Kambing hutan sumatera yang suka berada di tebing terjal. Foto ini diambil di Dusit Zoo, Bangkok, Thailand.Foto: Wikimedia Commons/Melanochromis/free to share
Menurut CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), kambing hutan sumatera termasuk satwa dalam kategori Appendix I. Artinya kambing hutan adalah satwa yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan.
Dilansir dari laman Mongabay, kambing hutan merupakan satwa penyendiri. Dia suka bermain di tebing terjal dan bersembunyi di dalam gua.
Berdasarkan penelitian Endah Dwi Meirina dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, 2006, berjudul Karakteristik Habitat Kambing Hutan Sumatera [Capricornis sumatraensis sumatraensis Bachstein, 1799] di Kawasan Danau Gunung Tujuh, Taman Nasional Kerinci Seblat, dijelaskan kambing ini hanya menyukai belantara hutan primer di ketinggian 200 meter hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.
“Kambing hutan sumatera adalah pendaki berkaki kokoh yang dapat mendaki tebing-tebing curam. Kambing hutan ini biasanya berlindung di semak belukar lebat pada siang hari, dan keluar mencari makan ke daerah yang lebih terbuka pada pagi-pagi sekali,” tulis Endah.
Kambing hutan memakan hampir setiap tumbuhan. Namun dia memiliki ketertarikan pada daun-daun muda dan pucuk daun. Apalagi yang memiliki aroma tertentu.
Kambing hutan memiliki ciri khusus. Badannya lebih kekar dan berotot. Memiliki bulu lebat dan kasar yang berwarna keabuan. Tanduknya ramping, pendek dan lurus ke belakang dengan panjang rata-rata 12 hingga 16 sentimeter. Berat badannya antara 50-140 kilogram dengan tinggi bisa mencapai 85-94 sentimeter.
Perkembangbiakannya tergolong lambat. Anaknya 1 hingga 2 ekor setiap kelahiran. Lama hidup kambing hutan sumatera jantan maupun betina sekitar 10-20 tahun.