Comscore Tracker

Maradona dan Kisahnya dengan Publik Naples di Piala Dunia 1990

Maradona meninggal dunia di usia 60 tahun

Hari ini, sepak bola kembali kehilangan seorang legendanya. Diego Armando Maradona, salah satu legenda terbesar sepak bola dunia mengembuskan napas terakhirnya, Rabu (25/11/2020) malam.

Diego dirawat sejak 2 November di salah satu rumah sakit Ipensa, di La Plata, Argentina karena pembekuan di otaknya. Setelah hampir sebulan melawan penyakitnya itu, Maradona meninggal dunia.

Nama Maradona selalu punya tempat tersendiri di hati pecinta sepak bola. Terutama di dua negara, Argentina dan Italia. Lebih spesifik Naples.

Maradona mempersembahkan sebuah gelar juara dunia untuk Argentina dan kemudian gelar Serie A untuk Napoli.

Sempat memperkuat Barcelona (1982-84), kiprahnya di tanah Spanyol berantakan. Maradona jadi sasaran tekel-tekel berbahaya yang kerap membuatnya cedera. Musim terakhirnya bersama La Blaugrana diwarnai perkelahian brutal dengan para pemain Athletic Bilbao pada final Copa Del Rey. Melihat si lincah sudah di luar batas, manajemen pun menjualnya ke Napoli.

Maradona datang dengan memecahkan rekor transfer, terlebih Corrado Ferlaino selaku Presiden klub waktu itu memang punya kebijakan belanja jor-joran demi mewujudkan ambisi menyodok dominasi klub-klub Utara macam Juventus, Inter Milan dan AC Milan.

Kabar kedatangan gelandang didikan Argentinos Juniors membuat penduduk kota pelabuhan itu semringah.

1. Keputusan pindah ke Napoli ternyata menjadi hal terbaik yang pernah dilakukan Maradona

Maradona dan Kisahnya dengan Publik Naples di Piala Dunia 1990thenational.ae

Sebuah anekdot pun muncul: “Perumahan, sekolah, bus, lapangan kerja dan sanitasi kami boleh saja amat kurang. Tapi kami punya Maradona.” Tujuh tahun kebersamaannya dengan Partenopei diisi prestasi dan trofi. Meski skandal narkoba dan kedekatannya dengan mafia sempat mencuat, seantero Napoli tetap memujanya apapun yang terjadi.

Satu bentuk rasa hormat Napolitano (Sebutan penduduk Napoli) kepada Maradona terlihat dalam Piala Dunia 1990. Argentina datang ke Italia, yang menjadi tempat penyelenggaraan, dengan status sebagai juara bertahan.

Namun langkah mereka di babak fase grup malah terseok-seok. Kalah 0-1 dari Kamerun, menang 2-0 atas Uni Soviet serta ditahan imbang 1-1 oleh Rumania.

Sang juara bertahan melangkah ke babak 16 besar sebagai peringkat ketiga grup terbaik, jelas bukan sebuah capaian yang bagus. Ditantang Brasil, Maradona terpaksa turun dengan engkel cedera.

Tapi, umpan-umpannya masih sanggup memanjakan tandemnya di lini depan yakni Claudio Caniggia. Mereka menundukkan sang rival abadi dengan skor 1-0.

2. Jelang laga kontra Italia di semi final Piala Dunia 1990, Maradona mengeluarkan pernyataan kontroversial

Maradona dan Kisahnya dengan Publik Naples di Piala Dunia 1990Open Skies

Menang adu penalti atas Yugoslavia pada perempat final, di semi final Argentina ternyata harus bertemu Italia. Yang lebih dramatis, laga penting tersebut ternyata mengambil tempat di Stadion San Paolo, kandang Napoli alias “rumah kedua” Maradona. Hal unik terjadi. Alih-alih membahas sepak bola, Maradona malah berbicara isu ketimpangan sosial antara Utara dan Selatan Italia.

