Comscore Tracker

Kematian George Floyd Memicu Kerusuhan Besar di AS, Ini Penyebabnya

Warga sudah muak atas kasus rasisme yang kerap terjadi

Jakarta, IDN Times - Kematian seseorang bernama George Floyd (46) pada 25 Mei tiba-tiba memicu peristiwa besar di Amerika Serikat. Protes keras bermunculan yang berujung kekerasan. Bahkan terjadi di empat negara bagian di Negeri Paman Sam; Minnesota, Atlanta, California, dan Washington. 

Terutama di Kota Minneapolis. Kericuhan berakhir penjarahan dan pembakaran toko-toko. Situasi menjadi tidak terbendung.

Gubernur California Gavin Newsom bahkan mengizinkan pasukan pengamanan nasional turun karena pemerintah setempat sudah kewalahan membendung unjuk rasa yang sudah berlangsung 6 hari itu.

Lalu kenapa kematian Floyd yang tewas setelah ditangkap kepolisian setempat karena kasus uang palsu berujung kericuhan besar? Inikah puncak kemarahan warga atas kasus rasialisme yang terus terjadi di AS?

Nuwman, seorang warga Longfellow yang dekat dengan Minnesota mengatakan, perlakuan polisi terhadap komunitas kulit hitam di AS menjadi penyebab utama unjuk rasa itu terjadi. Itu menjadi puncak kemarahan warga-warga kulit hitam. Berikut ulasannya.

1. Pembunuhan terhadap George Floyd menegaskan perlakuan rasisme masih terjadi di AS

Kematian George Floyd Memicu Kerusuhan Besar di AS, Ini Penyebabnya(Potongan rekaman video menunjukkan George Floyd ditahan oleh polisi) YouTube/Dannela Frazier

Petugas polisi yang membunuh George Floyd, Derek Chauvin sudah dipecat dari posisinya. Ia juga sudah ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan dengan ancaman penjara 25 tahun. 

Tetapi, proses hukum tersebut tetap tidak membuat massa puas. Unjuk rasa tetap terjadi dan meluas ke negara bagian lainnya. Mereka menilai peristiwa semacam ini terus berulang dari tahun ke tahun. 

Dalam catatan BBC, setidaknya ada tiga peristiwa pembunuhan yang melibatkan polisi di negara bagian Minnesota dan dinilai semena-mena. Pertama, tahun 2015 penembakan terhadap pria berusia 24 tahun, Jamar Clark. Ia ditembak oleh polisi karena menurut keterangan, Clark coba merebut senjata yang digunakan oleh otoritas berwenang. Polisi terpaksa mengambil keputusan untuk menembak di tempat. 

Pada tahun 2016 lalu, polisi yang menembak mati Clark tidak dikenakan dakwaan apapun, lantaran ia berhasil membuktikan pria 24 tahun itu ditembak tidak dalam keadaan diborgol. Keputusan jaksa itu bertentangan dengan keterangan saksi di lokasi yang menyebut Clark ditembak dalam keadaan tangan diborgol dan tidak melawan petugas kepolisian. 

Kedua, polisi menembak mati Philando Castile pada tahun 2016 lalu. Castile ditembak mati oleh polisi ketika mobilnya diminta untuk berhenti di pinggir jalan. Polisi meminta agar Castile menunjukkan dokumen berupa SIM dan kartu identitas. 

Alih-alih berakhir damai, Castile justru ditembak dengan alasan, polisi menduganya akan mengambil senjata dan menembak otoritas setempat. Petugas kepolisian yang menembaknya dan dijadikan terdakwa adalah Jeronimo Yanez. Tetapi, dalam sidang putusan tahun 2017 lalu, Yanez dinyatakan juri tidak bersalah. 

Ketiga, pembunuhan terhadap perempuan asal Australia bernama Justine Damond. Pelaku yang juga polisi diketahui bernama Mohamed Noor. Damond justru ditembak ketika hendak melaporkan telah terjadi upaya pemerkosaan yang menimpa dirinya di rumahnya di Minneapolis tahun 2017 lalu. Ketika sidang digelar pada 2019 lalu, Mohamed mengakui penembakan terhadap Damond merupakan sebuah kesalahan. Ia kemudian divonis penjara 12,5 tahun. 

Pembunuhan yang menimpa Floyd dianggap merupakan kelanjutan dari kisah-kisah serupa di masa lalu. Bahkan, ada seorang warga Minneapolis yang menuliskan di akun media sosialnya dengan huruf besar "kita seharusnya membakar kota ini demi Philando Castile".

