Comscore Tracker

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang Tsunami

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan arkeolog

Banda Aceh, IDN Times - Ternyata di Provinsi Aceh ada kota tua Islam yang hilang karena tenggelam diterjang tsunami.

Hal ini diungkapkan oleh Arkeolog, E Edwards McKinnon. Menurutnya kota hilang itu merupakan kawasan Kota Fansur dan Lamri, kini lokasinya berada di wilayah Kabupaten Aceh Besar.

Hal ini disampaikan Edwards saat menjadi pembicara pada seminar bertema 'Aceh pusat peradaban Islam terawal di Asia Tenggara' beberapa waktu lalu.

Dua pembicara lain merupakan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra dan Guru Besar UIN Ar-Raniry Misri A.Muchlisin yang memaparkan sejumlah bukti-bukti sejarah peradaban Isam di Asia Tenggara yang asal mulanya lahir dari Kerajaan Pereulak dan Samudra Pase.

1. Fansur merupakan kota pelabuhan tua di Aceh

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang TsunamiIDN Times/Arief Rahmat

Azyumardi menyampaikan, penunjukkan Barus titik nol pusat beradaban Islam adalah pernyataan politis, bukan pernyataan secara akademik.

"Seperti yang saya katakan, sejarah itu ditulis atau diteliti untuk beberapa kepentingan, salah satunya kepentingan politis," ujar Azyumardi.

Baca Juga: Jadi Kiblat Pertama Umat Islam, Ini 5 Fakta Seputar Masjid Al Aqsa

2. Fansur dianggap hilang karena tsunami pada abad 14

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang TsunamiIlustrasi gelombang tsunami. (IDN Times/Sukma Shakti)

Negeri Fansur belakang dikatakan menghilang. Arkeolog sekaligus peneliti situs-situs sejarah Sumatra itu menyebutkan, kota pelabuhan itu dikabarkan diterjang bencana alam berupa gempa dan tsunami pada abad ke-14 atau ke-15.

"Sekarang kita tahu ada dua tsunami purba tahun 1390 dan 1450 yang telah menghantam pantai Aceh Besar," jelas Edwards yang merupakan Research Associate dari Institute of Southeast Asian Studies, Singapore.

3. Banyak situs sejarah Aceh yang hilang

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang Tsunami(Ilustrasi tsunami) www.dw.com

Banyak situs purbakala di Aceh yang hilang karena alam. Terutama, dikatakan Edwards, situs peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam yang ada di kawasan pantai Aceh Besar.

"Ada beberapa situs pubakala masa menengah yaitu antara abad ke 11 dan ke-16 sepanjang pantai di antara Ujong Pancu dan Krueng Raya, Aceh Besar," kata Edwards.

Situs-situs tersebut hilang akibat rusak karena terkikis ombak atau abrasi air laut. "Sebagian situs tersebut telah diterkikis ombak air laut, termasuk Negeri Fansur dan beberapa pemukiman purba dan pertahanan masa kesultanan yang terletak di pantai Aceh Besar."

4. Kota Fansur sudah diprediksi akan hilang

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang TsunamiPeta Aceh zaman kesultanan (Dok. IDN Times)

E. Edwards McKinnon pernah melakukan penelitian dan menerbitkan hasil penelitiannya berjudul Sejarah Aceh Sebelum Kesultanan.

Dalam risetnya ia menulis, berdasarkan sumber-sumber Arab, Fansur dan Lamri sering muncul sebagai dua lokasi berdekatan di wilayah utara pulau Sumatera. Dalam karangan Wolters, sebuah pelabuhan yang dinamakan P-o lu dalam sumber Cina (disebutkan sebagai ‘paw-law’) terletak di Sumatra bagian utara. Nama P-o lu ini beliau kaitkan dengan nama Ramni.

Tentang lokasi Fansur, ada pula suatu hal lainnya yang menarik. Cordier yang menulis tentang lokasi Fansur dalam bukunya (1910) mengutip pernyataan dari Valentijn, seorang sejarawan Belanda yang menerbitkan laporannya sekitar pertengahan abad ke18, sebagai berikut: “Fansur adalah tidak lain dari Pantsur yang terkenal, walaupun tidak terkenal lagi oleh nama itu, tetapi sebuah kerajaan yang kita kenal melalui hasil karya Hamzah Pantsuri, seorang penyair yang berasal dari tempat Pantsur tsb. Pantsur terletak  di ujung utara pulau Sumatera, dan sedikit sebelah barat dari Achin. Fansur tersebut pernah penuh dengan kesibukan perdagangan dan masyarakat yang ramai tetapi barangkali akan hilang sama sekali apabila Hamzah Pantsuri tidak memperkenalkan nama tempat tersebut.”

5. Fansur bukanlah Barus!

5 Fakta Fansur, Kota Tua Islam di Aceh yang Hilang Diterjang TsunamiFondriest

Dalam teks Arab Aja’ib al-Hind yang tersusun sekitar 1,000 M. terdapat sebuah cerita tentang anak kapal yang terkandas di Fansur. Orang itu dapat menyelamatkan diri dan kembali ke Lamri atau Lamuri berjalan kaki melalui sebuah telok di pinggir laut yang bernama Lulubilank.

Mereka hanya berjalan pada waktu siang hari karena takut dari binatang buas yang bernama zarafa. Juga diceritakan bahwa wilayah tersebut penuh dengan kanibal, orang yang berekor dan makan daging manusia. Dalam ceritera ini ada kaitan tiga lokasi, Fansur, Lulubilank dan Lamri.

"Pada hemat saya, apabila kejadian ini terjadi sebelum tahun 1,000 M, tidak mungkin orang-orang itu dapat berjalan kaki sepanjang 500 km dari Barus yang dahulu namanya Varocu ke Lamreh dalam suatu wilayah yang tidak aman dan penuh ancaman. Akan tetapi, apabila lokasi Fansur itu adalah di tempat Pancu sekarang, jaraknya hanya sekitar 60 km dan dapat dilewati dalam waktu kurang dari satu minggu, walaupun mereka harus menyeberang tiga muara Krueng Aceh yang lebar," jelas Edwards.

Perjalanan sepanjang 60 Km dan selama beberapa hari seperti ini, menurutnya masuk akal. Apalagi ada nama di pantai ini yang boleh dikatakan mungkin saja cocok dengan nama Lulubilank, yaitu Uleelhuee. Memang ini suatu kemungkinan yang hampir tidak mungkin dapat dibuktikan secara tentu tetapi perlu dipertimbangkan.

"Pada tahun 1988, semua orang sudah tahu bahwa Fansur itu adalah Barus. Merurut Tibbets, nama Fansur tidak ada lagi di Sumatera. Barus sebagai lokasi Fansur sudah muncul dalam banyak tulisan sejarawan barat (Ptak, Guillot, Perret & Heddy Surachman). Sekarang saya berani berpendapat yang berbeda. Sepanjang pantai pulau Sumatera memang hanya ada satu lokasi yang dapat dikaitkan dengan nama Fansur (bahasa Melayu), yaitu Pancu (bahasa Aceh)," tegasnya.

Baca Juga: Niat, Tata Cara, dan Keutamaan Puasa Arafah pada Kamis 30 Juli 2020

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya