Comscore Tracker

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir Sumbing

Membantu orang lain itu memang kepuasan batin

Aceh Barat, IDN Times - “Saya sudah merasakan pengalaman pahit saya saat menderita bibir sumbing selama hampir 18 tahun. Oleh karena itulah saya aktif membantu masyarakat untuk kembali tersenyum,” ungkap Rahmad, kepada IDN Times, Jumat (8/10/2021).

Pernyataan itu disampaikan pria yang memiliki nama lengkap Rahmad Maulizar saat IDN Times menanyakan alasan dirinya rela terjun dan berkecimpung sebagai pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh.

Lalu bagaimana perjalanan hidup dari pria kelahiran Meulaboh, 20 September 1993 silam ini hingga rela mengabdikan dirinya sebagai pekerja sosial untuk mencari anak-anak yang menderita bibir sumbing di Tanah Rencong?

Berikut ulasan cerita dari Rahmad Maulizar:

1. Mengenal operasi bibir sumbing dari Progam Smile Train Indonesia pada tahun 2008

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Jauh sebelum bergabung menjadi relawan operasi bibir sumbing bersama Progam Smile Train Indonesia, Rahmad diakui sebagai orang yang sangat percaya diri. Padahal, dirinya memiliki kekurangan sejak lahir berupa bibir sumbing.

Semangat untuk tidak berkecil hati meski memiliki perbedaan ditubuhnya, didapati Rahmad dari ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya selalu selalu memberikan semangat kepada buah hatinya agar tidak mempedulikan perkataan maupun cemooh yang dilontarkan orang terhadap kekurangannya.

Kesabaran Rahmad membawa kebaikan ikut menyertainya. Sekitar 2008, ia yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), mendapat informasi dari media sosial terkait kegiatan operasi bibir sumbing di Rumah Sakit Umum (RSU) Malahayati, Banda Aceh bekerja sama dengan Smile Train Indonesia. Operasi tersebut gratis.

Rahmad remaja pun mendaftar progam operasi yang dipimpin langsung oleh dr Muhammad Jailani Sp BP, dokter ahli bedah plastik berpraktik di Columbia Asia Hospital, Kota Medan, Sumatra Utara.

“Saya datang ke rumah sakit untuk diminta bantu operasi,” kata ayah satu anak itu menceritakan pengalamannya.

Sejak saat itu, ia pun mengikuti seluruh tahapan medis hingga sumbing yang ada di bibirnya telah hilang di tahun 2010 berkat mengikuti progam tersebut.

“Alhamdulillah saya dibantu operasi Program Smile Train Indonesia ada beberapa kali, hingga 2010 saya selesai dioperasi,” ucapnya.

2. Balas budi dengan berbakti menjadi relawan operasi bibir sumbing

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Smile Train Indonesia seolah menambah kepercayaan diri Rahmad usai operasi bibir sumbing pada dirinya selesai dijalani. Kebahagiaan yang dirasakan pria lulusan Program Studi (Prodi) Ilmu Administrasi Negara (ADM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar itu pun tidak ingin dirasakannya sendiri.

“Setelah itu, saya membantu teman-teman senasib dengan saya. Agar saya yang sudah tersenyum bisa membantu orang lain untuk bisa tersenyum juga bagi penderita bibir sumbing,” kata Rahmad.

Keinginannya itu pun disambut oleh dr Muhammad Jailani, orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Rahmad yang baru masuk dunia perkuliaah di tahun 2011, diajak dokter ahli bedah plastik menjadi relawan untuk mencari pasien bibir sumbing yang ingin dioperasi.

“Saya juga sudah meniatkan diri untuk membantu orang lain walaupun saya --kala itu-- tidak diajak bergabung,” ujarnya.

3. Pernah disiram air sama keluarga pasien

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Menjadi pekerja sosial khususnya mencari pasien bibir sumbing di tengah masyarakat, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebagian besar warga masih merasa bahwa menderita bibir sumbing adalah aib bagi keluarga, sehingga harus disembunyikan.

Keadaan itu semakin jelas dilihat Rahmad ketika dirinya terjun ke lapangan dan langsung menyambangi masyarakat. Malah, ia pernah melihat bayi yang mengalami bibir sumbing harus ditutup wajahnya dengan kain agar tidak dilihat oleh orang lain.

Di samping itu, pengalaman lainnya juga dirasakan oleh ayah dari putri Phoenna Misya Maulizar ini. Dirinya yang sedang melakukan sosialisasi di pedalaman Aceh, disiram oleh pihak keluarga yang kala itu sedang mereka sambangi. Kejadian itu terjadi dua tahun ketika dirinya baru menjadi relawan dan diminta untuk mencari pasien bibir sumbing atau sekitar tahun 2013.

“Penolakannya sewaktu itu, saya disiram pakai air. Itu pengalaman di lapangan. Itu awal-awal saya di lapangan,” ungkap Rahmad.

Usut punya usut, penyirman itu ternyata dilatarbelakangi oleh kekecewaan keluarga pasien terhadap pekerja sosial yang datang jauh sebelum Rahmad menyambangi keluarga itu. Diduga, keluarga pasien kala itu pernah dijanjikan suatu hal oleh oknum pekerja sosial sebelumnya.

“Belum lagi saya ngomong, sudah disiram. Dipikir mereka, saya orang yang sama yang sebelumnya datang ke rumah tersebut.”

Meski demikian, Rahmad akhirnya bisa mengajak salah seorang anggota keluarga yang mengalami bibir sumbing untuk mau dioperasi secara gratis di RSU Malahayati, Banda Aceh.

“Alhamdulillah setelah saya kasih edukasi, pengalaman saya --dioperasi--, Alhamdulillah anak itu sekarang sudah dioperasi,” imbuhnya.

4. Semakin aktif menebarkan senyuman dan menghapus cemoohan

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Selama empat tahun menjadi relawan, Rahmad terus menerus mencari pasien bibir sumbing yang mau dioperasi. Hingga tiba waktunya, di tahun 2015, dirinya kembali diajak Smile Train Indonesia. Kali ini, ia diajak bergabung menjadi pekerja sosial di badan amal internasional untuk anak-anak tersebut.

Sejak diajak bergabung, pria yang kini beristri Noviani itu, semakin aktif dalam melakukan sosialisasi kepada warga dan mengajak untuk menjalani operasi gratis tanpa dipungut biaya. Tentunya, tujuannya hanya satu, bisa membagikan senyuman dan kebahagiaan dengan orang lain.

Sebab dirinya begitu mengetahui bagaimana pahitnya menyematkan status penderita bibir sumbing yang kerap dijadikan hinaan maupun cacian dari cemoohan orang-orang. Sehingga, apa yang pernah dialaminya tidak ingin dirasakan oleh orang lain, terutama anak-anak.

“Pahitnya bagi penderita bibir sumbing itu, tidak jauh dari hinaan, dikibuli, dicaci. Itu pengalaman pahit bagi penderita bibir sumbing. Itu yang saya alami,” ungkap Rahmad menceritakan.

“Saya memanfaatkan progam ini supaya anak-anak Aceh khususnya, mendapatkan senyum harapan baru.”

“Karena orang yang mengalami cacat di wajah itu tidak nyaman dan tidak percaya diri,” ucap Rahmad.

5. Pencarian Rahmad menghasilkan lebih lima ribu kegiatan operasi bibir sumbing

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Peran Rahmad di Smile Train Indonesia dalam mencari serta memberikan pendampingan bagi penderita bibir sumbing dan langit-langit terbilang besar. Sebelum dia bergabung atau sekitar rentang 2007-2011, warga yang mau dioperasi lebih kurang 1.000-an.

Akan tetapi sejak dirinya bergabung menjadi relawan di tahun 2011, tercatat lebih kurang 6.000-an kegiatan operasi telah dilakukan dr Muhammad Jailani dengan dibantu tiga dokter lainnya hingga 2021. Diperkirakan, jumlah kegiatan operasi secara gatis tersebut akan terus bertambah setiap tahunnya.

Kenaikan jumlah kegiatan operasi bibir sumbing yang terbilang signifikan tersebut tentunya tidak terlepas atas upaya dan kerja keras anak dari Ojer dan Nurhayati itu. Rahmad tidak menyerah melakukan sosialisasi, mengajak, dan menjelaskan dampak setelah operasi bibir sumbing dilakukan.

“Tetapi, Insyaallah, setelah saya datangi rumah pasien dan berbicara dengan orang tuanya, saya kasih motovasi, bahwa jangan malu, jangan khawatir. Insyaallah ada bantuan operasi gratis dari Smile Train Indonesia. Tidak dipungut biaya,” jelasnya.

6. Mengajak orang lain untuk sama-sama menaburkan senyuman kepada penderita bibir sumbing

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Dok. Pribadi)

Rahmad kini telah fokus sepenuh hati mendedikasikan dirinya untuk menjadi pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh. Ia merasa jika Yang Maha Kuasa telah menunjuk dirinya untuk berbagai senyuman dan membantu orang lain melalui kegiatan tersebut.

“Membantu orang lain itu memang kepuasan batin. Moto hidup saya itu, senang melihat orang senang. Semangat saling membantu,” ucap pria yang pernah menjadi korban tsunami 2004 silam itu.

Meski demkian, ia tidak ingin bergerak sendiri. Rahmad mengajak warga untuk berperan aktif membantu program mereka dengan cara menyosialisasikan operasi bibir sumbing gratis kepadama masyarakat lainnya. Terutama masyarakat yang tidak bisa mendapatkan informasi melalui media sosial.

Sebab menurutnya, program yang dijalani Smile Train Indonesia ini sangat bermanfaat bagi anak-anak penderita bibir sumbing untuk mendapatkan senyum harapan barunya.

“Pesan saya, masyarakat itu harus aktif dalam mengampanyekan operasi bibir sumbing ini, agar masyarakat yang ada di daerah terutama yang tidak ada jaringan komunikasi sama sekali, mereka bisa mendapatkan operasi bibir sumbing secara gratis ini,” harapnya.

“Tidak ada syarat. Semuanya dibantu sejak di rumah sakit, mulai dari pemeriksaan kesehatan, operasi, pengobatan, dan kamar, semua ditanggung oleh Program Smile Train Indonesia,” jelas Rahmad.

7. Profil singkat Rahmad Maulizar

Rahmad Maulizar, Si Penebar Senyuman Bagi Penderita Bibir SumbingRahmad Maulizar, pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak-Anak Sumbing di Aceh (Foto: satu-indonesia.com)

Rahmad Maulizar merupakan anak kelima dari enam bersaudara pasangan Ojer dan Nurhayati. Ia lahir di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, pada 20 September 1993.

Pendidikan Rahmad, dimulai di SD Negeri 19 Meulaboh. Lalu dilanjutkan ke jenjang lebih menengah di SMP Negeri 5 Meulaboh dan jenjang atas di SMA Negeri 1 Meureubo. Ia merupakan alumni Program Studi (Prodi) Ilmu Administrasi Negara (ADM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar.

Rahmad telah menikah, yang beristri Noviani dan dikaruniai seorang anak Bernama, Phoenna Misya Maulizar.

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya