Nenek Mani, Suku Laut di Provinsi Kepri saat menunjukan Kajang buatannya (Dokumentasi IMA)
Relokasi ini bukan hanya sekadar perpindahan fisik bagi warga suku laut Tanjung Sauh. Ini adalah perubahan besar yang menyentuh akar kehidupan mereka, yang selama ini bertumpu pada laut dan tradisi maritim.
Di ujung pesisir Tanjung Sauh, di kampung suku laut Air Mas, hidup 46 keluarga yang kini berada di ambang perubahan besar.
Kehidupan mereka yang sudah lama bergantung pada laut, kini harus menghadapi kenyataan pahit relokasi, akibat PSN yang akan dimulai di pulau Tanjung Sauh ini.
Kaca menyebutkan bahwa sudah tinggal di Tanjung Sauh sejak berusia 8 tahun, ia menceritakan bagaimana sebagian rumah di kampung mereka telah menerima uang kompensasi.
"Uang paku itu sebagai ganti uang bangunan," katanya. Namun, nasib keramba-keramba yang menjadi sumber penghidupan mereka masih belum jelas. "Kami berharap ada penggantian untuk keramba-keramba ini," lanjutnya.
Suara-suara kekhawatiran tidak hanya datang dari Kaca. Seorang warga lain yang enggan disebutkan namanya juga menyuarakan kegelisahan serupa.
"Gimana lagi mau tidak mau harus pindah, gimana lagi duduk dalam duri. Yang penting bagi kami adalah tempat untuk menyimpan sampan. Tidak bisa speed atau sampan ditinggal di darat, nanti dicuri orang. Apalagi sekarang banyak pencurian mesin speedboat," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian ini, warga Tanjung Sauh juga mendengar kabar dari Ngenang, tempat relokasi yang direncanakan.
Banyak warga Ngenang dikabarkan menolak rencana pembangunan jalur kapal ke rumah relokasi. Hal ini menambah kekhawatiran mereka.
"Kami takut kehilangan pompong seperti yang pernah terjadi di Ngenang. Kami ingin tempat yang aman untuk menyimpan kendaraan laut kami," tuturnya.