Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aceh Tamiang Masih Berselimut Debu, Ramadan Tanpa Tradisi Meugang
Suasana Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang. Sepi saat siang menjelang sore. Warga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. (Foto: Junaidin Zai)

ACEH, IDN Times – Tiga bulan telah berlalu sejak bahala menyapu Desa Sekumur pada pengujung tahun 2025, namun jejaknya belum benar-benar tanggal. Kini, napas warga sesak bukan oleh aroma masakan khas menyambut Ramadan, melainkan oleh partikel debu dari lumpur yang mengering di sekujur perkampungan.

Bencana yang menerjang pada bulan kesebelas itu tidak hanya meruntuhkan dinding-dinding hunian, tetapi juga melumat sendi ekonomi warga hingga lebur. Di tengah puing dan sisa-sisa pendapatan yang raib, potret keseharian para penyintas kini berselimut muram.

Hilangnya kemapanan ekonomi turut menggerus tradisi yang telah lama mengakar. Tahun ini, Meugang—sunah menyambut Ramadan yang biasanya dirayakan dengan keriuhan dan santapan daging bersama keluarga—lenyap dari agenda warga. Kesunyian menggantikan kemeriahan yang lazimnya hadir, kini kehidupan warga Sekumur berjuang untuk memulihkan diri.

Saat IDN Times, berada di desa Sekumur pada Selasa, 17 Februari 2026, Sekumur sudah tidak lagi hijau. Perbukitan yang semula tertutup pohon-pohon, juga sudah mampu ditangkap mata. Di sepanjang jalan, pohon yang tersisa merunduk kuyu, daun-daunnya berubah warna menjadi cokelat pucat terlapisi debu kering.

Pandangan mata kerap terhalang kabut tipis berwarna kelabu, kaki kecil anak-anak setiap harinya diselimuti debu. Di sini, panas bukan lagi sekadar cuaca, melainkan beban tambahan bagi para penyintas yang tengah merajut kembali harapan di atas tanah yang masih menyimpan sisa trauma bencana.

"Hanya satu yang kami minta di bulan puasa ini. Semoga cuaca selalu mendung. Jika tidak, bagaiman kami kuat berpuasa," kata Salam, seorang warga setempat, saat IDN Times bertanya apakah sanggup menahan dahaga menjalankan puasa ditengah terik.

1. Mengenang Masa Lalu, Ketika Ramadan Disambut Meriah

Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Dahulu, jauh sebelum banjir bandang menerjang, dua atau sehari sebelum berpuasa, pohon-pohon di desa Sekumur masih bisa dimanfaatkan warga. Namun sekarang, daun pisang saja sulit untuk ditemukan.

Sejak banjir bandang menerjang pada penghujung 2025, lanskap Sekumur berubah drastis. Perbukitan yang dulu hijau seperti dinding alam, kini telanjang. Akar-akar mencuat dari tanah yang tergerus, menyisakan bekas aliran air berlumpur yang membelah kebun warga. Debu tipis beterbangan setiap kali angin melintas, masuk ke celah hunian yang dibuat dari bekas puing yang berdinding terpal biru.

Bagi para penduduk, Meugang bukan sekadar santapan; ia adalah penanda sosial bahwa bulan suci tiba dengan martabat, bahwa setiap rumah, sekecil apa pun, berhak mengecap daging walau hanya setengah kilogram.

Meugang biasanya menjadi hari paling riuh dalam setahun. kaum lelaki memotong lembu atau hewan lain seperti kambing, sementara perempuan menyiapkan bumbu di dapur. Kue-kue basah juga dimasak bersama daun pisang menjadi timpan untuk aneka kue basah. Kini, dapur-dapur itu sunyi.

2. Tradisi Meugang tak terlihat

Kondisi Sekolah Rakyat Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, setelah dihantam hujan dan angin kencang pada Senin (16/2/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Sejak banjir bandang menerjang pada penghujung 2025, lanskap Sekumur berubah drastis. Perbukitan yang dulu hijau seperti dinding alam, kini telanjang. Akar-akar mencuat dari tanah yang tergerus, menyisakan bekas aliran air berlumpur yang membelah kebun warga. Debu tipis beterbangan setiap kali angin melintas, masuk ke celah rumah semi permanen yang dibangun seadanya.

"Saya sudah suruh anak saya tadi untuk membeli daun pisang untuk membungkus kue. Namun, susah didapat," kata Nursiah, 51 tahun, yang dijumpai di hunian miliknya.

Beberapa saat kemudian, Nursiah menangis kala menceritakan tentang bencana mematikan itu.

Tradisi Meugang pun tak lagi menjadi perayaan kolektif, melainkan kenangan yang dipeluk diam-diam. Tidak ada antrean di pasar daging, tidak ada asap mengepul dari belanga besar. Yang terdengar hanya bunyi sekop mengeruk lumpur yang belum sepenuhnya kering.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 itu merendam sejumlah desa di Kecamatan Sekerak dan sekitarnya. Ratusan rumah dilaporkan terdampak, puluhan di antaranya mengalami rusak berat. Lahan pertanian dan perkebunan warga yang menjadi sumber penghidupan utama ikut tergerus material lumpur dan kayu dari hulu.

Pemerintah daerah mencatat sedikitnya ribuan jiwa sempat mengungsi pada hari-hari awal bencana. Hingga Februari 2026, sebagian warga masih berjuang memulihkan ekonomi keluarga dengan bantuan terbatas dan pekerjaan serabutan.

3. Hampir 100 hari pasca bencana, 2arga masih menempati hunian darurat berdinding terpal

Tim RAWANTARA berbagi minuman ringan donasi dari Komunitas Selasapagi kepada anak - anak di Desa Sekumur, Kacamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (18/2/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Salam serta beberapa kawannya, duduk di sebuah kedai. Obrolan mereka berganti ketika IDN Times mendatangi mereka. Para penyintas itu sangat ramah. Tidak ada canggung saat itu.

Ia cerita, selama Ramadan, harusnya warga Sekumur membikin perlombaan di masjid. Anak-anak mereka jadi peserta. Acara itu dibuat dengan suka cita. Hanya untuk warna di bulan penuh berkah.

"Harusnya kami udah sibuk mempersiapkan lomba-lomba. Semuanya dibuat hanya untuk merayakan bulan puasa," kata Salam.

Tahun-tahun sebelumnya, halaman masjid berubah menjadi ruang bermain. Anak-anak duduk bersila dengan nomor undian di tangan, orang tua menyemangati dari belakang. Lampu-lampu dipasang seadanya, namun tawa mereka cukup menerangi malam. Di sela-sela acara, ibu-ibu membagikan timpan dan bubur kanji, hasil gotong royong saat Meugang.

Kini, halaman masjid itu lebih sering menjadi tempat agenda para relawan. Pengeras suara tak lagi memanggil anak-anak untuk lomba, melainkan sesekali mengumumkan pembagian bantuan atau kerja bakti membersihkan saluran air.

Bagi warga Sekumur, kehilangan bukan hanya tentang rumah yang roboh atau kebun yang rusak. Ia menjalar hingga ke ruang-ruang sosial: ke tradisi, ke tawa kolektif, ke kebiasaan berkumpul yang dulu terasa sederhana namun bermakna. Ramadan yang mestinya menjadi momentum menguatkan kebersamaan, tahun ini hadir dalam suasana getir.

Hingga Februari 2026, sebagian keluarga masih menempati hunian darurat berdinding terpal. Bantuan logistik berangsur berkurang, sementara kebutuhan menjelang Ramadan mulai menghimpit. Di tengah kondisi itu, warga Sekumur tak banyak menuntut. Seperti Salam yang hanya berharap langit lebih sering mendung agar puasa terasa lebih ringan.

Ramadan tetap datang. Namun di Sekumur, ia disambut tanpa Meugang, tanpa lomba-lomba meriah, tanpa dapur yang mengepul. Yang tersisa adalah daya tahan—sebuah ikhtiar sunyi untuk bangkit perlahan dari debu bencana yang belum sepenuhnya reda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team