Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemandangan Masjid Raya Al Mashun, salah satu landmark Kota Medan dari bus listrik (IDN Times/Doni Hermawan)
Pemandangan Masjid Raya Al Mashun, salah satu landmark Kota Medan dari bus listrik (IDN Times/Doni Hermawan)

Intinya sih...

  • Fenomena film dan media sosial membentuk citra Medan

  • Logat Medan adalah hasil akulturasi budaya yang kaya

  • Gaya bicara orang Medan dianggap autentik oleh Gen Z

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Masih ingat dengan logat Medan yang terdengar di film-film atau sinetron tahun 2000-an ke bawah? Dulu, aksen Medan sering ditampilkan dengan cara yang berlebihan, bahkan terkadang jadi bahan lelucon. Tapi, bagaimana dengan hari ini, ketika logat Medan tampil dengan rasa yang berbeda?

Ya, pandangan telah berubah! Lewat para komika, selebgram, konten kreator, hingga film komedi hits, logat Medan kini justru jadi ciri khas yang keren, lucu, dan otentik. Dari FYP TikTok hingga film box office, 'cakap Medan' yang dulu sering dipandang sebelah mata kini menjadi bahasa gaul otentik yang digandrungi anak Gen Z.

Tapi, bagaimana sebuah dialek dengan intonasi yang tegas dan kosakata yang unik bisa melakukan comeback se-epik ini? Jawabannya lebih dalam dan mengejutkan dari sekadar tawa di bioskop. Mari kita bongkar mengapa logat yang dulu dicap 'keras' ini justru menjadi simbol kejujuran yang paling dicari saat ini.

1. Bukan hanya film, selebgram dan budaya pop ikut membentuk citra Medan

ilustrasi konten kreator (unsplash.com/Andrés)

Tak bisa dipungkiri, fenomena film Agak Laen menjadi salah satu tonggak penting yang mengangkat komedi dan dialek Medan ke panggung nasional. Dengan jumlah penonton menembus 9 juta di film pertama dan Agak Laen: Menyala Pantiku yang jadi film terlaris sepanjang massa, membuka pintu lebar-lebar bagi publik untuk mengenal budaya dan gaya bicara Medan secara lebih dekat dan humanis.

Namun, pengaruh ini tak hanya datang dari dunia perfilman. Para selebgram dan figur viral seperti Bunda Corla, Pascol, Mael Lee hingga karakter-karakter TikTok lainnya juga memainkan peran besar dalam mempopulerkan logat Medan di kancah nasional. Gaya bicara mereka yang ceplas-ceplos, jenaka, dan khas Medan kini menjadi bagian dari budaya digital yang dikonsumsi lintas daerah.

Media sosial bahkan memperkuat persepsi bahwa Medan adalah kota dengan karakter yang kuat, otentik, dan "berani tampil beda." Tak jarang, konten viral dari selebgram asal Medan menginspirasi banyak pengguna lain untuk meniru gaya bicara atau mengangkat humor khas Medan dalam video mereka.

Lebih dari sekadar hiburan, ini adalah transformasi budaya. Dari layar lebar hingga layar ponsel, Medan perlahan membentuk citra baru, kota dengan akulturasi budaya yang kaya, dan logat yang kini bukan lagi terdengar “kasar”, tapi justru otentik, seru, dan berkarakter. Gaya bicara yang dulu mungkin dianggap nyolot, kini justru dirayakan sebagai ekspresi jujur dan penuh warna dari identitas Medan itu sendiri.

2. Logat Medan bukan bahasa Batak

ilustrasi dua wanita ngobrol dekat api unggun(pexels.com/Alex P)

Banyak yang mengira gaya bicara orang Medan itu adalah Bahasa Batak. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu! Yang kita kenal sebagai “cakap Medan” sebenarnya adalah hasil akulturasi budaya yang kaya, bukan bahasa tunggal dari satu etnis.

Secara historis, Medan berdiri di atas tanah Melayu, dan akar dari logat Medan adalah Bahasa Melayu Deli,  dialek lokal Melayu yang jadi fondasi utama komunikasi masyarakat. Tapi seiring waktu, kota ini tumbuh jadi pusat dagang dan migrasi, dihuni oleh lebih dari 14 suku bangsa dari seluruh penjuru Sumatera dan Nusantara. Gaya bicara pun ikut berkembang.

Pengaruh paling mencolok datang dari berbagai sub-etnis Batak, terutama dalam hal intonasi cepat, nada bicara yang tinggi, dan pelafalan vokal yang khas. Misalnya, huruf "e" dalam kata “keren” sering terdengar seperti "ember". Kesan tegas dan ‘berapi-api’ ini membuat logat Medan terasa hidup dan penuh karakter.

Tapi bukan hanya Batak yang membentuknya. Pengaruh Tionghoa, terutama Hokkien, juga melekat kuat dalam percakapan sehari-hari. Istilah seperti cuan (untung), kongsi (berbagi), goceng (lima ribu), sampai panggilan apek dan cici jadi bagian dari logat urban Medan yang lintas etnis.

Jadi bisa dibilang, gaya bicara orang Medan adalah representasi langsung dari kehidupan multikultural warganya. Cakap Medan bukan cuma soal logat, tapi simbol dari kota yang tumbuh dengan semangat kebhinekaan.

3. Kata-kata kunci yang wajib kamu tahu

ilustrasi ngobrol (pexels.com/Monstera Production)

Salah satu hal paling menarik sekaligus membingungkan dari dialek Medan adalah adanya kata-kata yang sama dengan Bahasa Indonesia baku, tapi punya makna yang sama sekali berbeda. Contoh paling ikonik adalah kereta, yang di Medan berarti sepeda motor, bukan kereta api.

Begitu pula dengan pajak, yang merujuk pada pasar tradisional, bukan kantor pungutan negara. Memahami perbedaan ini adalah langkah pertama agar tidak salah paham saat berbincang dengan orang Medan.

Selain kata-kata dengan makna ganda, ada banyak kosakata unik yang menjadi ciri khas. Misalnya kelen yang berarti kalian, palak yang artinya kesal atau pusing, kombur untuk mengobrol atau bergosip, dan lasak untuk menggambarkan seseorang yang tidak bisa diam.

4. Gen Z Jatuh Hati pada Gaya Bicara Tanpa Filter?

ilustrasi seseorang merekam dance pria dan wanita (unsplash.com/S O C I A L . C U T)

Di era media sosial yang sering kali menampilkan citra sempurna dan penuh kepalsuan, generasi muda, khususnya Gen Z, mendambakan autentisitas. Mereka lelah dengan konten yang terlalu dipoles dan mencari sesuatu yang terasa lebih nyata dan jujur. Di sinilah gaya bicara orang Medan yang ceplas-ceplos, apa adanya, dan tanpa filter menemukan momentumnya. Gaya bicara ini dianggap sebagai angin segar yang menyegarkan.

Gaya mereka yang blak-blakan saat berkomedi atau bercerita dilihat sebagai bentuk kejujuran yang otentik. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Emosi seperti kesal (palak), senang, dan heran diekspresikan secara langsung dan tanpa basa-basi. Bagi Gen Z, ini jauh lebih menarik dan relatable daripada konten yang terasa diatur dan dibuat-buat. Kesuksesan siniar (podcast) Agak Laen, yang dibangun di atas fondasi obrolan spontan dan tanpa sensor, adalah bukti nyata dari daya tarik ini.

Ketika kreator berbicara dengan gaya asli mereka, mereka tidak sedang memainkan peran, melainkan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Hal ini membuat audiens merasa lebih dekat dan menjadi bagian dari sebuah komunitas, seperti "Pasukan Bermarga" yang menjadi sebutan bagi penggemar setia Agak Laen. Apa yang dulu dianggap sebagai kelemahan atau "ketidakbakuan" kini telah bertransformasi menjadi aset terbesar, sebuah penanda keaslian yang sangat berharga di dunia digital.

5. Desentralisasi "Keren", Medan dan kota lain resmi ambil alih panggung

Laptop diatas tempat tidur menampilkan laman instagram (unsplash.com/Collabstr)

Selama bertahun-tahun, standar "keren", lucu, atau populer dalam budaya pop Indonesia seolah dimonopoli oleh Jakarta. Dialek ibu kota menjadi bahasa gaul nasional, sementara logat dari daerah lain sering kali hanya menjadi bahan karikatur komedi atau sesuatu yang harus "dihaluskan" agar bisa diterima di panggung nasional. Fenomena meroketnya popularitas logat Medan adalah bukti nyata dari tren yang lebih besar: desentralisasi "keren".

Kebangkitan ini menunjukkan sebuah pergeseran budaya yang signifikan. Kreator dari berbagai daerah kini bisa viral dan dicintai secara nasional justru karena mereka merayakan dan menonjolkan identitas lokal mereka, bukan menyembunyikannya. Kesuksesan fenomenal Agak Laen telah mengukuhkan "Batak Pride" dalam percakapan budaya nasional , dan dialek Medan kini menjadi komponen sentral dari kebanggaan tersebut. Berbicara dengan logat Medan di ruang publik nasional bukan lagi sesuatu yang aneh, melainkan sesuatu yang ditampilkan dengan penuh percaya diri.

Implikasinya sangat positif bagi keberagaman budaya Indonesia. Keberhasilan para komika Medan ini menginspirasi banyak kreator lain dari berbagai penjuru nusantara untuk lebih percaya diri dengan logat, bahasa, dan budaya mereka. Ini membuktikan kepada audiens nasional bahwa "keren" bisa datang dari mana saja. Fenomena ini berpotensi membuka jalan bagi lebih banyak suara dari daerah lain untuk tampil, yang pada akhirnya akan menciptakan lanskap media nasional yang lebih kaya, beragam, dan representatif.

Jadi, pergeseran dari "kasar" menjadi "keren" bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari representasi media yang lebih baik, kekayaan budaya yang unik, dan kerinduan generasi muda akan sebuah kejujuran. Logat Medan telah membuktikan bahwa menjadi diri sendiri dengan segala keunikan lokal adalah hal yang paling paten!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team