Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengidap Kanker di Sumut Meningkat 2 Ribu Kasus dalam Setahun
Ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Medan, IDN Times - Sekretaris Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumatera Utara (Sumut), Siti Zahara Nasution menyebutkan ada sebanyak 20 jenis penyakit kanker yang tercatat selama 2022 hingga 2023. 

Jumlah pengidap kanker di Sumut terus meningkat, pada tahun 2022 ada 3.026 kasus dan tahun 2023 meningkat jadi 5.037 kasus. Artinya ada 2.011 kasus bertambah dalam kurun waktu setahun.

Adapun 20 jenis kanker tersebut yang sudah didata oleh YKI Sumut yaitu, kanker payudara, kanker paru, leukemia, kanker kelenjar getah bening, kanker hati dan saluran empedu, kanker ovarium, kanker rektum, kanker serviks, kanker jaringan ikat dan lunak, limfoma non-hodgkin, kanker kolon, kanker kulit, kanker kelenjar thyroid, kanker mulut, kanker kandung kemih, kanker nasofaring, kanker prostat, miom, kanker otak dan kanker tulang.

1. Jenis kanker payudara meningkat menjadi 848 kasus dari tahun sebelumnya

Cegah dini kanker payudara

Dikatakan Siti, dari 20 kasus kanker yang paling tinggi di Sumut adalah Kanker Payudara. Tercatat pada tahun 2022 masih 393 kasus dan tahun 2023 meningkat menjadi 848 kasus.

Kemudian dilanjut pada kanker paru tahun 2023 terdata 293 kasus dan tahun 2024 sebanyak 608 kasus. Leukemia tercatat tahun 2022 sebanyak 313 kasus dan tahun 2024 sebanyak 499 kasus.

Jenis kanker kelenjar getah bening tahun 2022 sebanyak 238 kasus, dan tahun 2023 ada sebanyak 343 kasus.

Selanjutnya, kanker hati dan saluran empedu tahun 2022 ada 144 kasus dan tahun 2023 meningkat hingga 255 kasus.

Sedangkan untuk jenis kanker ovarium tahun 2022 mencapai 203 kasus dan tahun 2023 ada sebanyak 240 kasus.

2. Data kanker pada miom tercatat menurun dalam setahun belakangan

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Kemudian jenis kanker rektum tahun 2022 ada sebanyak 121 kasus dan tahun 2023 mencapai 195 kasus.

Untuk jenis kanker serviks tahun 2022 sebanyak 174 kasus dan tahun 2023 mencapai 189 kasus. Jenis kanker jaringan ikat dan lunak tahun 2022 sebanyak 79 kasus, dan tahun 2023 mencapai sebanyak 150 kasus.

Kemudian jenis kanker Limfoma Non-Hodgkin pada tahun 2022 mencapai 69 kasus dan tahun 2023 ada sebanyak 125 kasus. Selanjutnya, jenis kanker kolon tahun 2022 ada sebanyak 97 kasus dan tahun 2023 meningkat menjadi 124 kasus.

Untuk jenis kanker kulit meningkat hingga 2 kali lipat yaitu dari 44 kasus menjadi sebanyak 121 kasus. Kanker kelenjar thyroid tahun 2022 ada sebanyak 57 kasus, dan tahun 2023 sebanyak 117 kasus 

Kanker mulut tahun 2022 sebanyak 57 kasus dan tahun 2023 meningkat sebanyak 114 kasus. Namun, untuk jenis kanker kandung kemih menurun dari 99 kasus menjadi 93 kasus.

Kanker nasofaring tahun 2022 mencapai  54 kasus dan tahun 2023 meningkat hingga 93 kasus. Kanker prostat tahun 2022 mencapai 24 kasus, dan tahun 2023 mencapai 92 kasus.

