Medan, IDN Times - Matahari telah condong ke barat. Teriknya juga telah berkurang seiring azan Ashar berlalu. Sementara sayup-sayup bacaan Kalamullah dari sejumlah masjid, masih terdengar di antara hiruk-pikuk kesibukan di Kota Medan. Sore itu, IDN Times berkesempatan bertemu dengan Rere, seorang transpuan yang kini aktif di sebuah komunitas bernama Persatuan Transpuan Sumatera Utara (Petrasu).
“Maaf ya kak telat. Tadi selesai tadarusan di rumah,” kata Rere membuka percakapan. Ia tampak sungkan dan merasa tidak enak sebab tahu telah memolorkan waktu dari jadwal yang telah dijanjikan di taman depan Stadion Teladan, masih dalam suasana Ramadan, April 2020 lalu.
Baginya tadarus dan ibadah lainnya harus diprioritaskan. Bahkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, ia berbagi ilmu agama dengan menjadi guru mengaji untuk adik dan anak-anak di sekitar rumahnya.
Rere pun mulai bercerita soal kisah hidupnya. Seperti apa? Berikut kisah Rere, Amek dan Candra. Proses melela bukan hal yang mudah bagi teman LGBTI yang berada di Kota Medan ini.