Ilustrasi tenaga medis (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Kata Dedi, dari pemeriksaan dokter penyakit itu karena faktor genetik. Namun dia masih heran kenapa penyakit itu tidak bisa disembuhkan.
“Kalau dokter rumah sakit bilangnya bawaan genetik, tapi kalau berobat spesialis kulit yang di Jalan Ringroad, katanya auto imun. Tapi sama juga bawaan gen, cuma beda istilahnya aja, penyakit sama,” kata Dedi.
Karena tidak ada perubahan, Dedi beralih ke pengobatan alternatif. Meskipun sampai saat ini anaknya belum juga sembuh. Sebagai orangtua, Dedi begitu sedih dengan kondisi anaknya. Dia tidak tega melihat Luqyana setiap hari menahan sakit, terlebih saat dimandikan.
“Asal dimandiin dia nangis, perih seperti nya,”ujarnya.
Kata Dedi penyakit Luqyana, juga cenderung aneh, jika sedang kambuh, badannya basah oleh keringat, lalu menimbulkan kegatalan. “Kalau lagi kumat, basah semua badannya. Pas lagi kering ya kering. Efek obat itu nggak ada nampak gitu gatal, nggak tahu lah kita, mungkin imun dia di dalam lah, pas kering dikira sudah sembuh, naik lagi, timbul lagi (luka),”ujarnya.