Dana Saputra, Direktur PT Alana Green Electric (baju biru) bersama tim saat mengerjakan Nusacube (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Pada pertengahan November 2025, New Energy Nexus Indonesia akhirnya mengumumkan lima startup Indonesia yang menerima dukungan pendanaan dari Program Kinetik Nex. Salah satunya adalah PT Alana Green Electric.
Program Kinetik Nex pada dasarnya berupaya mendorong dan semangat baru bagi lahirnya inovasi-inovasi lokal yang menawarkan solusi nyata terhadap tantangan transisi energi dan perubahan iklim. Sekaligus mempercepat pemerataan manfaat energi bersih bagi masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.
Direktur New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendukung para inovator dan wirausahawan di seluruh Indonesia. Ia meyakini bahwa solusi transisi energi dan iklim harus lahir dari daerah, dengan mengangkat ide, gagasan, dan inovasi berbasis kearifan lokal.
“Kami berupaya memanfaatkan pengetahuan lokal dan menggabungkannya dengan pengalaman (New Energy Nexus Indonesia) enam tahun terakhir untuk terus mendukung perkembangan dan aktivitas nyata para inovator di seluruh Indonesia,” jelasnya dalam siaran pers yang diterima IDN Times.
Urgensi inovasi ini diperkuat oleh data Joint Research Center–European Commission yang menunjukkan peningkatan emisi gas rumah kaca, konsentrasi gas di atmosfer yang terus naik, serta pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Pada 2024, suhu permukaan bumi bahkan mencapai rekor baru, yaitu 1,6°C di atas rata-rata era pra-industri.
Dana mengaku senang sekaligus lega setelah upaya beberapa bulan terakhir berbuah manis dengan mendapat dukungan dari program Kinetix Nex. Program ini membantu PT Alana Green Electric mewujudkan mimpi membawa Nusacube bertenaga hybrid PLTS dan PLTB menjangkau pulau-pulau 3T Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
“Saya berpikir PT Alana Green Electric harus jadi lebih dari saat ini. Kita jangan hanya bicara omzet, tapi harus berperan untuk mendorong perubahan ke arah energi terbarukan dan berkelanjutan. Saya pikir ini yang akan membuat bisnis kami berbeda dari yang lain dan bisa sustainable,” ungkapnya.
Dengan bantuan dari Program Kinetik Nex, PT Alana Green Electric akan memasang satu set alat Nusacube di Pulau Sadulang Besar awal tahun ini. Di antaranya solar panel berkapasitas 8.200 Watt Peak dan Turbin Angin 1.000 watt. Kapasitas total menjadi 9.000 watt.
Lalu memasang inverter untuk mengubah tenaga DC menjadi AC dan pemasangan baterai lithium 20 kWh, untuk menyimpan energi yang diserap pada siang hari dan digunakan pada malam hari. Serta alat filtrasi untuk mengolah air payau menjadi air bersih. Desember lalu, Dana dan tim sudah melakukan survey ke lokasi, rencananya akan melakukan pemasangan alat pada awal Februari 2026.
Satu alat Nusacube bisa menampung 50 cetakan es batu berukuran 5 kilogram. Sekali produksi bisa menghasilkan 250 Kg es batu dan dalam sehari maksimal hanya bisa dua kali operasional dengan waktu produksi 10-12 jam.
“Dalam satu hari, mesin Nusacube ini nantinya bisa menghasilkan 500 kilogram es batu. Ini masih di bawah kebutuhan seluruh nelayan di satu pulau, ada pulau yang kebutuhan es batunya mencapai 3-4 ton per hari,” ujar pria 31 tahun ini.
Tak hanya datang memasang alat, tim PT Alana Green Electric akan mengajarkan anggota BUMDes dan koperasi untuk mengoperasikan Nusacube dan memperbaikinya jika terjadi kerusakan ringan. Sehingga proses perbaikan akan bisa dilakukan dengan cepat, tidak perlu menunggu tim PT Alana datang dari Mojokerto.
