Comscore Tracker

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi Berakhlak

Rangkul semua pihak dan rajin bagikan ilmu pelatihan

Jambi, IDN Times - Meski di tengah pandemi, salah satu Kepala Sekolah yang ada di Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi, Saparuddin terus berupaya melakukan pengoptimalan kegiatan belajar mengajar.

Saparuddin juga menjadi salah satu fasilitator daerah manajemen berbasis sekolah (MBS) Program PINTAR Tanoto Foundation.

Ia yang menjadi guru sejak tahun 1998 mengatakan bahwa, menjadi guru bukanlah untuk mengejar status sosial, bukan pula semata mengejar kebutuhan materi. Baginya, menjadi guru adalah pengabdian mendidik anak bangsa untuk menjadi generasi yang berakhlak dan juga cerdas.

Banyak suka duka yang dilaluinya menjadi seorang guru, yuk simak kisahnya:

1. Menjadi guru sejak tahun 1998

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi BerakhlakSaparuddin, Kepala SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi, Jambi (Dok. IDN Times)

Pertama kali ia ditugaskan menjadi guru sejak tahun 1998 sampai 2008 di SDN 173/I Senami Kecamatan Muara Tembesi.

Kemudian Saparuddin dipercaya sebagai kepala sekolah di tempat yang sama mulai akhir 2008 hingga tahun 2019.

“Setelah itu saya saya menjadi kepala sekolah di SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi sampai sekarang,” ujarnya, Rabu, (22/9/2021).

2. Misi Semangat Rejo

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi BerakhlakSaparuddin, Kepala SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi, Jambi (Dok. IDN Times)

Sekolah yang dipimpinnya sekarang, yaitu SDN 85/1 Sumberrejo memiliki misi "Semangat Rejo" yakni terus berupaya membekali diri dengan pengetahuan dan pengalaman dari sesama guru, termasuk dari mereka setelah mengikuti berbagai pelatihan.

"Alhamdulillah, pengetahuan dan pengalaman tersebut, banyak saya dapatkan semenjak bergabung dengan Tanoto Foundation," katanya.

Saparuddin berharap, dengan misi Semangat Rejo ia mengharapkan para guru terus memiliki semangat yang tak pernah padam dalam membina dan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia.

Kemudian dari semangat rejo inilah lulusan di sekolah tersebut memiliki keberanian, pribadi yang menyenangkan, dan memiliki semangat yang tinggi untuk maju namun tetap beradat, religius, dan melahirkan karya.

“Semanga Rejo harus tertanam di seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah hingga orangtua siswa,” tegasnya.

3. Tantangan pendidikan di masa pandemi

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi BerakhlakSaparuddin, Kepala SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi, Jambi (Dok. IDN Times)

Baginya, tantangan pendidikan di masa pandemi peran kepala sekolah sangat diuji, dikarenakan kepala sekolah merupakan seseorang yang berada di garda terdepan dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.

Selain itu kepala sekolah juga merupakan panutan dalam memberikan suri tauladan kepada seluruh warga sekolah lainnya.

“Sederhananya ya saya ini menjadi contoh, menjadi model, misalnya tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok, itu salah satu dari sekian contoh,” ujarnya.

Keberhasilan Saparuddin dalam memajukan sekolah tentunya tidak terlepas dari dukungan semua pihak, termasuk orangtua murid, terlebih di masa pandemi saat ini.

Salah satunya mengajak orangtua berdiskusi untuk menghasilkan data berapa persen dari mereka yang setuju pembelajaran tatap muka terbatas dilaksanakan.

Saparuddin mengaku, sebanyak 80 persen orang tua menyetujui pembelajaran secara tatap muka secara terbatas, namun harus dengan syarat protokol kesehatan dilaksanakan secara ketat.

“Jadi, kuncinya ada di komunikasi dengan para orangtua,” sarannya.

4. Pembelajaran tatap muka terbatas yang sudah mulai

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi BerakhlakSaparuddin, Kepala SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi, Jambi (Dok. IDN Times)

Ia pun menceritakan ketika pembelajaran secara daring dilaksanakan, menurutnya sukses dilaksanakan berkat peran orangtua siswa, karena menurutnya tanpa peran orangtua sangat sulit pembelajaran daring bisa terlaksana.

"Kami punya kesepakatan seperti bentuk pengiriman tugas, peran orang tua suka rela membantu dengan suka rela," tandasnya.

Saparuddin meyakini, maju atau tidaknya suatu satuan pendidikan, kuncinya adalah koordinasi dengan semua pihak, dan juga menjadi pendengar yang baik bagi semuanya.

"Demi kemajuan sekolah, saya akan berkoordinasi dengan semua pihak,” tukasnya.

Saat ini di tengah pembelajaran tatap muka terbatas yang sudah mulai, Saparuddin membuat kebijakan yaitu bergantian setiap siswa setiap harinya ke sekolah, agar tetap terjaga jaga jaraknya.

Selain itu, ia juga melengkapi sarana prasarana yang lain seperti menambah titik-titik wifi di sekolah.

5. Sebarluaskan ilmu pengetahuan

Kisah Saparuddin, Kepsek yang Ingin Ciptakan Generasi BerakhlakSaparuddin, Kepala SDN 85/I Sumberrejo Kecamatan Muara Tembesi, Jambi (Dok. IDN Times)

Salah satu hal yang layak dicontoh oleh Saparuddin adalah setiap ilmu yang ia dapatkan, selalu ia bagikan kepada guru-guru di sekolahnya dan guru di kelompok kerja guru (KKG( di Kecamatannya.

“Dengan memberikan dukungan moril terhadap para guru, selalu bersemangat dan menghimbau para guru untuk mengikuti pelatihan, siapapun narasumbernya,” katanya.

Baginya, membagikan ilmu tidak akan pernah habis ilmu yang ia miliki, justru akan semakin bertambah.

“Materi yang saya dapatkan seperti School Readiness maupun Group Learning yang saya dapatkan dari Program PINTAR Tanoto Foundation juga saya sampaikan di sekolah saya maupun guru-guru dari sekolah lainnya yang tergabung dalam KKG," pungkasnya.

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya