Tambun Silalahi sedang memotng ujung buah aren untuk mengeluarkan bijinya (IDN Times/Patiar Manurung)
Tambun Silalahi, ketika ditemui di rumahnya saat mengelola kolang kaling di Jalan Tigaras, Nagori Simantin Pane Dame, Kecamatan Panei Tongah, mengaku sempat pesimis bahwa buah kolang kaling bakal tidak bisa terjual karena sekarang ini daya beli masyarakat sangat turun drastis.
Bahkan, satu bulan sebelum memasuki bulan Ramadan, tanda-tanda orang mau membeli kolang kaling tidak ada. Padahal sejak bulan Februari, seperti biasa para pengelola kolang kaling sudah mempersiapkan diri untuk memproduksinya.
Disebutkan, jika virus corona tidak ada, kolang kaling yang dikelola masyarakat di desa atau Nagori Simantin Pane Dame bisa tembus ke berbagai negara seperti Malaysia. Namun untuk kali ini daerah pemasarannya hanya berada di Indonesia, paling banyak ke Pulau Jawa. Tapi ada juga permintaan dari Padang, Pekanbaru, Medan dan daerah lainnya.
Khusus pembeli dari daerah Sumatera, dengan partai besar biasanya langsung datang ke Nagori Simantin Pane Dame. Dan permintaan kolang kaling sebelum bulan puasa sudah mulai ramai.
“Kalau masalah corona ini tidak ada pengaruh yang signifikan. Tapi sempat kita berpikiran bakal tidak jalan. Bahkan kita sempat berhenti satu bulan karena corona.Tahunya bisa laku karena ada beberapa orang mulai datang untuk membeli. Makanya di tempat kita ini hampir serentak, rame-rame mengerjakan kolang kaling. Sekarang harga kolang kaling mencapai Rp7.500 sampai Rp 8.000 per Kilogram. Tahun lalu pada bulan Ramadan mencapai Rp 10 ribu. Tapi ini bakal naik lagi hingga diangka Rp 10 ribu satu minggu menjelang lebaran,” jelasnya.