Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_5592.jpg
Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

Intinya sih...

  • Harga beras turun sekitar Rp500 hingga R1.000 per Kg selama bulan Agustus

  • Penurunan harga beras tidak serentak terjadi untuk semua jenis beras dan belum merata di semua pedagang

  • Tantangan pengendalian harga beras saat ini lebih pada bagaimana pemerintah mengelola cadangan berasnya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Harga Gabah Kering Panen (GKP) di wilayah Sumut selama bulan Agustus alami penurunan yang cukup signifikan dari kisaran Rp8.300 per Kg di bulan Juli, menyentuh level terendahnya di kisaran harga Rp6.800 per Kg pada bulan Agustus. Namun, dampak dari penurunan harga gabah tersebut belum begitu signifikan menekan harga beras di level konsumen.

Jika membandingkan HPP (harga pokok produksi) dari GKP Rp8.300 dengan GKP Rp6.800 per Kg. Maka harga di level konsumen itu bisa bergeser dari kisaran Rp16.282 hingga Rp16.682 per Kg, menjadi Rp13.472 hingga Rp13.872 per Kg.

Mengacu kepada realisasi harga beras PIHPS (pusat informasi harga pangan strategis) di propinsi sumatera utara, untuk jenis medium sejauh ini (25/08/2025) ditransaksikan dalam rentang Rp14.950 hingga Rp15.300 per Kg.

1. Harga beras memang mengalami penurunan sekitar Rp500 hingga R1.000 per Kg selama bulan Agustus

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

Pengamat ekonomi, Benjamin Gunawan mengatakan bahwa harga beras memang mengalami penurunan sekitar Rp500 hingga R1.000 per Kg selama bulan Agustus. Namun, penurunan harga beras di level konsumen masih lebih rendah dibandingkan dengan penurunan pada harga gabah.

"Harga beras sejauh ini turun dibawah 10 persen di bulan Agustus, sementara itu harga gabah sudah turun lebih dari 15 persen dari level tertingginya di bulan Juli," katanya, pada Senin (25/8/2025).

2. Penurunan harga beras juga tidak serentak terjadi untuk semua jenis beras dan belum merata di semua pedagang

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sedangkan penurunan harga beras juga tidak serentak terjadi untuk semua jenis beras, dan belum merata di semua pedagang. Sehingga, masih bisa ditemukan dengan mudah pedagang yang masih bertahan dengan harga beras yang lama. Semestinya pada bulan September nanti, harga beras di level konsumen akan berubah secara merata dan lebih menggambarkan titik keseimbangan baru.

"Saya menilai penurunan harga beras yang terbilang lamban saat ini perlu ditelusuri lebih jauh. Terlebih pemerintah mengklaim telah mendistribusikan beras SPHP ke pasar. Dimana klaim pemerintah ditambah dengan musim panen raya semestinya akan memicu penurunan harga yang lebih cepat. Karena kunci untuk menekan harga saat ini adalah pasokan dan durasi distribusinya," jelasnya.

3. Tantangan pengendalian harga beras saat ini lebih pada bagaimana pemerintah mengelola cadangan berasnya

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sejauh ini beras SPHP memiliki harga yang paling kompetitif dibandingkan dengan harga jenis beras medium lainnya. Yakni, harga sekitar Rp13.100 per Kg. Bila ditambah dengan durasi yang tinggi, maka demand beras tidak hanya akan terfokus kepada perusahaan penggilingan saja. Namun juga, saluran distribusi lebih dari Bulog pada akhrinya juga akan membanjiri pasokan beras di pasar.

Berdasarkan dari informasi yang dihimpun, Bulog Sumut berencana mendistribusikan beras SPHP 15.700 ton ke masyarakat. Ditengah musim panen padi di wilayah Sumut dimana harga berasnya juga dalam tren turun, beras SPHP Bulog potensial untuk menekan harga beras lebih cepat. Terlebih jika jumlah dan durasinya mampu dipertahankan di setiap bulan.

"Karena menurut hemat saya tantangan pengendalian harga beras saat ini lebih pada bagaimana pemerintah mengelola cadangan berasnya. Polemik harga beras tidak akan terjadi bila serapan beras di pasar tidak mengandalkan sepenuhnya produksi dari petani. Karena di tahun 2024 harga beras yang tidak bergejolak (naik) sebagian kebutuhannya juga didatangkan dari beras SPHP yang diimpor dari negara lain," pungkas pengamat ekonomi ini.

Editorial Team