Comscore Tracker

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk Negeri

Semoga mengispirasi kamu ya!

Bandar Lampung, IDN Times "Jadilah pemuda-pemudi pencari solusi, menginspirasi dan memberi karya untuk negeri. Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki"

Dua kalimat itu dilontarkan kepala daerah asal Jawa Barat Ridwan Kamil saat peringatan Sumpah Pemuda beberapa tahun lalu. Sejatinya, dua kalimat itu pun sampai saat ini masih relevan dan dapat memicu semangat para pemuda Indonesia peduli, berkarya dan berkontribusi positif terhadap lingkungan sekitar.

Menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda Ke-92 Tahun pada hari ini, 28 Oktober 2020, IDN Times merangkum kegiatan Millennial di Indonesia yang gencar menyuarakan semangat optimisme, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.

1. Hadi Ramnit semangati anak muda bikin konten video kreatif positif untuk mengedukasi banyak orang

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriZulhadi alias Hadi Ramnit, kreator video Instagram asal Aceh (IDN Times/Hadi Ramnit)

Terkadang dari sebuah hobi kita bisa menghasilkan suatu karya. Ditambah lagi jika hobi tersebut dikolaborasikan dengan rasa ingin tahu dan coba-coba. Wih pastinya terbilang luar biasa jika bisa menjadi sebuah karya.

Hal itu dilakukan Zulhadi. Pemuda kelahiran Kabupaten Bireuen, 27 tahun silam tersebut, coba mengekspresikan diri membuat video-video kreatif kemudian dibagikan ke media sosial Instagram. Video-video bertema komedi yang ia tawarkan pun mendapatkan respons dari netizen pada mulanya.

Buah hati dari pasangan Anwar dan Irawati itu hingga kini bisa menghasilkan karya-karya yang dinilai sangat menghibur di jagat dunia maya. Video yang dihasilkan pria akrab disapa Hadi Ramnit itu semakin digemari. Akun Instagram yang awal hanya diikuti oleh teman-teman dekatnya saja, berlahan mulai digandrungi para penggemarnya. Kini pengikut akun @hadiramnit lebih 80 ribu orang.

Keberhasilannya berkarya di dunia videografi, membuat Hadi berkeinginan untuk membuat komunitas bagi pembuat konten video Instagram. Bersama beberapa temannya, pemuda yang kini sedang menempuh pendidikan di Program Studi Magister Penciptaan Seni Video Grafi Institusi Seni Indonesia Yogyakarta itu kemudian mendirikan Nanggroe Aceh Darussam Video Instagram (NAD Vidgram) pada 2015 lalu. Belakangan wadah itu pun berganti nama menjadi Aceh Video Instagram (Aceh Vidgram).

“Ketika di Banda Aceh, aku punya inisiatif untuk membangun sebuah komunitas namanya Aceh Vidgram. Itu aku ajak semua anak-anak Aceh yang ada di berbagai daerah untuk mengumpul di satu komunitas ini. Itu yang membuat aku senang. Banyak anak-anak kreatif di Aceh yang memang membuat konten-konten positif,” ucapnya.

Kualitas video Instagram dari karya yang dihasilkan Hadi tak hanya diakui oleh para penggemarnya saja, namun juga dibuktikan dengan memenangi berbagai kompetisi video tingkat nasional. Pendeknya durasi waktu yang dimiliki sosial media Instagram untuk memposting sebuah video, membuat Hadi kurang puas untuk bereksperimen dengan karya-karyanya. Ia pun coba merambah ke dunia YouTube yang dinilai bisa menampilkan video dengan durasi lebih panjang. Di samping itu, melalui situs tersebut ia pun mengakui bisa menghasilkan uang.

Berkolaborasi bersama teman-teman yang pernah aktif di Aceh Vidgram dan lainnya, Hadi dipercaya menjadi sutradara untuk menggarap film berjudul ‘Burong Tujoh’. Film yang digarap akhir 2019 tersebut saat ini masih dalam tahap pembuatan dan telah mencapai 60 persen. Hadi mengaku, mereka harus membuat film bertema kenakalan remaja di sekolah itu secara bertahap menyesuaikan kondisi yang terjadi saat ini.

Walau dikenal banyak orang terutama para netizen, tidak membuat pemuda ini besar kepala dan pelit untuk berbagi ilmu khususnya mengenai dunia videografi. Ia bahkan lebih senang jika banyak pemuda lainnya yang ingin belajar dan mencoba berkarya dengan konten-konten video kreatif.

Kepada para kreator pemula yang ingin coba berkarya, Hadi menyarankan agar benar-benar fokus untuk berkarya dan jangan berharap apa yang akan didapatkan serta mengeluh dengan anggaran.“Jangan mengeluh ketika kita membuat sesuatu tidak ada budget-nya. Buat saja dahulu sebisanya yang ada dan nanti uang akan datang sendiri. Kalau memang kita fokus ke uang dahulu, karya kita sudah tidak maksimal lagi karena karya kita sudah patok ke situ (mencari keuntungan),” pesan Hadi.

Selain itu, ia juga menyarankan agar para kreator pemula lebih disarankan membuat konten-konten positif yang bisa mengedukasi orang banyak dan menghindari hal-hal mengundang kebencian terhadap sesuatu. “Itu lebih bagus aku rasa kalau kita membuat konten yang positif dibanding membuat konten ada SARA ataupun rasisnya,” katanya.

2. Kelas Minat awalnya dianggap remeh oleh masyarakat

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriIDN Times/Silviana

Berawal dari keresahan Habib Syahputra dan Robin Ali terhadap lingkungannya yang dikenal sebagai kampung narkoba dan banyak yang nongkrong di gang-gang sambil minum-minuman keras, mereka nekat membuat Kelas Minat yang awalnya dianggap remeh oleh masyarakat sekitar.

Meski baru berjalan selama kurang lebih tiga bulan, wadah ini mencetak orang-orang yang awalnya tidak memiliki keahlian bidang tertentu kini memiliki kemampuan bahkan sudah bisa diaplikasikan di dunia kerja profesional. Saat ini member Kelas Minat sudah ada yang membuka usaha sendiri serta mendapat layanan jasa foto serta layout di dunia kerja profesional.

Ritme yang digunakan dalam kelas ini adalah jaringan. Sehingga siapa saja bisa sharing dan belajar di Kelas Minat. Karena pada dasarnya kedua pendiri komunitas ini  menginginkan ada kerja sama dan saling membuka lapangan pekerjaan antara satu sama lain.

“Ternyata kita melihat teman-teman kita itu banyak yang harusnya ditolong. Akhirnya dari kerisauan itu, ya minimal kita semangatin mereka ngasih mereka modal.  Nah modal yang bener-bener untuk hidup itu ilmu. Itu yang kita terapin. Kalau kalian mau maju bukan uang modalnya, tapi modal ilmu. Dan itu jadi prinsip Kelas Minat,” jelas Habib saat ditemui IDN Times, Jumat (23/10/2020) sore.

Saat ini Kelas Minat sudah diikuti sekitar 30 orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari office boy, sales, sarjana teknik, anak-anak putus sekolah, bahkan mantan narapidana berbaur menjadi satu dan sama-sama memulai belajar dari nol. Metode belajar dalam Kelas Minat ini lebih kepada bagaimana mengedukasi orang-orang bahwa mereka semua bisa, dan kunci utamanya adalah pada rasa percaya diri.

Para peserta belajar teori setiap Jumat sore sampai malam lalu Senin sampai Kamis mempraktikkan teori yang sudah dipelajari. Terdapat materi utama dan materi tamu. Biasanya materi tamu diisi oleh relawan yang bersedia berbagi ilmu dengan Kelas Minat. Habib dan Robin selaku founder membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar atau pun mengajar di Kelas Minat.

Habib menyatakan, menjadi kebanggaan tersendiri melihat teman-teman Kelas Minat sudah bisa mempresentasikan konsep yang mereka buat. Serta mereka lebih percaya diri bahwa itu keren menurut mereka maka harus keren juga dihadapan orang lain.

Salah satu member Kelas Minat Abi Manyu bekerja sebagai sales kosmetik. Ia merasa Kelas Minat adalah tempat sesuai dengan apa yang dia inginkan. Menurutnya, materi yang disampaikan oleh para mentor di kelas tak hanya mengajarkan apa yang ingin dipelajari tapi memberi banyak wawasan mengenai bagaimana perkembangan dunia luar saat ini. sehingga hal itulah yang memotivasinya untuk terus belajar. 

Tak hanya Abi Manyu, Rizky Gunawan seorang office boy juga sangat menyukai materi  yang diberikan oleh mentor di Kelas Minat. Menurutnya di kelas itu kekeluargaannya sangat erat dan disambut dengan baik oleh orang-orang di dalamnya.

Sebelumnya Rizky senang mengambil foto-foto di jalan tanpa mengetahui cara pengambilan foto yang benar. Saat ini dia sudah memahami bagaimana cara membuat konsep pengambilan gambar bahkan pada November ini dia sudah mendapat project pertamanya.

3. Inisiasi pusat belajar dan perpustakaan kecil di kolong jalan layang Kecamatan Ciputat

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriTBM Kolong Ciputat (Dok. TBM Kolong)

Sosok Yuli Yuliawati menjadi figur penting bagi anak-anak SD di Kampung Cicalung, Desa Mekarjaya, Kecamatan Panggarangan Kabupaten Lebak, Banten untuk tetap belajar selama masa pandemik corona. Di tengah keterbatasan akses internet dan fasilitas untuk pembelajaran belajar online tidak menyulutkan semangat mahasiswa Universitas Serang Raya (Unsera) itu untuk membantu anak-anak di kampung halamannya untuk tetap belajar.

Dia bersama pemuda di desanya membentuk kegiatan kelompok belajar bagi anak-anak SD. Mereka setiap hari melakukan pendampingan belajar para siswa yang kesulitan untuk belajar selama masa pandemik karena di wilayahnya tersebut berada di luar jaringan.

Tak hanya itu, mayoritas warga di sana berprofesi sebagai petani dan tidak mampu membeli gadget untuk sarana belajar anaknya. Kondisi itu yang mendorong Yuli bersama rekannya untuk menggagas kelompok belajar anak usia dini. Karena nasib anak yang tinggal pelosok tidak seberuntung anak-anak yang tinggal di perkotaan.

Perjuangan Yuli dan rekannya untuk membantu pendidikan anak di kampung halamannya terbilang tidak mudah. Lokasi dari rumahnya di Kampung Ciajen menuju Kampung Cicalung berjarak tiga kilometer perjalanan. Namun, Kondisi badan jalan masih tanah merah dan hanya mampu ditempuh oleh roda dua.

Akses jalan itu kian sulit untuk dilalui ketika hujan turun. Tanah menjadi becek dan penuh genangan. "Jalan setapak dan kondisinya tanah merah itu yang sulit bagi kami jika ingin melakukan kegiatan," tuturnya.

Mereka menggelar tikar di perkebunan warga untuk belajar bersama. Disela-sela pembelajaran pelajaran-pelajaran sekolah, mereka pun memberikan edukasi budaya literasi kepada anak-anak tersebut.

Kegiatan literasi juga dilakukan Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong. Ini adalah pusat belajar dan perpustakaan kecil yang berlokasi di kolong jalan layang di wilayah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di TBM Kolong ini, beragam buku bacaan secara gratis dan terbuka untuk umum disuguhkan. Melihat lokasinya yang persis di tengah keramaian Pasar Ciputat dan jalan raya, tempat ini seakan oase ilmu di tengah hiruk-pikuk dan riuh deru pasar, mesin, dan manusia.

Salah satu pengelola TBM Kolong, Victoria, menyebut berdirinya tempat ini dimulai tahun 2016. Kala itu, ada keinginan para anak muda berasal dari beberapa komunitas ingin melakukan penghijauan kolong jembatan layang itu.

"Kemudian setelah banyak komunitas yang masuk. Akhirnya inisiasi dibangunnya TBM dilakukan oleh Fisip mengajar. Fisip mengajar ini salah satu unit kegiatan mahasiswa di UIN Jakarta, yang punya program mengajar dan literasi, Fisip mengajar dan OI Tangsel bergabung terbentuklah TBM Kolong," kata Victoria kepada IDN Times, Jumat (23/10/2020).