Kenaikan angka kasus Miom juga meningkat tinggi tahun 2022 terdapat 11 kasus, dan tahun 2023 menjadi 86 kasus. Sedangkan kanker otak angka kasusnya menurun tahun 2022 dari 97 kasus menjadi 76 kasus ditahun 2023.

Terakhir adalah jenis kanker tulang tahun 2022 mencapai 42 kasus tahun 2022, dan tahun 2023 menjadi 76 kasus.

Sementara itu, berdasarkan usia dari karakteristik penderita kanker 0 sampai 4 tahun meningkat dari tahun 2022 mencapai 102 kasus dan tahun 2023 ada sebanyak 143 kasus.

Usia 5 sampai 14 tahun, untuk tahun 2022 mencapai 155 kasus dan 299 kasus tahun 2023. Usia 15-24 tahun, untuk tahun 2022 sebanyak 176 kasus dan tahun 2023 sebanyak 301 kasus.

Lanjutnya, usia 25-44 ada sekitar 731 kasus dan meningkat tahun 2023 sebanyak 114 kasus. Usia 45-64 tahun 2022 ada 1.592 kasus dan tahun 2023 sebanyak 2.496 kasus.

Tarakhir, lebih dari usia 65 tahun jumlah tahun 2022 ada 450 kasus dan jumlah tahun 2023 ada 754 kasus.

Siti mengatakan bahwa, mayoritas penderita kanker berada pada rentang usia 25 sampai 64 tahun.

"Meningkatnya risiko kanker pada usia tersebut diakibatkan karena faktor genetik, gaya hidup dan semakin melemahnya sistem kekebalan tubuh seiring dengan bertambahnya usia," katanya pada IDN Times, pada Minggu (13/10/2024).

3. Cegah kanker dengan CERDIK

Ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Siti memberikan informasi kepada masyarakat, dengan cara mencegah kanker pada satu kata yaitu CERDIK.

C dengan makna Cek Kesehatan Secara Rutin. Seringkali kasus kanker dideteksi pada stadium lanjut, karena keterlambatan pasien mengetahui penyakit tersebut. Bahkan bisa juga, Cek kesehatan bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang, sehingga kondisi kesehatan tersebut dapat dipantau dan terus dijaga.

E dengan makna Enyahkan Asap Rokok. Asap rokok mengandung bahan-bahan kimia berbahaya, baik untuk si perokok (perokok aktif) maupun orang sekitar perokok (perokok pasif). Menurut penelitian, rokok merupakan faktor risiko terjadinya kanker paru.

R dengan makna Rajin Aktivitas Fisik. Aktivitas fisik atau yang lebih dikenal dengan kata “olahraga” dapat mencegah dan menurunkan risiko terkena kanker. Olahraga membuat badan sehat dan bugar. Rajin berolahraga diharapkan dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita, sehingga dapat mencegah tumbuhnya sel kanker.

D dengan makna Diet Seimbang. Maksud diet seimbang adalah makan beraneka ragam makanan dengan porsi yang seimbang dan tidak berlebihan. Dalam setiap porsi satu kali makan harus mengandung karbohidrat (seperti: nasi, kentang, singkong, ubi, jagung, dll), protein nabati (seperti: tempe, tahu, kacang-kacangan), protein hewani (seperti: daging ayam, daging sapi, ikan, telur), dan vitamin (seperti: sayuran dan buah).

I dengan makna Istirahat yang Cukup. Istirahat yang cukup dapat menjaga kesehatan dan meningkatkan daya kekebalan tubuh. Waktu istirahat yang diperlukan untuk manusia sekitar 7 jam dalam sehari.

K dengan makna Kelola Stres. Ketidakmampuan tubuh dalam mengelola stres dan berakibat menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Stres dapat dikelola melalui pendekatan manusia kepada Tuhannya, bercerita kepada pihak terdekat, konsultasi kepada psikolog, dan melakukan kegiatan yang dapat membuat hati menjadi senang dan tenang.

Editorial Team