Selain itu akan melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan di Pulau Sadulang Besar untuk mengolah hasil laut. Meski bertetangga dengan Pagerungan Kecil, potensi laut Pulau Sadulang Besar tidak hanya ikan, ada pula rumput laut. Rumput laut yang dibudidayakan warga biasanya berjenis Cattoni dan Spinosum.
Peluang ini yang akan dipelajari oleh PT Alana Green Electric. Setelah satu tahun program berjalan akan dievaluasi apakah perlu dilakukan penambahan alat atau menambah infrastruktur pendukung lainnya. Serta pelatihan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk menaikkan nilai jual ikan dan rumput laut.
Letak Pulau Pagerungan Kecil dan Sadulang Besar (Dok. Google Map)
Berdasarkan survey awal yang dilakukan PT Alana, dengan total nelayan berjumlah 500 orang di Desa Sadulang Besar, kebutuhan es batu bisa mencapai 4 ton per hari. Dengan produksi yang masih jauh dari jumlah kebutuhan nelayan, BUMDes akan mengutamakan penjualan pada nelayan-nelayan kecil yang berangkat malam dan pulang pagi hari.
“Kalau nelayan besar biasanya mereka sudah memborong es batu untuk mencari ikan berhari-hari. Tentu mereka sudah punya modal besar juga, jadi Nusacube ini akan kita utamakan untuk memenuhi kebutuhan nelayan kecil dulu,” tambahnya.
Total nilai investasi beserta biaya pengantaran dan pemasangan mencapai Rp500 juta per satu perangkat Nusacube. Angka ini, tambah Dana, tidak bisa disamaratakan untuk semua pulau. Karena jarak dan akses ke pulau-pulau 3T sangat beragam dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Untuk pengiriman barang, Dana biasanya memanfaatkan jasa nelayan lokal.
Kontrak kerjasama, jelas Dana, biasanya berdurasi 5 tahun. Setelah itu teknologi Nusacube 100 persen akan menjadi milik BUMDes atau koperasi. Usia pakai Nusacube diperkirakan bisa mencapai 15-20 tahun dan beberapa alat memiliki garansi resmi hingga belasan tahun.
Pasca instalasi, PT Alana Green Electric akan memberi pelatihan untuk calon operator, petugas pemeliharaan, dan engineer. Mereka akan diajarkan teknologi-teknologi Nusacube, cara pemasangan, hingga perbaikan jika terjadi kerusakan.
Belajar dari pengalaman 2 tahun di Pulau Pagerungan Kecil, PT Alana Green Electric sudah memetakan masalah apa yang paling sering muncul pada Nusacube. Untuk itu, saat pengiriman alat akan disertakan suku cadang yang paling rawan rusak. Jika ada masalah, operator lokal bisa langsung cepat mengganti sendiri.
“Dengan adanya Nusacube di pulau terpencil, nelayan bisa mendapatkan kepastian stok es batu, nggak perlu jauh-jauh ke pulau lain dan yang pasti harga relatif murah jika dibandingkan harus beli ke pulau lain. BUMDes juga akan mendapatkan keuntungan. Net profit-nya itu nanti dibagikan ke investor. Jika BUMDes membutuhkan penambahan alat baru, kita akan lakukan penambahan. Jadi kami concern-nya itu langsung ke end user-nya, langsung di daerah 3T,” tutur lulusan Magister Management Bisnis Universitas Paramadina ini.
Meraih dukungan dari Program Kinetik Nex tidak membuat Dana berpuas diri dan berhenti berinovasi. Malah menjadi batu pijakan untuk PT Alana Green Energy bisa melompat lebih tinggi, menjangkau wilayah 3T lebih banyak dan semakin berivonasi. Serta jadi portfolio untuk mengundang investor lebih banyak lagi demi membawa Nusacube ke pelosok negeri.