Selain menyediakan buku bacaan gratis, pengelola dan relawan di TBM Kolong juga memberikan materi-materi pembelajaran terhadap anak didik mereka yang jumlahnya ratusan. "Untuk anak didiknya sekitar 150 anak dan pengelola. Untuk pengurus, pengajar dan relawan sekitar 50 orang," kata dia.

Sebelum ada TBM, jalan layang yang berada di Ciputat ini dipenuhi oleh sampah dan menjadi tempat nongkrong preman pasar. Gak heran, pengelola taman bacaan sempat mendapat penolakan saat awal berdiri, tahun 2016.

Namun, seiring berjalan waktu, preman dan sopir angkot yang biasa menempati tempat ini akhirnya merestui keberadaan perpustakaan itu. Aura kumuh itu kemudian berangsur hilang setelah ada taman bacaan. Apalagi, para seniman lukis pun kemudian ikut menyumbangkan karya mereka dengan membuat mural di dinding dan pilar-pilar jalan layang itu. Taman bacaan itu pun kian menarik bagi anak-anak.

Baca Juga: Hadi Ramnit, Dari Vidgram Kini Sukses Jadi Sutradara Film Sendiri

4. Jaga asa para siswa kampung ikut PJJ kala pandemik COVID-19 melanda

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriIDN Times/Debbie Sutrisno

Sulitnya akses internet hingga tidak ada fasilitas pendukung untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi persoalan yang belum bisa terselesaikan pemerintah imbas COVID-19. Kondisi itu juga dialami puluhan anak di Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Tak pelak, kondisi ini memicu salah satu pemuda karang taruna di RW 15, Taufik Ivan Irwansyah Hidayatullah melakukan aksi. Melihat anak-anak yang terbengkalai dalam belajar, dia kemudian coba mendedikasikan diri untuk mengajar setiap harinya sejak enam bulan lalu.

Ketika hari pertama mengajar, Taufik tak menyangka bahwa anak-anak yang ingin belajar bersama membludak. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 datang ke masjid secara bersama. Ya, karena tak tahu harus mengajar di mana, Taufik memilih masjid untuk menjadi tempat belajar. Dia coba meyakinkan dewan kemakmuran masjid (DKM) setempat untuk menjadikan masjid di RW-nya bisa dipakai belajar bersama.

Lantaran tak menyangka anak yang belajar banyak, dia pun kemudian mengajak pemuda-pemudi Karang Taruna RW 15 agar mau ikut mengajar. Kegiatan belajar mengajar pun kemudian dilakukan secara ramai-ramai dengan belasan relawan yang ikut serta.

Siswa yang ikut belajar bisa mencapai 60 orang. Karena banyak dan terdiri dari berbagai jenjang kelas, Taufik pun memisahkan mereka dibagi dalam lima kategori, yakni Paud, Taman Kanak Kanak, dan sisanya untuk Sekolah Dasar di mana kelas 1 digabung dengan kelas 2. Kemudian kelas 3 digabung dengan kelas 4, sisanya kelas 5 dengan kelas 6.

Demi memudahkan kegiatan belajar, setiap kategori diajar oleh dua relawan dari karang taruna. Mereka dibebaskan mengajar apa saja tak melulu tentang pelajaran yang sesuai dengan modul dari sekolah. Bukan hanya bahasa Inggris, mereka pun diajak belajar melukis, berkesenian, hingga mengenal berbagai macam tanaman yang ada di lingkungan tempat belajar.

Menurut Taufik, upaya untuk menjaga minat anak-anak di kampungnya dengan belajar bersama ternyata tak mudah. Salah satunya karena peralatan untuk belajar sangat terbatas.  Untuk menyediakan papan tulis, spidol, bolpoin, dan peralatan lain para relawan harus swadaya mengumpulkannya. Ada dari mereka yang punya papan tulis langsung di bawa ke masjid. Ketika ada yang punya uang lebih dan bisa membeli peralatan tulis mereka membelinya.

Hal tersebut dilakukan agar para relawan tidak meminta uang sepeserpun kepada para orangtua yang 'menitipkan' anaknya di tempat belajar ini. Karang Taruna enggan membebankan biaya karena niatan awal berdirinya tempat ini agar anak tetap bisa belajar di tengah kesulitan PJJ.

"Kami tahu kalau tak semua orangtua siswa memiliki penghasilan besar dan berkecukupan. Maka sekolah gratis menjadi jalan paling pas agar anak-anak tetap bersekolah di tengah pandemik COVID-19 ini," kata Taufik saat berbincang dengan IDN Times beberapa waktu lalu.

5. Dirikan Kooperasi Moeda Kerdja, gencar eksperimen model usaha sesuai gaya millennial

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriKooperasi Moeda Kerdja. (IDN TImes/Istimewa)

Badan usaha seperti koperasi sekarang ini perkembangannya mengalami pasang surut. Kondisinya pun beragam, bahkan ada yang hidup segan mati tak mau.

Koperasi yang didirikan Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta pada abad ke-20 ini pun semakin tak diingat oleh generasi muda zaman sekarang. Padahal, Bung Hatta begitu panggilan akrab Bapak Koperasi Indonesia mengatakan bahwa badan usaha ini dapat mendidik toleransi dan tanggung jawab bersama sekaligus memperkuat demokrasi sebagai cita-cita bangsa.

Hal itu menjadi inspiraso sekelompok pemuda pegiat literasi Kalam Kopi. Bermula komunitas literasi yang mempunyai misi membawa perubahan pada generasi saat ini dan ke depan, sebanyak 15 pemuda mendirikan Kooperasi Moeda Kerdja sejak 2018.

‘’Dari Kalam Kopi yang kami buat saat kuliah di semester tiga, pada semester akhir kami berpikir nanti kalau sudah lulus mau apa ya. Akhirnya membuat usaha sendiri dengan mendirikan Kooperasi Moeda Kerdja,’’ jelas Saiful Anwar salah satu dari anggota koperasi tersebut.

Lini bisnis dari badan usaha ini jauh dari koperasi pada umumnya seperti simpan pinjam. Namun, kawanan pemuda ini memiliki lini usaha di antaranya jasa fotografi dan desain grafis, jasa sablon dan produk kaus, penjualan makanan ringan, dan penjualan buku.

Hingga kini Kooperasi Moeda Kerdja masih terus bereksperimen untuk menemukan satu model usaha yang bisa memenuhi kebutuhan semua anggota. Sebab, para anggotanya pun tinggalnya berpindah-pindah. Kendati demikian, usaha terus berjalan meski di masa pandemik.

‘’Untuk jasa sablon dan pembuatan kaus masih jalan sampai sekarang. Namun, untuk jasa fotografi terkendala COVID-19 ini. Namun, paling tidak usaha masih bergerak ’’ ungkapnya.

Koperasi yang kini beranggotakan 35 orang itu berusaha untuk menerapkan satu model ekonomi yang lebih adil. Artinya, ketika semua orang dalam satu kelompok itu ikut bekerja, maka hasil yang diperoleh pun akan dibagi secara rata tanpa memandang jabatan dalam badan usaha itu.

6. Aksesibilitas pendidikan di Lereng Merapi patik asa program giat membaca buku dan mengenal alam

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriKomunitas Rumah Baca Anak Lereng Merapi. Dok: istimewa

Keadaan anak-anak di Lereng Merapi tepatnya di Dusun Relokasi Pelem, Girikerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkendala aksesibilitas pendidikan. Hanya ada beberapa SD yang dekat dengan desa mereka, sedangkan akses untuk sekolah SMP maupun SMA jaraknya cukup jauh.

Kondisi itu membuat Komunitas Rumah Baca Anak Lereng Merapi sejak 2013 menggagas wadah giat membaca buku, mengenal alam serta memikirkan keadaan sosial. Desi Rahmawaty, Relawan Rumah Baca Anak Lereng Merapi menerangkan, kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini sangatlah beragam. Mulai dari literasi baca, kemah literasi, pengenalan potensi dan lingkungan sekitar, berkunjung dan menggali ilmu ke tokoh-tokoh di desa, hingga mempelajari proses evakuasi saat terjadi bencana alam.

