Ilustrasi gelombang tsunami. (IDN Times/Sukma Shakti)
Bim Harahap menambahkan wilayah mangrove tersebut berada di Areal Penggunaan Lain (APL), sehingga memungkinkan menjadi perkebunan termasuk kelapa sawit.
Padahal fungsi mangrove di pesisir pantai barat Madina ini sangat strategis, terutama pasca terjadinya Tsunami tahun 2004 lalu, salah satu kecamatan di pesisir barat madina ini bahkan menjadi salah satu wilayah terdampak Tsunami tersebut.
"Saya memandang jangka panjang, pertama masyarakat di sana adalah nelayan, mangrove memberi banyak fungsi ekologis terutama sektor perikanan sebagai tempat pemijahan ikan, habitat ikan, kepiting dll, sehingga ini harus dipertimbangkan, apa semua masyarakat di sana harus dipaksa bekerja di perkebunan sawit?" ujarnya
Kedua, kata Bim, adalah soal mitigasi dan antisipasi bencana, pantai barat madina itu berada satu garis pantai dengan Padang hingga Aceh, wilayah ini punya riwayat gempa laut dan tsunami.
Mangrove sendiri terbukti menjadi barrier (pagar) alami menekan kekuatan gelombang tsunami, bahkan ini telah dibuktikan di Jepang di mana wilayah yang ekosistem mangrovenya baik mampu meredam kekuatan gelombang tsunami hingga 50 persen.
"Madina pernah menyusun dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), jika berpatokan pada dukumen ini jelas-jelas bahwa areal pesisir menjadi wilayah yang diamanatkan untuk dilindungi sebagai buffer tsunami. sehingga sangat wajar masyarakat memberi respons terhadap dugaan pengrusakan mangrove tersebut" tutupnya.