya masjid di sana.

Relokasi yang masih mandek

Progres pembangunan hunian sementara di Desa Sekumur Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Selamat, memang sudah mendengar soal rencana relokasi Desa Sekumur. Namun, tampaknya rencana itu mandek. Belum ada pembahasan lanjut dari pemerintah desa soal relokasi itu.

“Soal lokasi mau dipindahkan, kami hanya menunggu perintah dari Datuk (Kepala Desa). Soal lokasinya kami belum tahu,” kata Selamat.

Jamak warga ingin direlokasi dari Sekumur. Mengingat, Sekumur masuk pada zona merah potensi bencana. Meski sebagian lainnya mempertimbangkan soal mata pencaharian jika kelak direlokasi. Meski pun mereka khawatir, kelak bencana akan kembali lagi.

Selamat pun pesimis, hunian sementara yang kini dalam tahap pembangunan akan rampung dalam waktu cepat. Karena sampai saat ini hanya beberapa unit yang terbangun. Kondisinya juga dinilai tidak lebih baik dari hunian yang dibangun secara mandiri menggunakan kayu.

“Lebaran ini belum tentu siap itu,” katanya.

Informasi yang beredar, relokasi warga akan ditempatkan di lahan konsesi milik PT Seumadam. Luas lahan yang baru disepakati sekitar 15 hektare. Namun, kabar ini belum terkonfirmasi. IDN Times belum mendapatkan respons dari Kepala Desa Sekumur dan Camat Sekerak terkait wacana relokasi itu.

Sebenarnya, bukan kali ini saja Sekumur melakukan relokasi desa. Tercatat, sudah dua kali Sekumur direlokasi karena bencana banjir. Yakni pada 1996 dan 2006. Saat itu, banjir juga meluluhlantakkan perkampungan.

Sekumur memang langganan banjir. Kejadiannya juga periodik. Bahkan, sebelum 1996, Sekumur pernah diterjang banjir pada 1986. Kondisi ini juga yang membuat warga Sekumur ingin direlokasi. Banjir 2025, dianggap sebegai yang terparah dalam sejarah Sekumur.

Warga juga pernah bermusyawarah terkait wacana relokasi ini. Dalam pertemuan yang digelar kurang dua bulan lalu, masyarakat sepakat untuk melakukan relokasi. Sayang, hingga 100 hari pasca banjir, kabar itu pun seakan menguap. Tidak ada kejelasan dari pemerintah soal wacana relokasi.

“Namun sampai hari ini kami belum dapat kabar ataupun kepastian, kapan pindahnya ke kerelokasi ke perkampungan yang baru Yang diprogramkan oleh Datuk Penghulu dengan pemerintah daerah Jadi sampai hari ini kami belum ada jawaban yang pasti,” kata Razali, warga setempat.

Kelak pun akan terjadi relokasi, dia berharap pemerintah juga memikirkan sumber penghidupan masyarakat. Paling tidak, membantu pemulihan kebun-kebun yang sudah rusak. Setiap kali banjir, masyarakat selalu kembali memulai penghidupan dari kebun-kebun mereka dari nol kembali.

“Harapan kami, pemerintah bisa membantu membersihkan lahan yang kini masih menumpuk kayunya. Kemudian kami berharap dibantu bibit tanaman,” katanya.

Pemerintah abai, para penyintas jadi korban lagi

Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Kondisi buruknya penanganan bencana tidak hanya terjadi di sekumur. Banyak daerah di Aceh masih bernasib sama.

Kondisi ini menjadi sorotan Relawan Kemanusiaan Nusantara (RAWANTARA). Gabungan lintas organisasi yang fokus pada kegiatan penanganan kebencanaan berbasis kesukarelawanan. Selama tiga bulan terakhir, RAWANTARA aktif membantu penanganan bencana, khususnya di Desa Sekumur.

Koordinator RAWANTARA, Gumilar Aditya, menyayangkan kelambanan pemerintah dalam melakukan penanganan pascabencana di Aceh. Fase pemulihan berjalan begitu lambat. Kondisi ini membuat warga menjadi korban untuk kesekian kalinya.

“Negara tidak boleh membiarkan warga bertahan dengan kondisi serba terbatas. Negara punya tanggung jawab atas warganya. Dana Tunggu Harian, hunian sementara, dan relokasi bukan sekadar janji kebijakan, tetapi hak penyintas bencana. Ketika bantuan itu belum juga sampai setelah 100 hari, yang terjadi bukan sekadar keterlambatan administrasi, tetapi kegagalan negara memenuhi kewajibannya melindungi warganya,” kata laki-laki yang karib disapa Agum kepada IDN Times, Senin (9/3/2026).

Situasi di Sekumur memperlihatkan bahwa penanganan bencana berhenti pada tahap kedaruratan. Para penyintas kemudian seakan ditinggalkan. Dipaksa hidup mandiri di tengah kondisi ketidakpastian.

“Solidaritas masyarakat sipil memang penting, tetapi tanggung jawab utama pemulihan tetap berada pada pemerintah. Pemulihan pascabencana harus berjalan cepat, terencana, dan berpihak pada penyintas. Tanpa kejelasan relokasi, pemulihan lahan, dan bantuan ekonomi, masyarakat dipaksa memulai kembali kehidupannya dari nol dengan sumber daya yang sangat terbatas,” tegasnya.

Dorong ekonomi alternatif

Warga memanfaatkan pesanan kue selama Ramadan menjadi ekonomi alternatif di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Bagi RAWANTARA, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah. Pemerintah juga harus memastikan ada strategi pemulihan ekonomi bagi penyintas.

“Tanpa sumber penghidupan baru, masyarakat akan terus terjebak dalam kerentanan yang sama,” katanya.

Sumber ekonomi alternatif, lanjut Gumilar, menjadi salah satu solusi jangka menengah bagi para penyintas.

“Pemerintah perlu segera mendorong program ekonomi alternatif, mulai dari dukungan usaha kecil, bantuan modal, hingga pelatihan keterampilan bagi penyintas. Negara harus hadir dengan program ekonomi alternatif yang lebih terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Agum, penanganan pascabencana tanpa rencana pemulihan ekonomi hanya akan memindahkan kerentanan dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rencana relokasi juga disertai dengan akses mata pencaharian.

“Pemulihan ekonomi penyintas harus menjadi prioritas, bukan sekadar tambahan dalam penanganan bencana. Tanpa dukungan masyarakat yang kehilangan kebun dan pekerjaan akan membutuhkan waktu sangat lama untuk bangkit,” pungkasnya.

Editorial Team