Sausana di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
Zainuddin menyampaikan terakhir kali barang-barang kebutuhan dapur masuk ke pasar pada Rabu (26/11/2025). Namun setelah itu, barang-barang tersebut berhenti masuk akibat akses jalan di sejumlah daerah lumpuh akibat banjir dan longsor.
Kondisi ini, kata Zainuddin, membuat harga cabai tidak stabil di pasar dan menyesuaikan ketersediaan barang. Sementara, permintaan cabai lebih tinggi.
“Stok barang yang dibutuhkan misalnya dua ton cabai, akan tetapi hanya ada 200 kilogram. Hal itulah yang membuat melonjak harga,” ujarnya.
Zainuddin sendiri menjual cabai merah kisaran Rp150.000 sampai Rp180.000 per kilogram. Sedangkan cabai hijau, cabai rawit, cabai bencong, dan cabai nano dalam kondisi kosong.
Selain cabai, stok kebutuhan dapur lain yang tidak ada di tempat Zainuddin yakni tomat, timun, wortel, dan kentang.
Kondisi kelangkaan barang dan tingginya harga juga diakui Rian, pedagang lainnya di Pasar Al Mahirah. Ia mengaku harga cabai merah dijual Rp180.000 sampai Rp200.000 per kilogram.
“Bahkan ada juga yang mencapai Rp250.000 per kilogram,” kata Rian.
Untuk cabai hijau, kata Rian, berada di harga tertinggi, yakni Rp150.000 per kilogram. Cabai rawit Rp150.000 sampai Rp200.000 per kilogram dan cabai nano Rp100.000 sampai Rp150.000 per kilogram.
Rian juga mengaku bila sejumlah bahan dapur tidak ada stok. Di antaranya, cabai bencong, wortel, kentang, sop, dan kol.
“Tomat kebanyakan kosong, yang ada masuk dari Sigli. Itu pun dijual Rp 30.000 per kilogram,” ujar Rian.