Comscore Tracker

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya 

Mana nih idola kamu?

Jakarta, IDN Times - Tak harus berjuang di medan perang untuk menjadi pahlawan. Menjadi jurnalis dan penulis untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia juga berhak disematkan gelar pahlawan Nasional.

Terbukti ketujuh tokoh ini mendapat gelar tersebut. Siapa saja mereka? Yuk Simak:

1. Mohammad Hatta

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya Dok. Indonesia Tanah Airku (1952)

Meski harus berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda, Mohammad Hatta menjadi salah satu pahlawan nasional yang berperan di bidang jurnalistik. Hatta mulai menulis sejak dirinya bersama Syharir ditangkap dan diasingkan Belanda ke Digul dan Banda Neira pada 25 Februari 1934.

Hatta mulai menulis untuk koran-koran Jakarta dan majalah-majalah di Medan, Sumatera Utara. Namun, tulisan wakil presiden pertama RI di media cetak tersebut, tidak berbau politis, melainkan penuh analisis untuk mendidik pembaca.

Baca Juga: Ruhana Kuddus, Wartawati Pertama di Indonesia Dapat Gelar Pahlawan

2. Ki Hajar Dewantara

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Siapa yang tak kenal dengan tokoh satu ini, Ki Hajar Dewantara, yang juga dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan RI, kolumnis, politikus, pelopor pendidikan bagi kaum pribumi dari masa penjajahan Belanda, dan juga pendiri Perguruan Taman Siswa. Ki Hajar lahir dari kalangan bangsawan di tanah Jawa. 

Pria yang juga bernama Suwardi Suryaningrat ini juga sebelumnya seorang wartawan. Ia memulai kariernya sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Pada saat itu, Ki Hajar menjadi salah satu penulis andal lantaran tulisannya dikenal komunikatif, tajam, dan antikolonial.

Namun, karena tulisannya juga, Ki Hajar sempat diasingkan pemerintah Hindia Belanda. Tulisannya yang berjudul Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar De Expres pada 13 Juli 1913, dinilai sebagai kritikan pedas di kalangan pejabat pemerintahan Hindia Belanda.

3. Tirto Adhi Soerjo

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya pixabay.com/Devanath

Djokomono Tirto Adhi Soerjo atau yang lebih dikenal Tirto memang dikenal sebagai tokoh pers dan kebangkitan nasional Indonesia. Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai perintis surat kabar dan kewartawanan di Tanah Air. Namanya sering disingkat TAS.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita pada 1903-1905, Medan Prijaji 1907, dan Putri Hindia 1908. Dia juga mendirikan Sarikat Dagang Islam.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama, karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, hingga wartawannya adalah pribumi.

4. Tan Malaka

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya (Ilustrasi) Dok.IDN Times/Istimewa

Pejuang kemerdekaan lain yang gemar melawan penjajahan Belanda melalui tulisan adalah Tan Malaka. Ia juga dikenal sebagai seorang pengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Selain mengajar, ia juga menulis beberapa propaganda untuk para kuli yang dikenal juga Deli Spoor.

Pada masa-masa itu, Tan Malaka mulai mengamati dan memahami penderitaan dan keterbelakangan hidup pribumi di Sumatera. Dia juga sering menulisnya di media massa. Salah satu karya dia berjudul Tanah Orang Miskin.

Tulisan tersebut berkisah tentang perbedaan mencolok kekayaan kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord. Tan Malaka juga menulis tentang penderitaan para kuli di perkebunan teh di Sumatera Post.

5. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya (Ilustrasi) IDN Times/Axel Jo Harianja

Pria kelahiran 17 Februari 1908 yang dikenal dengan panggilan Hamka ini merupakan seorang ulama dan juga sastrawan. Dia melewatkan waktunya sebagai seorang wartawan, penulis, sekaligus pengajar.

Tak hanya itu, Hamka juga terjun dalam dunia politik melalui Partai Masyumi hingga partai tersebut dibubarkan. Ia menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. 

Universitas Al Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkan gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

6. Tjipto Mangoenkoesoemo

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya IDN Times/Margith Juita Damanik

Tjipto Mangoenkoesoemo adalah satu dari Tiga Serangkai bersama Ki Hajar Dewantara dan Ernest Douwes. Tjipto juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia bersama Ernest.

Tiga Serangkai yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Tjipto juga tokoh Indische Partij, organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan pribumi.

Pada 1913 Tjipto bersama kedua rekannya diasingkan pemerintah kolonial ke Belanda, akibat tulisan dan aktivitas politiknya. Mereka baru kembali ke Tanah Air pada 1917.

Hebat ya perjuangan mereka. Kalau kamu sudah berjuang apa untuk bangsa Indonesia guys

7. Ruhana Kuddus

Jurnalis dan Penulis Bisa Jadi Pahlawan Juga, 7 Tokoh Ini Bukitnya IDN Times/Dini suciatiningrum

 Presiden Joko "Jokowi" Widodo memberikan persetujuan Gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kuddus, pionir jurnalis perempuan asal Sumatera Barat.

"Bersama ini kami sampaikan usulan yang telah mendapatkan persetujuan untuk dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2019, atas nama almarhumah Rohana Kudus," kata Direktur Pemberdayaan Sosial Kemensos, Pepen Nazaruddin melalui keterangan tertulis, Kamis (7/11).

Ruhana Kuddus melalui ahli warisnya akan menerima penganugerahan gelar tersebut di Istana Negara pada 8 November.

Ruhana lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884.

Ia merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir, perdana menteri Indonesia pertama dan sepupu KH Agus Salim.

Walau tidak mengecap pendidikan formal, perempuan berdarah Minang tersebut tetap bisa belajar membaca serta menulis dari sang ayah yang selalu membawakannya buku usai bekerja.

Di usia muda, ia menguasai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu.

Ruhana mendirikan surat kabar bernama Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Dia menyusun redaksi surat kabar ini dengan diisi perempuan.

Ruhana juga memiliki banyak karya jurnalistik yang tersebar di berbagai surat kabar, seperti Saudara Hindia, Suara Koto Gadang, Guntur Bergerak dan lainnya.

Baca Juga: Jangan Lupakan Sejarah! Ini 11 Sosok Pahlawan Nasional dari Sumut

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya