Comscore Tracker

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas 

Dokter yang hobi fotografi

Pematangsiantar, IDN Times - Mendedikasikan diri sebagai dokter gigi yang menangani pasien berkebutuhan khusus tidaklah mudah. Berbagai kendala akan ditemui saat menangani pasien disabilitas, seperti sulitnya komunikasi dan mood pasien yang tidak menentu.

Namun semua itu tidak menjadi penghalang bagi drg Maruli Juara Aritonang untuk mengabdi. Alumni Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara ini telah menjalani profesi sebagai dokter gigi bagi penderita disabilitas sejak 2007 silam.

1. Bermula dari menjadi relawan saat bencana Tsunami Aceh 2004

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara sejak 2001 dengan biaya sendiri, Maruli Juara Aritonang sempat putus asa dan berniat berhenti kuliah.

Ia merasa tidak sanggup dan berkali-kali juga telah melayangkan surat pengunduran diri sebagai mahasiswa ke pihak kampus. Namun usahanya itu ditolak, sehingga Maruli lebih memilih mengambil cuti.

Tahun 2004 masyarakat Aceh tertimpa musibah. Ratusan nyawa melayang saat bencana tsunami menerpa kota Serambi Mekah itu. Mendapat panggilan jiwa untuk berbuat, Maruli pun berangkat sebagai relawan di Aceh bagian barat.

Saat menjadi relawan dengan status mahasiswa kedokteran, Maruli bertemu dengan seseorang yang memiliki yayasan khusus disabilitas. Ia pun memantapkan diri merawat anak berkebutuhan khusus di yayasan tersebut.

Kurang lebih selama empat bulan menjadi relawan di lingkungan penderita disabilitas, Maruli mendapat banyak pengalaman berharga. Ia melihat jika anak-anak itu memiliki kekurangan tapi masih bisa berjuang agar dapat beraktivitas layaknya anak normal.

"Di situ saya merasa terpukul. Mereka yang tidak memiliki kekurangan di kaki tapi berjuang untuk tetap jalan. Saya sendiri yang normal, tapi merasa tidak sanggup hanya melanjutkan kuliah saja," katanya.

Baca Juga: 10 Potret Mikaila & Athaya, Dua Anak Ricky Harun yang Super Imut

2. Mendapat gelar dokter gigi tahun 2007 dan membuka klinik di Siantar

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Sejak saat itu, Maruli memutuskan kembali berkuliah, lulus sampai pengambilan sumpah profesi di tahun 2007. Maruli pun kembali ke kota Siantar untuk membuka klinik di Jalan Viyata Yudha, Kecamatan Siantar Sitalasari.

Ia juga sempat menjadi dokter tetap di Rumah Sakit Harapan, kemudian meninggalkan zona nyaman dan lebih memilih fokus di klinik praktek dokter giginya. Dari situ pula, Dokter Maruli membuka layanan bagi anak disabilitas.

3. Pelayanan dan pengobatan gratis bagi pasien disabilitas

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Dokter yang kini berusia 37 tahun membuka layanan dan pengobatan gratis bagi pasien disabilitas. Ia memiliki pandangan tersendiri kepada anak berkebutuhan khusus yang seumur hidup harus berjuang melawan penyakit.

Kebanyakan pasien Dokter Maruli merupakan anak asuh di Panti Rehabilitasi Harapan. Panti tersebut menjadi tempat perawatan anak disabilitas untuk mendorong dan mendidik anak asuh agar dapat memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat umum.

Meskipun begitu, Maruli tidak menampik juga melayani pasien umum. Ia juga mengaku membutuhkan penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Pasien umum ya saya buat tarifnya seperti biasa. Tapi kalau pasien disabilitas itu gratis, sama sekali tidak saya minta bayaran," ujarnya.

Bagi Maruli, senyum yang terpancar dari wajah pasien disabilitas nya merupakan bayaran paling berharga. "Yang ku dapat dari mereka itu senyumnya. Saya bahagia," tuturnya.

4. Konsultasi dengan dokter luar negeri dalam penanganan pasien disabilitas

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Maruli menuturkan penanganan kepada pasien umum dan disabilitas sangat jauh berbeda. Bagi pasien disabilitas, kata Maruli, dibutuhkan perlakuan khusus kepada pasien sehingga mendapat hati nya.

Mood pasien disabilitas menjadi kendala yang sering kali terjadi. Biasanya sebelum berangkat ke kliniknya, pasien disabilitas menurut. Namun keadaan itu dapat berbalik saat berada di bangku pasien.

"Seperti tadi itu. Kita harus membuat dia senyaman mungkin. Semua yang kita lakukan harus dari persetujuan dia. Ada juga sebelum kesini pasiennya mau berobat, tapi setelah sampai, tiba-tiba mood-nya hilang dan menolak," jelasnya.

Dengan bantuan relasi dokter yang berada di luar negeri, Maruli mampu mengatasi itu semua. Ia mengaku kerap berbagi pengalaman dengan sejumlah dokter luar negeri yang memang menangani pasien disabilitas seperti dirinya.

5. Dokter Maruli mendapat beasiswa S2 LPDP di Inggris untuk spesialis penanganan khusus

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Saat ini Maruli Aritonang masih menunggu jadwal untuk berangkat ke Inggris. Di sana ia akan menempuh pendidikan dokter spesialis penanganan khusus disabilitas selama dua tahun.

Jika sudah menyelesaikan pendidikannya, Maruli merupakan satu-satunya dokter yang mendapat mendapat gelar dokter spesialis penanganan khusus disabilitas di Indonesia.

"Beasiswanya itu dari Kementerian Keuangan. Pendidikannya di Inggris selama dua tahun. Kalau katanya sih, belum ada yang spesialis penanganan khusus itu di Indonesia," bebernya.

6. Hobi fotografi dan ikut komunitas Help Portrait

Kisah Dokter Gigi Maruli, Buka Klinik Gratis untuk Pasien Disabilitas IDN Times/Gideon Aritonang

Menjadi seorang dokter bagi Maruli bukan menjadi batasan mengenal dunia luar. Seorang dokter, bagi Maruli, bukan menjadikan ia kaku dalam menjalani hidup.

Dokter Maruli ternyata memiliki hobi fotografi. Hobi itu ia jalani dari masih menjadi mahasiswa sampai mendapat gelar dokternya.

Namun hobi ia jalani bukan tanpa kegiatan sosial. Ia bersama puluhan temannya yang tergabung dalam Komunitas Help Portrait kerap melakukan kegiatan sosial bagi anak anak yang kurang mampu.

"Saya gabung juga dengan teman-teman yang hobi motret. Kegiatannya ya ke panti asuhan membuat acara dan berbagi," ujarnya.

Baca Juga: Tukar Uang Baru untuk Idul Fitri di Siantar? Di sini Tempat-tempatnya

Topic:

  • Doni Hermawan
  • Arifin Al Alamudi

Just For You