Rumah warga yang terdampak banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. (Dokumentasi warga untuk IDN Times)
Pemerintah Aceh mulai mengevakuasi warga di daerah yang masih terisolir akibat banjir dan longsor secara bertahap. Proses evakuasi terus dilakukan sejak Rabu (26/11/2025) malam dan diperluas ke sejumlah kabupaten yang mengalami dampak terparah.
Nasir mengatakan evakuasi pertama dilakukan di Pidie Jaya, yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Hingga Kamis (27/11/2025), sekitar 90 persen warga yang terjebak telah berhasil dipindahkan ke lokasi aman.
“Evakuasi terhadap masyarakat kita yang masih terisolir di beberapa lokasi, seperti di Pidie Jaya masih ada juga walaupun 90 persen sudah selesai dievakuasi, sudah ditempatkan di lokasi yang lebih aman,” kata Nasir.
“Sisa 10 persen lagi kemudian sudah juga dilakukan penyelesaian oleh Basarnas serta tim lainnya,” imbuhnya.
Setelah Pidie Jaya, tim evakuasi bergerak ke Bireuen yang hingga kini masih mengalami gangguan akses akibat putusnya sejumlah jalur utama. Proses evakuasi juga dilakukan bersamaan di Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.
“Kemudian kita akan bergeser ke Aceh Utara, walaupun kita juga sedang dievakuasi juga. Kemudian Aceh Timur, Langsa, dan Tamiang,” jelas Nasir.
Selain evakuasi, Pemerintah Aceh fokus membuka kembali jalur distribusi logistik yang terputus, terutama menuju Kabupaten Bener Meriah. Nasir mengatakan alat berat sudah dikirim ke lapangan dan ditargetkan mulai bekerja besok.
“Ini kita sudah mengirim alat berat, mungkin besok sudah mulai bekerja untuk membersihkan, kemudian menyambung beberapa lokasi yang terputus,” katanya.
Untuk mendukung percepatan konektivitas, Pemerintah Aceh juga menyiapkan jembatan bailey (jembatan rangka baja prefabrikasi) yang akan dipasang di titik kritis. Titik pertama berada di Bireuen, yakni di Gampong Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
“Karena bailey itu panjangnya sekitar 30 meter, jadi kita butuh tempat yang lebih pendek untuk bisa menyambung ini,” ujar Nasir.
Jika proses pemasangan berjalan lancar, jalur tersebut dapat segera digunakan untuk distribusi logistik dan mobilitas masyarakat dari Aceh Utara menuju Bireuen melalui Kuta Blang.
Pemerintah Aceh juga membuka akses menuju Bener Meriah melalui jalur Gunung Salak. PUPR Aceh bersama sejumlah pihak menurunkan enam unit alat berat yang akan mulai bekerja besok.
“Mudah-mudahan dalam beberapa waktu bisa segera kita selesaikan untuk membuka terisolir ini,” tutup Nasir.