Medan, IDN Times - Kasus bocah SD berumur 12 tahun yang nekat membunuh ibunya sendiri di Medan Sunggal, menjadi perhatian publik. Sebab, tidak hanya penetapan status ABH (Anak Berkonflik dengan Hukum) saja, ia juga dilakukan pemeriksaan psikologis tidak terkena gangguan mental seperti skizofrenia, delusi, atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Namun, adanya paparan kekerasan yang dialami dan disaksikan. Bukan hanya dari pihak keluarga, tapi ada kemungkinan dari tontonan yang dilihat.
Irna Minauli, Psikolog menjelaskan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum seperti pada kasus kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa ibunya merupakan kasus yang sangat langka.
"Secara statistik hanya sekitar 1.7-4 persen saja angka kejadiannya di seluruh dunia. Akan tetapi, dengan maraknya perceraian, ketidakharmonisan dalam keluarga, dan kekerasan dalam keluarga, dikhawatirkan angka kejadiannya akan semakin meningkat," kata Irna Minauli yang juga merupakan Direktur Minauli Consulting.
Bahkan, menurut Irna, hadirnya game online atau tontonan yang menampilkan kekerasan ini sangat berdampak pada anak. Sehingga, dapat membuat dirinya mengalami desensitisasi.
Diketahui, desensitisasi adalah sifat yang membuat kurang rentan atau sensitif terhadap rangsangan fisik atau emosional. "Mereka menjadi kurang peka terhadap masalah kekerasan. Mereka dapat menormalisasi kekerasan sebagai jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya," jelasnya.
"Meski demikian, kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan pada game online atau tontonan semata sebagai penyebab timbulnya kekerasan. Harus dilihat juga faktor predisposisi atau yang mendahuluinya, seperti pengalaman atau paparan kekerasan yang dialaminya, keluarga yang tidak berfungsi dengan baik (dysfunctional family), serta kepribadian anak yang secara emosional masih labil. Kemudian harus dilihat adanya faktor pencetus (trigger) sehingga memunculkan kemarahan atau agresivitas pada anak," tambah Irna.