Desi menjelaskan, ada kurikulum khusus yang memang sudah disusun dan akan diperbaiki setiap tahunnya. Kurikulum tersebut memiliki tiga garis besar meliputi, literasi textbook, literasi alam, serta literasi sosial. Tidak hanya itu, komunitas ini juga mulai membuat pemberdayaan perekonomian pemuda lewat kegiatan ternak lele.

"Kita sedang garap pemberdayaan pemuda. Jadi anak-anak yang sudah SMA, mereka kan otomatis gabung dengan karang taruna dusun, akhirnya kita menambahkan program agar mereka bisa berdaya ekonomi. Tapi gabung dengan pemuda yang sudah lulus sekolah," jelasnya.

Sesuai dengan hal yang ingin diusung oleh komunitas ini, beberapa kali Komunitas Rumah Baca Anak Lereng Merapi juga membuka lapak buku di desa-desa tetangga. Tujuannya, agar desa lain juga turut merasakan manfaat dari apa yang sudah dibangun oleh komunitas ini.

"Karena buku kita banyak. Alhamdulillah banyak orang yang ikut berdonasi, menyumbangkan buku-buku dan kita merasa kesempatan itu harus kita bagi dengan saudara yang ada di sekitar desa. Akhirnya kita juga sempat beberapa kali buka lapak di desa tetangga agar ikut merasakan manfaat," kata Desi.

7. Gelisah citra buruk daerah jadi motivasi dirikan Sampang Youth Inspiration

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk Negeriinstagram.com/mozazana_id

Bercita-cita ingin memajukan daerah pelosok, terutama tempat kelahirannya di Kabupaten Sampang, Madura memicu Muzayana Muza mendirikan Sampang Youth Inspiration (SYI) 2017 lalu. Ini merupakan sebuah komunitas penggerak anak muda dipicu faktor kegelisahan Muza terhadap citra buruk daerah Sampang.

Tidak hanya itu, Muza juga mengatakan 2015-2019, daerah Sampang masuk daerah tertinggal di Jawa Timur sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 131 tahun 2015. Merujuk hal itu mematik keyakinan untuk membantu pembangunan SDM Sampang menjadi lebih baik.

Menyikapi permasalahan ini, Muza pun menegaskan Sampang pada dasarnya memiliki potensi SDM yang luar biasa dan dapat dikatakan sama dengan daerah yang lain. Oleh karena itu, dirinya berusaha membantu membangun SDM di daerah Sampang agar kelak bisa memasuki bonus demografi dengan baik.

SYI adalah salah satu sektor komunitas development yang bergerak untuk menyelesaikan permasalahan Sustainable Development Goals (SDG’s), seperti edukasi dan sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, Muza melakukan banyak hal bersama SYI beserta para relawan di dalamnya.

Mulai dari memberikan bantuan berupa materi dan non materi ke pelosok-pelosok desa, memberikan pendidikan karakter pada anak-anak, hingga membangun rumah literasi desa. Kini, SYI bahkan memiliki beberapa desa binaan di pelosok untuk penyaluran bantuan dan relawan yang ada.

"Para relawan yang turun untuk memberikan edukasi pun, sebelumnya telah diajarkan terlebih dahulu metode pendidikan karakter yang menyenangkan dan mengandung 12 nilai perdamaian seperti berdamai dengan lingkungan, berdamai dengan Allah SWT, berdamai dengan sesama, dan yang terpenting adalah berdamai dengan diri sendiri. Itu yang sering kami lakukan ketika memberikan edukasi ke pelosok," tambahnya.

Membangun sebuah komunitas berbasis non-profit demi kepentingan membangun daerah, jelas tidak mudah. Hal ini pun dirasakan oleh Muza. Acap kali, dirinya menemukan berbagai macam kendala dan hambatan, baik dari dalam maupun luar organisasi.