Baca Juga: Polisi Minneapolis Tewaskan George Floyd Didakwa 25 Tahun Penjara  

2. Terjadi segregasi yang besar antara warga kulit putih dan hitam di negara bagian Minnesota

Kematian George Floyd Memicu Kerusuhan Besar di AS, Ini PenyebabnyaSuasana protes pembunuhan George Floyd yang berujung kerusuhan di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Minneapolis, ibu kota negara bagian Minnesota, merupakan area yang makmur dan mempraktikan kebijakan yang cukup demokratis. Tetapi, selama bertahun-tahun di sana terjadi segregasi dalam hal ekonomi antara warga kulit putih dan hitam. Stasiun berita BBC menyebutnya "paradoks Minnesota".

Mereka tinggal di area yang berbeda. Mayoritas warga kulit putih AS tinggal di Minneapolis. Sedangkan, warga kulit hitam sebagian besar bermukim di kota tetangganya yakni St Paul. 

Perpecahan sesungguhnya sudah terjadi sejak di awal abad 20 lalu. Ketika itu warga kulit hitam dilarang membeli rumah di beberapa area. Bahkan, pada tahun 1960an, pemerintah negara bagian Minnesota membangun sebuah jalan tol lebar yang membabat habis pemukiman komunitas kulit hitam yang dikenal dengan nama Rondo di Kota St Paul. 

Menurut kajian yang dilakukan pada 2018 lalu menunjukkan warga kulit hitam yang memiliki rumah di Kota St Paul tergolong rendah. Bahkan, sebelum terjadi pandemik COVID-19, jumlah warga kulit hitam yang kehilangan pekerjaan jauh lebih tinggi dibanding warga kulit putih. 

Data menunjukkan 10 persen warga kulit hitam dipecat karena berbagai alasan. Sedangkan, warga kulit hitam yang dipecat hanya 4 persen. Pada 2016 lalu, warga kulit putih bisa menghasilkan uang per tahunnya lebih banyak yakni sekitar US$76 ribu. Bandingkan dengan warga kulit hitam yang per tahunnya hanya bisa menghasilkan US$32 ribu. Maka, tak heran di Kota St Paul, lebih banyak warga kulit hitam yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Baca Juga: Polisi Minneapolis Tewaskan George Floyd Didakwa 25 Tahun Penjara  

3. Gubernur Minnesota Tim Walz memohon kepada warga untuk tenang dan mengakhiri unjuk rasa

Kematian George Floyd Memicu Kerusuhan Besar di AS, Ini PenyebabnyaSuasana protes pembunuhan George Floyd yang berujung kerusuhan di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Tak ingin kondisi kotanya berlarut-larut ricuh, Gubernur negara bagian Minnesota, Tim Walz, turun tangan dan memberikan pidatonya secara nasional. Ia memohon kepada warga di Kota Minneapolis agar tetap tenang dan diam di rumah. 

"Warga Minnesota kalian harus tetap berada di rumah malam ini. Jangan keluar, jangan berjalan-jalan, jangan menyetir," ungkap Walz seperti dikutip harian lokal, Startribune pada (30/5) lalu. 

Peringatan itu disampaikan oleh Walz delapan jam usai pasukan garda nasional Minnesota dikerahkan untuk melawan pihak-pihak tertentu yang sengaja memprovokasi aksi unjuk rasa kematian George Floyd. Sebagian dari mereka, diduga berasal dari luar negara bagian Minnesota. Mereka kemudian turun ke jalan-jalan dan melakukan penjarahan serta pembakaran. 

Tercatat ada 700 pasukan garda nasional yang dikerahkan. Ini merupakan pasukan keamanan terbanyak yang terjadi di Minnesota sejak perang dunia ke II. 

"Kota-kota kita Minneapolis dan St. Paul sedang diserang," tutur dia lagi. 

Menurut Walz, aksi kericuhan itu sudah direncanakan sebelumnya dan bertujuan untuk mengganggu keamanan di Minneapolis. 

4. Otoritas di Minneapolis telah menahan 40 orang karena melakukan penjarahan dan perusakan

Kematian George Floyd Memicu Kerusuhan Besar di AS, Ini PenyebabnyaSeorang pria yang diduga bagian dari massa protes pembunuhan George Floyd berada di dalam supermarket Target yang sudah dijarah di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Untuk membuat negara bagian Minnesota kembali kondusif, Gubernur Walz kemudian memberlakukan jam malam yang dimulai pada (30/5) pukul 20:00 waktu setempat hingga (31/5) pukul 06:00 waktu setempat. 

Sejauh ini, otoritas berwenang sudah berhasil menahan 40 orang yang terlibat dalam aksi perusakan properti dan penjarahan. Data dari harian Startribune menunjukkan orang-orang yang ditangkap merupakan tahanan dari beberapa negara bagian antara lain Alaska, Florida, Michigan, Missouri, dan Illinois. Gubernur Walz menjanjikan rasa aman dan keselamatan sudah bisa dirasakan oleh warga Minnesota pada Sabtu malam. 

Baca Juga: Minneapolis Membara, 5 Fakta Kerusuhan Akibat Kematian George Floyd

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya