Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Kolak Selalu Jadi Takjil Favorit saat Ramadan?
ilustrasi kolak pisang (vecteezy.com/Reza Fahmi Kalkasandi)
  • Kolak jadi takjil favorit Ramadan karena rasanya manis, lembut, dan mudah dicerna, cocok untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
  • Bahan alami seperti gula aren, pisang, dan ubi memberi energi cepat sekaligus nutrisi yang menyeimbangkan stamina tubuh saat berbuka.
  • Selain lezat, kolak punya sejarah panjang dan makna religius yang menjadikannya simbol tradisi serta budaya buka puasa di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap bulan Ramadan tiba, kolak hampir selalu hadir sebagai menu pembuka saat azan magrib berkumandang. Tak heran jika banyak orang bertanya, kenapa kolak selalu jadi takjil favorit saat Ramadan dan seolah tak pernah tergantikan. Perpaduan rasa manis dari gula aren, gurih santan, dan lembutnya pisang atau ubi membuat hidangan ini terasa pas untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Di balik cita rasanya yang lembut dan menenangkan, kolak menyimpan sejarah panjang serta filosofi yang lekat dengan tradisi Ramadan di Indonesia. Sajian ini telah berkembang menjadi tradisi yang mengakar dalam momen buka puasa setiap tahunnya. Supaya makin paham, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

1. Kolak mudah dicerna dan cocok untuk buka puasa

ilustrasi kolak untuk takjil buka puasa (freepik.com/jcomp)

Salah satu faktor yang membuat kolak begitu identik sebagai takjil favorit saat Ramadan adalah teksturnya yang lembut serta ramah di lambung. Seusai berpuasa seharian, tubuh memerlukan makanan pembuka yang ringan sebelum menikmati hidangan utama. Isian kolak seperti pisang, ubi, atau labu mengandung serat yang mendukung proses pencernaan agar berjalan perlahan dan lebih nyaman.

Kandungan gula dari gula aren juga membantu mengembalikan energi dengan cepat tanpa membuat perut terasa kaget. Perpaduan santan yang gurih dan kuah manis hangat membuat kolak terasa nyaman di lambung. Tak heran jika kolak dianggap sebagai menu buka puasa yang aman dan pas untuk semua usia.

2. Mengandung energi cepat dari bahan alami

ilustrasi gula aren bubuk (freepik.com/freepik)

Alasan kolak selalu hadir saat Ramadan juga berkaitan dengan nilai gizinya yang mampu mengembalikan stamina. Gula aren atau gula merah di dalamnya mengandung karbohidrat sederhana yang cepat diproses tubuh menjadi tenaga. Sementara itu, pisang sebagai isian utama kaya akan kalium yang membantu menjaga keseimbangan cairan setelah seharian berpuasa.

Ubi dan singkong pun memberikan tambahan karbohidrat kompleks yang membuat tubuh lebih bertenaga. Kombinasi ini menjadikan kolak sebagai takjil yang bukan hanya manis, tetapi juga fungsional. Dengan kata lain, kolak bukan sekadar tradisi, melainkan pilihan cerdas untuk mengisi kembali tenaga saat Ramadan.

3. Punya sejarah dan makna religius

ilustrasi buka puasa bersama (pexels.com/DEEN SALLY)

Di balik popularitasnya, kolak memiliki sejarah panjang dalam tradisi masyarakat Indonesia saat Ramadan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kolak sudah dikenal sejak masa penyebaran Islam di Nusantara. Kata “kolak” bahkan dipercaya berasal dari kata Arab khalaqa yang berarti menciptakan, sebagai pengingat manusia kepada Sang Pencipta.

Sebagian orang juga menghubungkannya dengan kata khalik yang bermakna Tuhan, sehingga kolak dipandang sebagai simbol perenungan spiritual. Meskipun pemahaman ini tidak selalu disadari oleh masyarakat luas, tradisi menghadirkan kolak di meja berbuka terus dilestarikan. Faktor historis tersebut semakin menguatkan posisi kolak sebagai ikon kuliner Ramadan.

4. Mudah dibuat dan bahannya terjangkau

ilustrasi sedang merebus kacang hijau (pexels.com/Jaycee300s)

Alasan lain kenapa kolak selalu hadir saat Ramadan adalah karena cara membuatnya relatif sederhana. Bahan-bahannya seperti pisang, ubi, santan, dan gula merah mudah ditemukan di pasar tradisional maupun supermarket. Proses memasaknya pun tidak memerlukan teknik khusus sehingga bisa dibuat dalam jumlah besar sekaligus.

Karena mudah dibuat dalam jumlah banyak, kolak pas dinikmati bersama keluarga besar atau dibagikan kepada sesama saat berbuka. Biayanya pun cukup terjangkau jika dibandingkan dengan takjil modern yang variasinya semakin luas. Tak heran jika faktor kepraktisan dan harga ekonomis membuat kolak selalu jadi pilihan favorit saat Ramadan.

5. Sudah mengakar dalam budaya Ramadan di Indonesia

ilustrasi berbuka puasa dengan kolak (pexels.com/Sami Abdullah)

Kolak bukan hanya makanan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya buka puasa di Indonesia. Setiap memasuki bulan Ramadan, penjual kolak mudah ditemui di berbagai sudut kota hingga desa. Kehadirannya seolah menjadi penanda bahwa bulan suci telah tiba.

Kebiasaan ini terus diteruskan secara turun-temurun hingga menghadirkan kenangan manis setiap Ramadan tiba. Tak sedikit orang yang merasa waktu berbuka terasa kurang sempurna tanpa kehadiran kolak, baik disajikan hangat maupun dingin. Itulah sebabnya kolak selalu bertahan sebagai takjil andalan di bulan suci.

Kolak memang bukan sekadar hidangan manis untuk berbuka, tetapi juga bagian dari tradisi dan makna Ramadan yang terus hidup hingga kini. Dari rasa yang menghangatkan hingga nilai sejarah yang menyertainya, tak heran jika kolak selalu jadi takjil favorit setiap tahun. Jadi, sudahkah kamu menyiapkan kolak favorit untuk menemani momen berbuka Ramadan tahun ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team