Comscore Tracker

Detik-detik Soeharto Kritis, Habibie Hanya Bisa Berdoa dari Balik Kaca

Pak Harto pada Habibie: "Kita bertemu secara batin saja”

Jakarta, IDN Times - Bacharuddin Jusuf Habibie, meninggal dunia pada usia 83 tahun, tanggal 11 September 2019.

Kepergian Presiden Ke-3 RI ke tempat peristirahatan yang terakhir, diantar sejumlah tokoh termasuk Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Presiden ke-5 Megawati Sukarnoputri, dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, di antara ratusan tokoh  yang memberikan penghormatan terakhir, tak nampak keluarga Cendana atau sebutan bagi putra-putri Presiden Soeharto.

Padahal, Habibie pernah jadi menteri kesayangan Soeharto selama tiga periode dan dipilih menjadi wakil presiden. Habibie lalu menjadi Presiden menggantikan Soeharto yang menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998.

Lalu, mengapa keluarga Soeharto tak nampak melayat saat Habibie meninggal dunia? Rupanya, Soeharto tak mau bertemu dengan Habibie sejak  Soeharto memutuskan lengser dari kursi Presiden.

Orang dekat Habibie, A. Makmur Makka, menuliskannya di buku berjudul Total Habibie, Kecil Tapi Otak Semua”. Begini kutipan dari buku itu:

“Satu-satunya mantan Presiden Indonesia yang pernah menolak bertemu BJH adalah mantan Presiden Soeharto.  Saat Presiden Soeharto memutuskan berhenti, dan melalui Mensesneg Saadilah Mursyid menyampaikan keputusan itu via telepon kepada BJH yang sedang rapat dengan sejumlah calon anggota kabinet di Patra Kuningan, BJH bersikeras ingin bertemu dan berbicara beberapa menit saja dengan Presiden Soeharto. Maklum, ia akan menggantikannya sebagai presiden, sementara Pak Harto saat itu tidak memberikan pesan atau petunjuk apapun dalam pelimpahan kekuasaan itu. Bahkan, ketika sudah tiba di Istana untuk mengikuti acara pelantikan, Presiden Soeharto tetap tidak mau ditemui dan berbicara sepatah kata saja. “Saya merasa dilecehkan,” kata BJH.”

Sehari setelah pelantikan, Habibie hanya berhasil berbicara beberapa detik lewat telepon dengan Soeharto.  

Kata Pak Harto kala itu, “Saya sudah tua, laksanakan saja tugasmu dengan baik. Kita bertemu secara batin saja.”

Setelah itu, tulis Makmur Makka, Habibie selalu berusaha menemui Soeharto bahkan ketika Soeharto sudah dirawat di rumah sakit.

Sampai saat Soeharto dirawat di RS Pertamina dan dinyatakan sakitnya sudah parah, Habibie saat itu sedang berada di Eropa untuk menemani Bu Ainun jalani terapi penyakitnya. Habibie sempat mengontak untuk bertemu, tetapi tidak ada jawaban.

“Ketika Pak Harto dinyatakan koma, BJH bersama Ibu Ainun memaksakan diri untuk datang ke Jakarta secara khusus. Setibanya di bandara, menjelang Maghrib, dua putranya bergabung. Tanpa menunggu konfirmasi bisa tidaknya diterima, BJH dan rombongan berangkat ke RS Pertamina di kawasan Mayestik. Di sana, anggota keluarga Pak Harto tetap tidak memberikan konfirmasi, bisa tidaknya diterima. DR Quraish Shihab yang memang selalu berada di RS Pertamina, mendampingi keluarga Pak Harto di saat-saat kesehatan Pak Harto makin kritis, menerima BJH dan rombongan. Waktu itu Pak Harto memang tidak bisa lagi ditemui karena berada dalam ruang ICCU yang steril. BJH dan Ibu Ainun akhirnya hanya membacakan doa dari balik kaca memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan Pak Harto.”

Apakah Habibie kecewa tak bisa bertemu langsung dengan Soeharto? Jawabnya, “Tidak,” kata Habibie.

Meski pun dia terbang ribuan kilometer dari Eropa untuk itu, dia merasa niatnya sudah terkabul, membacakan doa bagi Pak Harto meski pun dihalangi kaca dengan jarak beberapa meter. Dalam hitungan matematika, jarak itu sangat berarti.  

Itulah Habibie, meski dalam kondisi seperti itu berandai-andai dengan matematika. Setelah itu, Habibie dan Bu Ainun kembali meneruskan terapi penyakit di Eropa. Inilah kunjungan terakhir BJH ke Pak Harto yang “terdekat jaraknya”, karena beberapa minggu kemudian Pak Harto wafat.

Baca Juga: Inilah Awal Mula Renggangnya Hubungan antara Soeharto dan BJ Habibie

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Just For You