Selain itu, ada pula masalah lain yang bersumber dari masalah luar organisasi. Misalnya, pemikiran masyarakat yang masih sangat tertutup. "Di pelosok itu masih belum open mind soal gerakan ini. Mereka menganggap jika di sekolah sudah ada hal-hal seperti ini. Tetapi, saya percaya ketika kami benar-benar bergerak secara konsisten dan sederhana, kebaikan-kebaikan pun akan menyertai kita asal kita memiliki niat dan tujuan yang jelas," ucapnya.

Perjuangan panjang yang dilakukan Muza, pada akhirnya memberikan dampak positif tidak hanya bagi masyarakat daerah Sampang, namun juga dirinya. Pada 2019 silam, Muza dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Terbaik Satu oleh Gubernur Jawa Timur dan Pemuda Pelopor Terbaik Nasional dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

8. Tak pernah berhenti menggaungkan isu kesehatan mental

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriSesi meditasi harian untuk workers Riliv. Dokumentasi Pribadi Riliv

Isu kesehatan mental saat ini menjadi perhatian khalayak ramai. Perasaan cemas berlebihan, mudah stres, dan gaya hidup yang ekstrem karena tekanan pekerjaan menjadi beberapa pemicu timbulnya mental illness.

Hal itu yang mendasari Audy Christoper Herli dan Audry Maxi membuat start up yang dinamai Riliv. Dari data yang mereka punya, setiap 40 detik ada satu orang di Indonesia yang mencoba bunuh diri. Selain itu, banyak masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental, takut untuk datang ke psikolog. Penyebabnya, stigma masyarakat yang menganggap orang yang datang ke psikolog adalah gila. Padahal stigma itu keliru besar.

Audy paham betul bagaimana rasanya seseorang yang menderita gangguan kesehatan mental. Sebab, dirinya juga menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Penderita OCD akan melakukan kegiatan berulang-ulang. Jika tidak dilakukan, penderitanya akan merasa cemas.

Siapapun yang menginginkan konsultasi tak harus dalam keadaan gila atau tidak sehat. Riliv yang hadir sejak 2015 lalu ingin membawa pencerahan kepada masyarakat. Tak hanya itu, Riliv juga ingin menghilangkan stigma buruk saat berkunjung ke psikolog. Audy lantas menceritakan pengalamannya saat mengunjungi psikolog.

Sebagai start up yang sudah terverifikasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Riliv kini tak pernah berhenti menggaungkan isu kesehatan mental. Dengan gerakannya, Riliv didukung oleh beberapa media dan pemkot untuk terus menyuarakan isu tersebut.

“Awal tahun lalu, kami juga bekerja sama dengan IDN Times di acara Millenial Wellness Day. Juga, tentunya kami bekerja sama dengan pemerintah dan ingin menjalin kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat,” jelas Audy.

Selain kerja sama dengan media dan pemerintah, Riliv juga menyediakan fasilitas meditasi yang berguna untuk meingkatkan kesehatan mental. “Dengan meditasi, kita bisa mengurangi kecemasan, stres, tidur lebih nyenyak. Kami sediakan itu di Riliv. Luangkan lima sampai sepuluh menit, maka kalian akan dapatkan ketenangan,” lanjut pria berkacamata tersebut.

Banyaknya millenials menyuarakan kegelisahannya di media sosial, juga tak luput dari perhatian Riliv. Tak jarang, kegundahan yang mereka ungkapkan pun menjadi bahan tertawaan bagi orang yang membacanya. Audrey Maximillian Herli-Co Founders Riliv yang juga merupakan saudara Audy-menyampaikan empatinya terkait fenomena tersebut.

Merespons fenomena tersebut, Maxi-sapaan akrab Audrey- mengatakan, Riliv juga mengedukasi penggunanya untuk bijak bermedia sosial. “Millenials yang mengakses aplikasi dan mengikuti media sosial kami juga diberikan edukasi terkait bijak bermedia sosial,” kata Maxi

Saat ini, Riliv sudah diunduh oleh lebih dari 200 ribu orang. Maxi berharap, makin banyak orang yang mengunduh Riliv, maka juga semakin banyak orang yang sadar. Bahwa, kesehatan mental tak bisa diremehkan.

