Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Massa membakar pos polisi di Medan, Jumat (29/8/2025) (IDN Times/Prayugo Utomo)
Massa membakar pos polisi di Medan, Jumat (29/8/2025) (IDN Times/Prayugo Utomo)

Intinya sih...

  • Kabid Humas Polda Sumut menyebut unjuk rasa chaos karena massa cair atau para anarko yang memprovokasi aksi.

  • Sebanyak 19 demonstran ditangkap, dan 11 anggota polisi mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan petasan.

  • Massa aksi kecewa dengan aparat, membakar pos polisi di dekat Lapangan Merdeka sebagai bentuk protes terhadap penegakan hukum.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Unjuk rasa yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat di DPRD Sumut, Jumat (29/8/2025) memanas. Gedung wakil rakyat itu dilempari batu dan petasan. Bahkan kontak fisik antara massa aksi dengan aparat tak terelakkan hingga menyebabkan luka-luka.

Kini setelah memasuki malam hari, aksi demonstrasi di Gedung DPRD Sumut telah bubar. Dari data yang dihimpun Polda Sumut, sebanyak 19 massa aksi ditangkap. Dan ada juga 11 personel polisi luka-luka akibat terkena lemparan batu hingga petasan.

1. Kabid Humas Polda Sumut: unjuk rasa chaos karena massa cair atau para anarko

Polisi membuat pagar menghalau lemparan batu massa aksi (IDN Times/Prayugo Utomo)

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan angkat bicara mengenai aksi unjuk rasa di Sumut. Bahkan jumlah massa aksi ditaksir sampai ribuan orang.

"Kami dari Kepolisian Daerah Sumut, sudah selesai melakukan pengamanan untuk unjuk rasa yang dilakukan rekan mahasiswa dan ojek online ke DPRD Provinsi Sumut dan DPRD Kota Medan. Pelaksanannya berjalan baik. Polda Sumut mengucapkan terima kasih kepada ojol dan mahasiswa yang melangsungkan unjuk rasa dengan damai," kata Ferry kepada IDN Times, Jumat (29/8/2025) malam.

Menurutnya, keributan alih-alih terjadi disebabkan oleh "massa cair". Mereka disebut Kabid Humas merupakan orang yang tidak ikut serta ke dalam barisan mahasiswa atau ojek online. Namun hadirnya dianggap memprovokasi jalannya aksi.

"Ya, tadi kami juga menemukan sekelompok massa. Massa ini kami sebut massa cair atau anarko yang berusaha bergabung dengan grup mahasiswa dan ojek online. Karena ojek online dan mahasiswa tak mau bergabung, jadi massa cair ini melakukan tindakan anarkis," lanjutnya.

2. Ada 19 demonstran ditangkap, dan 11 anggota polisi alami luka-luka

Aksi di DPRD Sumut chaos (IDN Times/Prayugo Utomo)

Lemparan batu dan petasan mewarnai aksi di DPRD Sumut. Korban luka berjatuhan. Bukan hanya di tubuh polisi, barisan massa aksi juga mengalami luka-luka akibat kontak fisik.

"11 personel kami mengalami luka. Bukan hanya itu, salah satu rekan ojol juga luka-luka yang disebabkan massa cair tersebut," ungkap Ferry.

Mobil water cannon dikerahkan petugas kepolisian untuk menghalau massa aksi. Begitu juga dengan gas air mata yang dilemparkan. Dari insiden ini, polisi menangkap sejumlah massa aksi yang dianggap memprovokasi.

"Yang kami amankan ada 19 orang, 18 orang Polres dan 1 Polda. Mereka bukan mahasiswa," bebernya.

3. Massa aksi kecewa dengan aparat, bakar pos polisi di dekat Lapangan Merdeka

Massa aksi di Medan bakar pos polisi lalu lintas (IDN Times/Prayugo Utomo)

Massa aksi yang dipukul mundur dari gedung DPRD, membuat kejutan. Diliputi rasa kecewa dengan aparat penegak hukum, mereka membakar salah satu pos polisi lalu lintas di Lapangan Merdeka. Akibatnya pos tersebut hangus menyisakan kerangka bangunannya saja.

"Ya, tadi ada kerusakan yang dibuat massa cair tersebut. Dan kami akan memperbaikinya," tutur Kabid Humas Polda Sumut.

Terkait dengan berapa banyak korban luka, Ferry mengatakan bahwa pihaknya akan menyelidikinya. Termasuk dengan dugaan bahwa massa aksi luka-luka dipukul aparat hingga menyebabkan kejang.

"Sementara untuk yang ditangkap, nanti kita identifikasi sesuai dengan perannya, ya. Di Polda," pungkasnya.

Editorial Team