Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Makanan Khas Ramadan di Medan yang Paling Dicari untuk Buka Puasa
Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (Mangara Wahyudi)
  • Ramadan di Medan selalu diramaikan dengan tradisi kuliner khas yang hanya muncul setahun sekali, menciptakan suasana hangat dan penuh nostalgia di berbagai sudut kota.
  • Lima makanan khas seperti bubur pedas, pakkat bakar, toge panyabungan, lemang bambu, dan kue tradisional menjadi incaran utama warga menjelang waktu berbuka puasa.
  • Meski harga bahan pokok naik-turun dan cuaca tak menentu, semangat masyarakat untuk menikmati sajian Ramadan tetap tinggi, menjaga hidupnya tradisi kuliner tahunan ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan tahun ini di Medan terasa riuh sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Saat sore belum benar-benar gelap, jalanan sudah padat. Lapak takjil memanjang, motor berhenti sebentar tanpa banyak basa-basi, orang turun cepat-cepat beli lalu lanjut lagi. Mungkin, ada rasa takut kehabisan. Takut tidak kebagian menu yang memang cuma muncul saat bulan puasa.

Di tengah harga bahan pokok yang naik-turun dan cuaca Medan yang panasnya kadang diganti hujan, makanan khas Ramadan tetap jadi tujuan. Bubur pedas tetap diantri. Pakkat tetap dibakar sampai hitam legam. Toge panyabungan tetap diserbu pembeli yang haus. Setiap tahun pola ini terulang, dan tetap saja ramai.

Dari halaman masjid sampai sudut pasar tradisional, khasnya ramadan selalu memberi warna pada sajian ramadhan, dan dari warna kuliner yang ada, inilah lima kuliner khas Ramadan di Medan yang selalu dicari dan terasa lebih hidup saat bulan puasa. Mari simak!

1. Bubur pedas Melayu Deli

Bubur sup khas menu buka puasa di Masjid Raya Al-Mahsun Medan (IDN Times/Prayugo Utomo)

Menjelang berbuka, halaman Masjid Raya Al-Mashun mulai ramai. Orang datang membawa mangkuk dari rumah. Antre dengan sabar. Di Masjid Al-Osmani juga begitu. Tradisi ini sudah berjalan lama.

Bubur pedasnya kental. Rempah dan daun-daunannya banyak. Rasanya hangat di dalam perut hadir sekaligus melepas keroncongan. Dimasak di kuali besar dengan kayu bakar, Aromanya langsung dikenali. Sekali coba, biasanya tahun depan akan dicari lagi.

2. Pakkat Bakar

Penjual pakkat di jalan Letda Sujono (Mangara Wahyudi)

Pakkat adalah rotan muda. Dibakar sampai hitam di luar, lalu dikupas. Bagian dalamnya lembut, sedikit pahit, lalu muncul gurihnya. Sederhana, tapi bikin penasaran.

Saat Ramadan, penjual pakkat mudah ditemui menjelang magrib. Orang beli untuk pelengkap berbuka. Di bulan lain mungkin ada, tapi sulit sekali untuk ditemukan. Ada sensasi berbeda ketika menikmatinya di bulan puasa.

3. Toge Panyabungan

Toge Panyabungan Martondi yang terletak di Jalan Letda Sudjono (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Ramadan tahun ini, toge panyabungan kembali ramai dicari. Lapaknya muncul lagi di beberapa titik takjil. Warna-warni isinya menarik perhatian orang yang lewat. Banyak yang berhenti mendadak, pesan satu, kadang dua.

Isinya tetap sama. Ketan hitam, cendol, lupis, sirup merah, santan kental. Disajikan dingin. Setelah seharian menahan haus di tengah cuaca Medan yang panasnya tidak main-main, satu mangkuk terasa menyegarkan. Tidak berat, tapi cukup mengembalikan tenaga.

Menariknya, di tengah harga bahan yang sering naik, penjual tetap berusaha menjaga porsi dan rasa. Pembeli pun tetap datang. Ada yang sudah langganan tiap tahun. Ada yang baru coba karena ikut-ikutan teman. Ramadan membuat toge panyabungan terasa lebih hidup, lebih dicari, dan lebih punya cerita.

4. Lemang Bambu

Lemang Bambu Khas Jeneponto/Muizzu Khaidir

Deretan bambu bersandar dekat bara api. Itu lemang yang sedang dipanggang. Beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu, lalu diputar perlahan sampai matang.

Aromanya wangi. Rasanya legit. Banyak orang membeli lebih dari satu untuk dibawa pulang. Ramadan membuat penjual lemang lebih mudah ditemui di berbagai sudut kota.

5. Kue tradisional khas Ramadhan

IDN Times/Masdalena Napitupulu

Sore hari di sekitar Pasar Petisah terasa padat. Meja-meja penuh kue lapis, talam, putu bambu, dan jajanan lama lainnya. Ada yang beli sedikit untuk berbuka, ada juga yang borong untuk keluarga.

Beberapa pedagang memang lebih aktif saat Ramadan. Permintaan meningkat. Suasananya hangat, ramai, sedikit riuh. Tapi justru itu yang dicari.

Ramadan di Medan terasa lengkap dengan makanan-makanan ini. Ada antrean. Ada asap tipis di udara. Ada percakapan kecil antarorang yang tidak saling kenal. Setiap tahun sama, tapi tetap ditunggu. Dan begitu bulan puasa lewat, sebagian rasa itu ikut menghilang, menunggu kembali tahun depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team