Toba, IDN Times - Seruan penutupan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) kembali mencuat ke publik beberapa bulan terakhir. Seruan ini disuarakan oleh kelompok masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga Ephorus HKBP.
Mereka menilai keberadaan PT TPL telah memicu berbagai bentuk krisis sosial dan ekologis mulai dari rusaknya alam dan keseimbangan ekosistem, rentetan bencana ekologis seperti banjir bandang yang berulang kali terjadi, tanah longsor, pencemaran air, tanah, dan udara, perubahan iklim.
Seperti diketahui, bencana banjir bandang telah berulang kali menerjang kota wisata Parapat, Kabupaten Simalungun, yang menjadi gerbang kawasan Danau Toba. Kota Parapat dikelilingi konsesi hutan eukaliptus milik PT TPL. Teranyar, banjir bandang melumpuhkan Parapat pada Maret lalu.
Pihak TPL sudah berulang kali membantah tudingan TPL penyebab kerusakan ekologis dan sosial. Justru sebaliknya, TPL, mengklaim selama ini memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan sosial di wilayah operasionalnya. Namun itu dianggap belum cukup.
Pihak penentang menganggap keberadaan TPLmenjadi pemicu konflik antara masyarakat dan PT TPL. Konflik itu ditandai dengan jatuhnya korban jiwa dan luka, hilangnya sebagian lahan pertanian produktif, rusaknya relasi sosial antarwarga, hingga akumulasi kemarahan yang tidak mendapat saluran demokratis karena ketakutan.
Lantas apakah memungkinkan TPL ditutup secara tiba-tiba dan apa efek bola saljut yang bakal ditimbulkan? Yuk simak wawancara IDN Times dengan Komisaris Independen TPL, Joni Supriyanto.