"Aku tidak suka dengan kenyataan bahwa semua orang tiba-tiba memohon penduduk Napoli menjadi orang Italia dan mendukung tim nasional Italia saat berlaga. Padahal Napoli selalu dipinggirkan. Inilah kota yang amat menderita akibat ketidakadilan dan masalah rasial. Jangan lupa, kalian adalah orang-orang dari selatan yang diperlakukan seperti orang Afrika.

Pembangunan yang tidak merata memang membuat orang-orang Selatan, seperti penduduk Napoli, terpinggirkan. Ketika wilayah utara dikenal sebagai pusat kegiatan industri, wilayah selatan lebih berfokus pada pertanian dan agrikultur.

Alhasil, jumlah pengangguran di selatan jauh lebih tinggi daripada utara. Dan masalah tersebut belum menemui jalan keluar hingga kini."

3. Tak diunggulkan, "La Albiceleste" ternyata sanggup menundukkan tuan rumah

Maradona dan Kisahnya dengan Publik Naples di Piala Dunia 1990FIFA.com

Kontan saja pernyataan Maradona menjadi kontroversi dan diduga hanya bertujuan agar seluruh Napoli berbalik mendukung Argentina. Selasa sore 13 Juli 1990, kedua tim akhirnya bertemu.

Sebuah spanduk yang terpasang di tribun atas seolah menggambarkan sikap seisi kota atas pernyataan Maradona.

Diego, kau selalu ada di hati kami – tapi Italia adalah tanah air kami!

Sempat diduga akan tegang, yang terjadi justru sebaliknya. Saat lagu kebangsaan Argentina berkumandang dari pengeras suara, 60 ribu orang yang memadati Stadion San Paolo mendadak hening penuh rasa hormat.

Amat berbeda dari perlakuan para penonton pada laga-laga Argentina sebelumnya yang justru mencemooh lagu Himno Nacional Argentino.

Suasana berbeda berdampak pada permainan Argentina di lapangan. Mereka jadi lebih semangat di “rumah kedua” sang kapten tim. Padahal di lima laga sebelumnya, mereka dikritik karena membosankan.

Menghadapi tim kuat Italia, satu kandidat juara, skuat asuhan Carlos Bilardo itu menunjukkan determinasi sepanjang laga.

4. Sayang, Maradona dan kawan-kawan kalah 0-1 dari Jerman di partai final

Maradona dan Kisahnya dengan Publik Naples di Piala Dunia 1990pasionfutbol.com

Napoli tetap bersorak untuk Italia, negara yang menepikan mereka selama ini. Namun beberapa bendera biru-putih-biru milik Argentina terlihat berkibar di bangku penonton. 120 menit berakhir dengan skor 1-1, adu penalti pun dilakukan sebagai penentuan siapa yang berhak melaju ke final. Dalam adu keberuntungan itu, Italia kalah 4-3.

Gli Azzuri yang amat perkasa alias tak pernah kalah sejak fase grup, ternyata takluk di tangan tim yang lolos ke babak gugur berkat kuota peringkat tiga terbaik. Prediksi banyak pengamat gagal total.

Usai 120 menit yang melelahkan, Maradona membalas “perlakuan” para penonton untuk timnya dengan mengelilingi trek atletik sembari melakukan gestur terima kasih.

Sayang, mereka kalah 0-1 dari Jerman Barat di laga pamungkas. Mimpi mempertahankan gelar juara pupus. Maradona kembali ke Napoli tetap sebagai pujaan. Namun kebersamaan manis tak berlangsung lama.

Tahun 1991, Si Gempal dihukum skorsing selama 15 bulan akibat gagal melewati tes narkoba. Alhasil “rumah kedua” harus dia tinggalkan dalam penuh rasa malu.

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Achmad Hidayat Alsair di IDN Times Community dengan judul Cerita Menarik di Piala Dunia 1990: Maradona Jadi Juru Selamat Napoli

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya