Peserta lomba perahu naga saat mengayuh perahu dalam perlombaan di perairan Pelantar III Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Thennyfeliciano)
Seiring berjalannya waktu, lomba perahu naga di Tanjungpinang mengalami transformasi signifikan. Pada awalnya, acara ini bersifat sederhana dan terbatas pada komunitas Tionghoa.
Namun, seiring dengan meningkatnya interaksi dan integrasi budaya, perlombaan ini mulai melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk penduduk Melayu dan suku-suku lain di Tanjungpinang.
Pada dekade 1960-an, pemerintah setempat mulai melihat potensi lomba perahu naga sebagai daya tarik wisata.
Acara ini kemudian dikembangkan menjadi festival yang lebih besar dan terbuka untuk umum. Infrastruktur pun ditingkatkan, dengan penyediaan perahu naga yang lebih baik dan pengelolaan acara yang lebih profesional.
Memasuki era 1980-an dan 1990-an, lomba perahu naga di Tanjungpinang semakin populer dan dikenal luas. Pemerintah daerah melihat potensi besar dalam mengembangkan lomba ini sebagai atraksi wisata utama.
Berbagai upaya dilakukan untuk mempromosikan acara ini ke kancah internasional. Salah satunya adalah dengan mengundang tim-tim perahu naga dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand untuk berpartisipasi.
Promosi ini tidak sia-sia. Sejak saat itu, lomba perahu naga Tanjungpinang menjadi salah satu event budaya yang paling ditunggu-tunggu oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Setiap tahunnya, ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan keindahan dan kemeriahan acara ini. Hal ini berdampak positif pada perekonomian lokal, terutama di sektor pariwisata dan perdagangan.
"Mudah-mudahan ini terus membangun semangat kita untuk berkolaborasi, berkarya, dan meramaikan Kota Tanjungpinang dengan lebih banyak event-event yang kita gelar," tutup Ansar Ahmad.