Medan, IDN Times – Real Estat Indonesia (REI) berkomitmen menghijaukan Indonesia dengan menanam 1 juta pohon di seluruh proyek perumahan yang akan merekan bangun di Indonesia. Untuk mewujudkannya, REI menggerakkan seluruh pengurus cabang di Indonesia untuk bekerjasama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Salah satu langkahnya konkretnya menanam 2 pohon di setiap rumah yang akan dibangun oleh REI. Di Provinsi Sumatera Utara, REI menggandeng Bank BTN Kantor Wilayah IV Sumatera, Bank Sumut dan bank lainnya untuk mewujudkan hal ini. Tahun ini saja REI Sumut dipasang target untuk membangun 25 ribu unit rumah.
Ini merupakan bagian mendukung program 3 juta rumah Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming dengan komposisi 2 juta rumah di perdesaan dan pesisir, serta 1 juta di perkotaan, pemerintah ingin membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
Target 25 ribu unit rumah tentu bukan tugas mudah. Tahun lalu saja REI Sumut hanya mampu membangun 11 ribu rumah dari target 20 ribu rumah. Ketua DPD REI Sumatera Utara, Rakutta Karo-karo optimistis tahun ini bisa memenuhi target 100 persen.
"Target dari Bapak Presiden Prabowo tahun ini adalah 350 ribu unit (MBR). Target realisasi dari Pak Presiden, di Sumut tahun ini kita harus mencapai 25 Ribu unit,” ujar Rakutta Karo-karo saat acara Silaturahmi dan Syukuran dengan stakeholder di Medan, 23 Januari 2026.
Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto mengatakan penanaman 2 pohon untuk setiap rumah adalah bagian tanggungjawab REI untuk bersedekah pada bumi dan masa depan anak cucu nanti. Karena perubahan iklim semakin nyata terjadi dan dirasakan oleh semua manusia.
Menurutnya selama ini REI dikenal sebagai penanam sejuta beton dan dianggap bertanggung jawab atas hilangnya hutan dan sawah untuk dibangun menjadi perumahan. Sehingga muncul inisiatif dari REI untuk lebih peduli terhadap lingkungan dalam semua proyek perumahan yang dibangun oleh REI di seluruh Indonesia.
"Ini lah cara REI untuk menunjukkan kepedulian dan tanggungjawab pada bumi dan pada masa depan, karena bumi ini milik anak cucu kita nanti. Saat ini kita sepakati, meski masih seporadis, di dalam proyek REI, tiap rumah harus ada 2 pohon, 1 halaman rumah dan 1 di fasilitas umum," terangnya saat melakukan penanaman pohon secara simbolik di Medan beberapa waktu lalu.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan Bank BTN Kantor Wilayah IV Sumatera, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Deli Serdang, jajarangan pengurus REI tingkat kabupaten kota dan lain sebagainya.
Menurutnya dengan program sejuta pohon ini bisa memberikan peran positif pada bumi dan pada lingkungan. Jika tahun ini REI membangun 25 ribu rumah, satu rumah ditanami dua batang pohon, maka total akan ada sekitar 50 ribu pohon yang akan ditanam oleh REI setahun mendatang. Belum termasuk pohon yang ditanam di fasilitas umum di dalam perumahan yang dibangun oleh REI.
"Bisa jadi hingga 60 ribu pohon yang ditanam REI Sumut tahun depan. Itu bisa mengurangi kekeringan, menjadi sumber air dan menjadi daerah resapan. Perumahan yang kita bangun juga jadi lebih estetik. Kalau rumah teduh dan sejuk, pasti masyarakat mau membelinya," ungkapnya.
GM Ciputra Tanjungmorawa, Taufik Hidayat mendukung program yang diusung oleh DPP REI. Jika REI merekomendasikan 1 rumah 2 pohon, maka Ciputra berkomitmen akan menerapkan 1 rumah 10 pohon. Menurut Taufik, Ciputra Tanjungmorawa akan membangun 1.500 rumah. Berarti bakal ada sedikitnya 15 ribu pohon di wilayah proyeknya.
"Itu belum termasuk pohon di ruang terbuka hijaunya," ungkapnya.
Hal ini sejalan dengan program Framework ESG bertajuk ‘The Future of Finance’ yang diusung PT BTN. Framework ESG ini memberikan panduan bagi Bank dalam mengelola dan menjalankan praktik bisnis yang berorientasi pada kinerja pembangunan berkelanjutan (SDG).
Framework ini menjadi landasan untuk mengelola aktivitas dan operasi bisnis serta proses pengambilan keputusan yang lebih komprehensif berdasarkan keberlanjutan, termasuk Pengelolaan produk dan jasa yang mendukung proses transisi menuju ekonomi rendah karbon serta menjaga keseimbangan sosial dalam membuka equal akses terhadap modal (Sustainable Finance);
Selain itu pengelolaan risiko perubahan iklim dan dampaknya pada kapasitas ekosistem (Climate Change and Ecosystems), pengelolaan dampak pada manusia dan komunitas serta masyarakat luas pada umumnya (People and Community).
Framework ini dilandasi pada kesadaran Bank dan pemangku kepentingan (Stakeholder Inclusiveness) di seluruh rantai nilai Bank (ESG in the value chain), yang saling terhubung dengan berpegang pada prinsip integrated GRC. Dimana BTN berfokus pada rencana ESG dalam sektor perumahan, untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang dan praktik perbankan yang bertanggung jawab.
Founder Sumatra rainforest Institute (SRI), Rasyid Dongoran menilai menanam pohon harus jadi budaya dan tren bagi semua kelompok usia dan perusahaan. Selama ini peduli lingkungan hanya dipahami sebatas tidak membuang sampah sembarangan, berhenti menggunakan botol dan kantongan plastik. Jika tidak diikuti dengan tren menanam pohon, maka usaha itu akan sia-sia, perubahan iklim, cuaca ekstrem akan datang dengan cepat.
“Menanam pohon di halaman rumah, bertani di halaman rumah, harus menjadi tren. Seperti pepatah Jepang, jika ingin satu kota bersih, setiap orang harus membersihkan halaman rumahnya. Begitu juga jika ingin satu kota hijau, maka setiap orang harus menanam pohon di halaman rumahnya terlebih dahulu,” ungkap Rasyid.
Selain itu pohon akar pohon membantu menahan tanah untuk mencegah erosi dan menyerap air hujan, sehingga mengurangi risiko banjir. Pohon juga akan menjadi rumah atau sarang bagi burung dan serangga bermanfaat.
“Berada di dekat pepohonan maka akan membantu mengurangi stres, kecemasan, serta bisa meningkatkan fokus dan produktivitas, ingat itu,” pungkasnya.
