TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

5 Cara In-group Bias Memengaruhi Dinamika Kelompok

Fenomena kecenderungan menyukai kelompok sendiri!

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Monstera)

Pernah gak sih kamu merasa lebih dekat sama orang-orang yang punya kesamaan denganmu? Misalnya, sama-sama suka band tertentu atau berasal dari kota yang sama. Nah, itu dia yang namanya in-group bias. Sederhananya, kita tuh punya kecenderungan buat lebih suka dan percaya sama orang-orang yang kita anggap 'satu tim' dengan kita.

In-group bias ini ternyata bisa mempengaruhi banyak hal dalam hidup kita, lho. Mulai dari cara kita berteman, bekerja sama, sampai membentuk opini tentang orang lain. Penasaran kan, gimana sih cara in-group bias ini bekerja? Nah, berikut adalah lima cara in-group bias yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, simak!

1. Preferensi terhadap anggota kelompok sendiri

Kita cenderung memberikan perlakuan istimewa kepada mereka yang kita anggap ‘satu tim’ dengan kita. Misalnya, saat kamu melihat seseorang yang mendukung tim olahraga favoritmu, kamu lebih mudah memberikan senyum atau bantuan. Ini terjadi karena adanya identifikasi diri dengan kelompok tersebut, yang secara tidak sadar mempengaruhi sikap dan perilaku kita.

Selain itu, preferensi ini juga termanifestasi dalam keputusan sehari-hari, seperti memilih teman kerja untuk proyek atau memberikan rekomendasi pekerjaan. Kita lebih cenderung membantu mereka yang memiliki kesamaan, baik itu hobi, asal daerah, atau bahkan pilihan fashion.

2. Persepsi negatif terhadap kelompok lain

In-group bias membuat kita cenderung melihat kelompok lain dengan pandangan yang kurang baik. Ini bisa berujung pada prasangka dan diskriminasi, lho. Kita mungkin secara tidak sadar memberikan label negatif atau menganggap kelompok lain kurang kompeten hanya karena mereka berbeda dari kelompok kita.

Persepsi negatif ini sering kali muncul dalam bentuk stereotip atau asumsi umum yang tidak berdasar. Misalnya, menganggap bahwa semua anggota kelompok tertentu memiliki sifat yang sama, yang bisa mengarah pada kesalahpahaman dan konflik antarkelompok.

Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Hubungan Kerja Sama Tim di Tempat Kerja

3. Konflik dan persaingan

Ketika ada sesuatu yang bernilai diperebutkan, in-group bias bisa memicu persaingan antarkelompok. Hal ini sering terjadi di lingkungan kerja atau dalam kompetisi olahraga. Kita menjadi lebih protektif terhadap apa yang kita miliki dan cenderung bersikap defensif terhadap kelompok lain yang kita anggap sebagai pesaing.

Persaingan ini tidak hanya terbatas pada sumber daya fisik seperti uang atau posisi, tetapi juga pada pengakuan dan status sosial. Kita ingin kelompok kita dianggap lebih baik, yang bisa memicu sikap kompetitif yang tidak sehat.

4. Solidaritas kelompok

In-group bias juga meningkatkan rasa solidaritas dalam kelompok. Kita jadi lebih rela berbagi informasi dan sumber daya dengan anggota kelompok sendiri. Ini menciptakan ikatan yang kuat dan mendukung kerjasama yang erat di antara anggota.

Rasa solidaritas ini bisa sangat positif, membantu kelompok untuk mencapai tujuan bersama dan mendukung satu sama lain dalam situasi sulit. Namun, ini juga bisa membuat kita kurang terbuka terhadap ide-ide baru dan orang-orang dari luar kelompok kita.

Verified Writer

Muhamad Aldifa

Menulis di saat senggang

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Berita Terkini Lainnya