Kelompok Tani Karya Mulia Bakti Aek Sirara Desa Sumuran, Tapsel. (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Pada awalnya lahan pertanian petani yang ada di hamparan Lubuk Tano terdapat beragam tanaman seperti padi, jagung, serta pisang. Setelah PTAR mendampingi koptan tersebut mayoritas saat ini seluruh hamparan yang ada di Lubuk Tano ditanami jagung pipil karena anggota Koptan Mulia Bakti merasakan manfaat dan keuntungan dari berbudidaya jagung pipil.
Pendampingan dari PTAR mulai dari cara berbudidaya yang tepat dengan melibatkan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) yang ada di Batangtoru dan petani diberikan dukungan berupa saprotan (sarana produksi pertanian).
“Hasilnya, jumlah produktivitas meningkat dari 1 ton per Ha menjadi 5-6 ton per Ha. Kemudian harga jual juga meningkat dari Rp2.300 per kg menjadi Rp3.300 per kg karena penjualan jagung pipil langsung ke pembeli akhir,” ujarnya, Selasa (13/9/2022).
Pada tahun 2017, Koptan Mulia Bakti membentuk Koperasi Karya Mulia Bakti sebagai wadah koptan untuk menjalankan usaha taninya. Mukson merangkap sebagai ketua koperasi.
Untuk mendukung keberadaan koperasi ini, PTAR memberikan stimulan berupa pendirian fasilitas gudang, lantai jemur, mesin pipil, jalan rabat, saung tani dan beberapa bantuan saprotan lainnya.
Kini koperasi sudah memiliki 33 anggota dengan total luas lahan keseluruhan milik anggota berkisar 32,5 Hektare. Semuanya bertani jagung. Bahkan hasil panen jagung kelompok tani ini pernah dijual ke PT Charoen Pokphand Indonesia.
Namun karena pola pembayarannya yang kurang pas dan membutuhkan modal yang besar juga untuk biaya kirim, akhirnya penjualan ke PT Charoen Pokphand dihentikan.