Comscore Tracker

Jadi Tren! Ini Sejarah dan Filosofi Kupiah Meukutop, Peci Khas Aceh

Warnanya khas dan bernilai sejarah

Banda Aceh, IDN Times - Peci atau biasa disebut kupiah, biasanya dipakai umat muslim untuk penutup kepala saat beribadah. Tidak hanya bagi muslim, peci juga jadi penutup kepala resmi kenegaraan dan dipakai presiden.

Nah, di Aceh, ada kupiah khasnya sendiri. Dinamakan Kupiah Meukutop. Saat ini peci ini sedang jadi tren.

Banyak pedagang di kawasan Pasar Aceh, Banda Aceh, apalagi selama Ramadan menjajakan Kupiah Meukutop. Penasaran dengan peci khas Aceh ini? Yuk, kita simak!

1. Kupiah meukutop, peci khas Aceh yang paling diminati warga

Jadi Tren! Ini Sejarah dan Filosofi Kupiah Meukutop, Peci Khas AcehKupiah Meukutop, peci khas Aceh (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Berbeda dengan peci biasanya dengan dominasi hitam, peci khas Aceh ini berwarna merah, kuning, hijau, dan hitam. Sisinya bermotif empat anak tangga menyerupai segitiga siku-siku.

Belakangan peci ini jadi tren di tengah masyarakat Aceh. Hampir semua pedagang peci yang ada menjajakan kupiah meukutop di setiap lapak dagangan mereka.

"Jenis peci yang paling banyak diburu selama dua tahun ini, itu peci aceh atau kupiah meukutop selain peci hitam polos," kata Syarifah, salah seorang pedagang peci di Pasar Aceh.

Baca Juga: Merawat Keberagaman, Warga Tionghoa Aceh Bagikan Sembako pada Duafa 

2. Harganya mulai Rp65 ribu sampai Rp500 ribu

Jadi Tren! Ini Sejarah dan Filosofi Kupiah Meukutop, Peci Khas AcehPenjual peci di Pasar Aceh, Banda Aceh (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Peci yang identik motif layaknya hasil anyaman dengan empat warna tersebut biasanya dibandrol dengan harga mulai Rp65 ribu per satuannya. Namun, jika ingin memiliki kupiah meukutop asli hasil rajutan, harga per satuannya bisa mencapai Rp500 ribu.

"Peci yang rajut lebih mahal karena produksinya seminggu mungkin hanya satu yang jadi," ujar Syarifah.

3. Sejarah dan filosofi kupiah meukutop

Jadi Tren! Ini Sejarah dan Filosofi Kupiah Meukutop, Peci Khas AcehTeuku Panglima Polem (Website/https://id.wikipedia.org/)

Walau bisa dibilang baru dua tahun kupiah meukutop tren di masyarakat, pada zaman dahulu, penutup kepala tersebut sering digunakan oleh para raja, kaum uleebalang maupun ulama Aceh.

"Peci ini di samping memakai saat beribadah salat juga sebagai identitas ke-Acehan ada di dalamnya," kata Pemerhati Sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, saat dihubungi terpisah.

Ia menjelaskan, kupiah meukutop mempunyai makna dan filosofi tersendiri. Mulai dari empat warna digunakan, maupun motif yang tersemat.

Warna merah melambangkan keberanian dan jiwa kepahlawanan orang Aceh. Kuning mengisyaratkan kemegahan dan keistimewaan bangsa dan negara. Hijau bermakna keilmuan agama Islam sebagai modal negara dan mencintai alam dan lingkungannya. Sedangkan hitam diartikan hukum yang kuat dalam negeri Aceh Darussalam.

Begitu juga dengan empat anak tangga menyerupai segitiga siku-siku yang ada di sisi peci memiliki arti tersendiri. Bagian pertama bermakna hukum, bagian kedua, bermakna adat, bagian ketiga bermakna qanun dan bagian keempat bermakna reusam (resam).

Dengan latar belakang penggunaannya dan kandungannya yang multimakna, membuat kupiah meukutop penuh dengan nilai sejarah serta adat istiadat.

"Oleh karena itu, ketika orang memakai--kupiah meukutop--ini sangat gagah dan berwibawa," ujar pemerhati sejarah yang akrab disapa Cek Midi terseb.

Pemakaian kupiah meukutop yang banyak dikenakan oleh masyarakat saat ini dikatakan Cek Midi, merupakan bentuk penghormatan kepada orang-orang terdahulu. Sehubungan dengan ini, pemerhati sejarah Aceh ini berharap, pemerintah mau membantu para perajin kupiah meukutop agar tetap memproduksi terus peci-peci tersebut.

"Mari kita galakkan pemakaian ciri khas budaya kita sendiri," ajaknya.

Baca Juga: Resep Sie Reuboh Khas Aceh, Inspirasi Menu Spesial Ramadan

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya