Comscore Tracker

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke Kafe

Ciri khas modifikasinya, buntutnya cembung

Medan, IDN Times - Ada yang menarik dari hobi yang dilakukan lima pemuda asal Kota Medan ini. Mereka adalah pemilik motor custom ber-genre klasik Caferacer. Sejak 27 Desember 2016, mereka membentuk komunitas bernama Caferacer. Bahkan mereka juga mewadahi sesama pecinta motor klasik itu. 

Biasanya, mereka akan mengendarai kereta tersebut dari satu kafe ke kafe lainnya. Kegiatan yang identik dilakukan bangsa barat khususnya Inggris pada tahun 1960-an.

1. Tertarik membuat komunitas karena Caferacer lebih jarang ditemui

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke KafeDok/Istimewa

Razi (33) yang merupakan satu dari lima penggagas Caferacer, mengatakan bahwa dirinya dan teman-teman tertarik membuat perkumpulan karena memiliki hobi motor tempahan. Hobi ini tergolong langka di Kota Medan.

Caferacer lebih jarang ditemui, dibanding penunggang motor genre Japstyle, Boober, ataupun Cooper.

"Jadi kita ini kan tergolong jarang juga. Jadi kita coba buat komunitas ini untuk tukar pikiran, tukar sparepart dan sebagainya. Alhasil anggota pun bertambah," tuturnya.

Baca Juga: Unik Banget, Ada Honda Monkey, Katana, dan Super Cub 125 di GIIAS 2019

2. Anggota Komunitas Caferacer saat ini adalah 13 orang

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke KafeDok/Istimewa

Lanjut Razi, anggota tetap Caferacer Medan saat ini adalah 13 orang. Namun saat-saat tertentu seperti kopi darat atau nongkrong, mereka bisa kedatangan tamu lain sesama pecinta caferacer. Jumlahnya pun bisa mencapai 30 orang.

Para anggota dalam komunitas Caferacer Medan kerap bertemu seminggu sekali pada Jumat malam. Seperti arisan komunitas motor lain di Medan pada umumnya.

"Jadi selain nongkrong dari kafe ke kafe kita itu punya sekretariat sendiri. Sekretariat kita ada di Jalan Seroja, Medan Sunggal. Nah, di sana kita ngumpul tuh, biasanya ngebahas mau ke mana terus kegiatan apa masing-masing," cerita Razi.

3. Tak hanya sebatas hobi, komunitas ini juga biasanya akan meyisihkan donasi untuk aksi sosial

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke KafeDok/Istimewa

Tak hanya sebatas hobi, komunitas ini juga biasanya akan meyisikan donasi untuk aksi sosial. "Seperti mendonasikan bantuan perlengkapan sekolah dan sembako untuk pelajar di Kaki Gunung Sinabung yang dilakukan awal 2019 lalu," ujarnya.

4. Keistimewaan Caferacer ada pada ujung belakang motor yang cembung, sehingga membuat penggunanya lebih eksklusif karena tidak bisa ditumpangi

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke KafeDok/Istimewa

Lalu, saat ditanya terkait keistimewaan caferacer ini, Razi menuturkan keistimewaannyaada pada ujung belakang motor yang cembung. Sehingga membuat penggunanya lebih eksklusif karena tidak bisa ditumpangi.

"Pembeda kita kan di belakangnya itu yang agak cembung. Jadi sejarah mulanya motor ini dipakai untuk balapan pada zaman perang dunia. Masa-masa itu motor balapnya seperti ini, bukan seperti MotoGP. Balapannya itu patokannya dari kafe ke kafe, seperti namanya." kata Razi.

Hingga saat ini, motor-motor caferacer berubah seperti kelas MotoGP yang tak lagi memiliki desain ujung belakang cembung.

5. Memodifikasi dan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan motor Caferacer relatif tergantung selera masing-masing individu

Komunitas Caferacer Medan, Genre Motor Klasik dari Kafe ke KafeDok/Istimewa

Kemudian, saat disinggung bagaimana memodifikasi dan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan motor caferacer. Razi mengatakan semuanya relatif tergantung selera masing-masing individu.

"Bengkelnya ya masing-masing biasanya kalau teman teman yang udah buat motor. Motornya pun gak selalu dua tak, bahkan ada yang matic juga bisa. Untuk start pengeluran kira-kira Rp5 juta ke atas lah," ujar Razi.

Baca Juga: Ini Mobil-mobil Sport Legendaris yang Reinkarnasi di GIIAS 2019

Topic:

  • Masdalena Napitupulu
  • Doni Hermawan

Just For You