Comscore Tracker

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan Hope

Hope kini trauma terhadap manusia

Jakarta, IDN Times - Kasus penembakan orangutan bernama Hope beberapa waktu lalu bikin hati tersayat. Pasalnya ada lebih 70 peluru senapan angin bersarang di tubuhnya. 

Hope, setelah menjalani operasi beberapa kali, kini bisa bertahan hidup. Namun anaknya tewas.

Dua remaja berinisial AIS (17 tahun) dan SS (16 tahun) yang telah mengaku menembak kera besar betina itu hingga buta, hanya dikenai sanksi sosial. Keduanya, diminta untuk melakukan azan maghrib selama satu bulan.

Hal itu jelas diprotes oleh publik, lantaran sanksi yang diberikan dinilai tak berimbang, apalagi akan menimbulkan efek jera. Menurut Kepala  Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Sapto Aji Prabowo, vonis itu diputuskan melalui diversi di tingkat penyidikan yang disepakati oleh penyidik kepolisian setempat, Balai Pemasyarakatan Aceh dan Dinas Sosial di ruang rapat Polres Aceh Singkil pada (29/7) lalu.

Keduanya dijatuhi hukuman ringan, karena sesuai aturan mereka masih berada di bawah umur orang dewasa.

"Menurut keterangan Undang-Undang, pelaku tergolong berada di bawah umur, sehingga penyidik dari Polda Aceh harus mendapatkan rekomendasi dari Bapas untuk penetapan tersangka," kata Sapto kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Selasa (6/8) 

Usai dilakukan penilaian oleh BAPAS, ternyata pelaku dikembalikan ke orang tua masing-masing untuk pembinaan. Lalu, bagaimana sebenarnya kronologi hingga Orang Utan Hope ditembak menggunakan senjata angin oleh dua remaja tersebut? Apa yang akan dilakukan oleh BKSDA Aceh untuk mencegah hal tersebut berulang?

Baca Juga: Penembak Hope Hanya Dihukum Azan, Begini Komentar Pedas dari Aktivis

1. Dua remaja ingin merebut anak orang utan Hope karena dinilai lucu

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan Hope(Orang Utan Hope ketika diperiksa) Dokumentasi BKSDA Aceh

Sapto kemudian menceritakan kembali kronologi yang terjadi pada (10/3) lalu di kebun milik masyarakat di Kabupaten Subulussalam, Aceh. Berdasarkan pengakuan kedua remaja itu kepada polisi, mereka ingin merebut anak orang utan Hope yang masih berusia satu bulan. 

"Pelaku ini menembak Hope menggunakan senapan angin, karena ingin merebut anaknya. Kemudian, dia memanjat pohon dan memukul Hope dengan menggunakan alat untuk memetik sawit yang namanya dodos, kemudian Hope jatuh dari ketinggian dan mengalami patah tulang," kata Sapto melalui telepon pada Selasa malam (6/8). 

Kemudian, oleh remaja berinisial AIS, anak orang utan Hope itu dibawa ke rumah untuk dipelihara. Ketika tiba di rumah, ayahnya kemudian menanyakan untuk apa membawa pulang anak orang utan. 

"Kan itu satwa dilindungi. Akhirnya, anak itu dikembalikan ke Hope, tapi kondisi Hope usai ditembak dan jatuh itu lemah kan," tutur Sapto. 

Lantaran kondisi induknya yang tidak prima, maka ia tidak bisa mengurus anaknya dengan baik. Alhasil, bayinya yang baru berusia satu bulan itu mengalami malnutrisi dan mati. 

2. Usai dirontgen, ditemukan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuh Orang Utan Hope

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan Hope(Hasil x ray orang utan Hope yang menunjukkan terdapat peluru) www.facebook.com/kitabisa.com

Kondisi orang utan Hope yang semakin kritis akhirnya membuat petugas BKSDA Aceh melarikannya ke sebuah klinik di Kabupaten Sibolangit, Sumatera Utara. Beruntung, orang utan berusia 35 tahun itu masih bisa diselamatkan. 

Sejauh ini sudah ada tujuh butir peluru dari senapan angin yang berhasil diangkat dari tubuhnya. Selain itu, dokter juga telah melakukan operasi akibat tulang selangkanya yang patah. 

Namun, yang mengejutkan ketika dokter melakukan rontgen, jumlah peluru di dalam tubuh Hope sangat banyak. Jumlahnya mencapai 74 buah. Sapto menduga Hope ditembaki menggunakan senapan angin bukan oleh dua remaja itu saja. 

"Kami memiliki dugaan sebelumnya Hope juga sudah pernah ditembaki, karena dianggap mengganggu kebun. Karena ada luka di mata kiri dan setelah kami analisa, luka itu disebabkan peristiwa dua bulan sebelumnya," kata dia. 

Lagipula, Sapto melanjutkan, senjata angin tidak bisa digunakan untuk memberondong.

"Karena harus satu-satu. Artinya, ada kemungkinan peristiwa ini sudah berlangsung cukup lama," katanya lagi. 

Namun, BKSDA Aceh menyayangkan mengapa warga tidak melaporkan sejak awal ketika menemukan Hope. 

3. Dalam catatan BKSDA Aceh, orang utan ditembak dengan senapan angin sudah peristiwa keempat

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan HopePixabay.com /edgarwinkler

Dalam data yang dimiliki oleh BKSDA Aceh, peristiwa orang utan ditembaki dengan senapan angin sudah kali keempat terjadi. Sapto menyebut, itu merupakan data se-Aceh pada tahun ini. 

"Dulu memang pernah ada juga orang utan yang ditembak dengan senapan angin, tapi gak separah ini," kata Sapto. 

4. BKSDA menyosialisasikan kepada warga apabila ditemukan satwa yang terluka bisa menghubungi mereka

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan HopeDok.IDN Times/Istimewa

Untuk mencegah peristiwa serupa kembali berulang, maka BKSDA Aceh telah menyosialisasikan kepada masyarakat agar segera menghubungi call centre mereka apabila ditemukan satwa yang terluka. Kalian bisa menghubungi di nomor 085362836024 

"Sejauh ini, kami sudah pernah menerima dua laporan di area sekitar situ dari masyarakat dan kami tindak lanjuti," kata Sapto. 

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada 2018, ada 53 kali evakuasi satwa yang telah ditangani oleh BKSDA Aceh. Laporan terbanyak adalah kejadian konflik satwa gajah. Sementara, untuk satwa orang utan di wilayah Lhokseumawe dan Subulusalam, ada tiga individu yang berhasil dievakuasi. 

5. Orangutan Hope tidak bisa kembali ke habitat aslinya di alam bebas

Diserang 2 Remaja hingga Buta, Ini Kronologi Penembakan Orangutan HopePixabay.com /ShekuSheriff

Akibat peristiwa yang dialami, kini Hope menjadi trauma ketika berhadapan dengan manusia. Ia pun sudah sepenuhnya buta lantaran peluru senapan angin mengenai kedua indera penglihatannya. 

"Gak mungkin lagi Hope akan kami rilis ke alam liar, karena dia kan sudah totally blind," kata Sapto. 

BKSDA masih memikirkan langkah lanjutan bagi Hope usai nanti ia sembuh dari proses pengobatan yang memakan waktu sangat lama. Sapto menjelaskan kini yang menjadi fokus adalah memulihkan kondisi Hope. 

"Apakah nantinya akan kami letakan di kebun binatang atau tempat konservasi, itu akan kami pikirkan belakangan," kata dia. 

Baca Juga: Jadi Spesies Baru, Berikut 4 Fakta tentang Orangutan Tapanuli

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya