Sudah 100 hari pasca bencana banjir dan longsor di Aceh
Warga masih hidup di pengungsian
Seolah ditinggalkan,
Pemerintah dinilai abai,
Nasib warga tanpa kepastian
Aceh Tamiang, 7 Maret 2026
Di selasar bertenda biru itu, Nurhayati terlihat sibuk mengayak tepung panir. Memisahkan bagian yang sudah menggumpal. Dengan beberapa anggota keluarga besarnya, Nurhayati merampungkan pesanan risoles dan kue lainnya dari kelompok relawan.
“Nanti sore ada acara buka puasa bersama di masjid. Mereka pesan kue. Warga di sini yang membuatnya,” kata Nurhayati, saat ditemui IDN Times.
Nurhayati menjadi salah satu dari 1.200 an penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada 26 November 2025 lalu. Kampung Sekumur hilang ditelan banjir yang membawa lumpur dan berkubik-kubik kayu itu.
Tepat 100 hari pasca bencana, Nurhayati bercerita soal kondisi mereka di Sekumur. Nurhayati sudah pasrah. Mereka hidup tanpa kepastian. Rumah mereka habis, pertanian yang jadi sumber penghidupan juga lebur bersama lumpur.
Di tengah nestapa sebagai penyintas, Nurhayati dan 272 keluarga lainnya di Sekumur mencoba bangkit. Nurhayati memilih menjadi pembuat kue di tempat usaha keluarganya. Kegiatan ini dilakukannya selama Ramadan.
“Kami membuat kue supaya ada uang jajan. Untuk beli – beli ikan. Kami kerja kalau ada pesanan kue. Kalau gak ada pesanan, tidak dapat uang,” kata Nurhayati.
Seperti wilayah lainnya di Aceh, belum ada perubahan berarti di Sekumur pasca banjir. Memang, kondisi kampung sudah lebih bersih. Gunungan kayu yang sempat mengepung kampung, sebagian besar sudah dibersihkan. Warga juga memanfaatkan kayu untuk membuat hunian sementara secara mandiri.
Bahala membuat kehidupan Nurhayati seolah terhenti. Selama 100 hari terakhir, keluarganya hanya bertahan hidup dari bantuan relawan.
“Kalau tidak ada relawan, mungkin kami akan kelaparan,” kata Nurhayati.
Selain dari relawan, Nurhayati juga urunan dengan beberapa keluarganya. Mereka hidup secara komunal.
“Jadi kalau satu ada makanan, nanti dibagi bersama. Saling melengkapi kekurangannya,” kata Nurhayati.
Nurhayati pun bercerita soal kehidupannya selama 100 hari terakhir. Mereka mengalami kesulitan ekonomi. Dia nyaris putus asa. Selain harus memenuhi kebutuhan rumah tangga, dia juga harus membiayai sekolah anaknya. Satu anaknya hendak masuk ke SMA. Si sulung tengah berkuliah di semester tiga pada salah satu perguruan tinggi. Sementara laki-laki yang bungsu masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD).
“Kami belum tahu lagi pun entah cemana ceritanya. Ada rezeki bisa sekolah, kalau tidak. Belum tahu lagi,” katanya.
