Nada bicara Sunar agak meninggi saat petugas dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan sejumlah mitra menemuinya di lahan tempatnya biasa menggembala sapi, Rabu (2/2/2022) pagi. Laki-laki 40 tahun itu belum ikhlas, satu dari sembilan lembu miliknya dimangsa harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatrae) sehari sebelumnya, Senin (1/2/2022).
Sapinya ditemukan tinggal bangkai di perkebunan karet yang berada di Desa Batu Jongjong, Kecamatan Bahorok. Sunar mengungkapkan seluruh kekesalannya. Karena sapinya mati seekor, dia sudah merugi. Harusnya sapi yang mati akan dimilikinya. Lantaran selama ini dia berbagi hasil dengan pemilik lainnya karena sudah merawat sapi-sapi itu.
“Dimakan Mbanya --sebutan untuk harimau dari warga lokal-- sapinya. Saya hanya mendapat upah Rp2 ribu per hari. Kalau Bapak yang punya sapi bagaimana perasaan Bapak. Harusnya dapat satu ekor saya. Ini artinya setahun cuma kerja bakti,” kata Sunar.
Sunar hanya meminta supaya petugas bertindak cepat mengatasi konflik yang terjadi. Sementara waktu, Sunar tidak menggembalakan sapinya di lokasi itu. Dia tidak ingin sapinya dimakan lagi.
“Kalau aku yang mati gak apa. Sanggup rupanya pemerintah memberikan anak istriku makan?,” ujar laki-laki beranak 3 itu.
Sunar dan warga lainnya sempat ingin menangkap harimau itu dengan cara mereka sendiri. Namun dia berpikir, ada dampak hukum jika mereka melakukannya. Sehingga dia berharap, ada solusi bijak dari pemerintah.
“Kami menangkap tidak boleh. Tapi ternak kami terus terancam. Kalau kami mintanya ini segera ditangkap,” ungkap Sunar.
Palber Turnip, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V Bahorok Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) menenangkan Sunar. Dia mengajak Sunar berdialog.
“Kami turut prihatin dengan yang bapak alami. Kita akan bantu. Kami sedang mengupayakan solusi yang terbaik untuk kita semua. Tadi saya sudah berbicara dengan para mitra. Untuk sementara, kita upayakan membangun kandang untuk sapi bapak yang masih ada,” kata Palber.