Baca Juga: Jarang Diketahui, Ini Fakta-fakta Tentang Sejarah Sumpah Pemuda 

9. Terketuk kerap menyaksikan keluarga pasien dari luar pulau tidak memiliki tempat tinggal saat berobat ke Bali

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriVolunteer di Yayasan Rumah Berbagi Bersama di Denpasar (Dok.IDN Times/Christin Wahyuni)

Berawal dari menjadi relawan sosial di beberapa rumah singgah, Christin Wahyuni (41) bersama rekannya Sri Rahayu (27) pada Desember 2018 lalu memberanikan diri mendirikan rumah berbagi di Kota Denpasar, Bali.

Keberanian itu muncul karena mereka terketuk kerap menyaksikan keluarga pasien dari luar pulau yang tidak memiliki tempat tinggal saat berobat ke Bali. Rumah berbagi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Rumah Berbagi Bersama yang berlokasi di Jalan Pulau Alor nomor 30, Denpasar.

“Kami relawan, terpanggil melihat memang banyak sekali keluarga-keluarga dari pasien yang kiriman dari luar Bali itu gak punya tempat tinggal. Jadi mereka itu kadang kalau yang punya duit, ya bisa kos. Rumah singgah kan tidak semua gratis. Ada yang berbayar. Jadi kami terpanggil dari itu,” terang Christin, Jumat (23/10/2020).

Rumah berbagi ini juga merangkul anak-anak muda untuk turut bergerak dalam aksi kemanusiaan. Hingga saat ini ada puluhan relawan yang membantu dan sebagian besar merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Biasanya para relawan tersebut datang untuk memeriksa pasien dan pendampingnya. Selain memeriksa tensi darah, mereka juga memberikan penyuluhan.

Pasien yang ada di rumah tersebut sebagian besar berasal dari daerah terpencil dan minim edukasi masalah kesehatan. “Nggak bisa dikasih materi berat. Jadi sekadar ngobrol, diberikan materi sedikit-sedikitlah. Sebatas itu,” jelasnya.

Ia menilai, anak-anak muda saat ini memerlukan wadah dan respons. Karenanya ia berusaha merangkul dengan cara-cara positif dengan cara mendampingi mereka dan memberikan kesempatan beraktivitas di garis depan.

Mengingat yayasan ini bersifat mandiri dan secara legalitas baru terbentuk pada Mei 2020, mereka belum memiliki donatur tetap. Mereka pun belum pernah melakukan open donasi untuk pembiayaan operasionalnya. “Lainnya kalau ada kekurangan ya colek-colek teman,” jelasnya.

Agar bisa menutupi biaya operasional ini, ia mengumpulkan baju bekas layak pakai, kemudian dijual di media sosial. Selain itu juga dijual saat momen Car Free Day (CFD) di Renon dengan harga Rp5 ribu sampai Rp10 ribu.

“Walaupun mereknya misalnya Ripcurl. Kami jualnya ya Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Dengan tujuan berbagi bersama. Kami kan ngemper di bawah, bukan yang pakai hanger-hanger baju. Kami di bawah. Otomatis yang membelipun pasti orang yang ekonomi menengah ke bawah,” jelasnya.

Selain itu, ia juga membantu memfasilitasi bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan bantuan dari donatur secara langsung melalui rumah singgah. Mereka juga melibatkan para relawan mahasiswa.

Selain aktif dalam berbagai kegiatan di rumah berbagi, Mak Entin juga suka melakukan kegiatan sosial lainnya. Selama tiga tahun ia menjalankan Etalase Nasi Gratis di Pesanggaran, Denpasar Selatan. Gerakan tersebut dilakukan oleh komunitas ibu-ibu rumahan. Setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 11.00 Wita, Etalase Nasi Gratis ini menyediakan 100-150 nasi bungkus. Kecuali pada hari Jumat, mereka turun ke jalan membagikan nasi bungkus. Namun belakangan ini, donasi nasi mereka titipkan melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Sebelum pandemik, ia juga membagikan 500 nasi bungkus untuk penunggu pasien di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah. Hanya saja saat pandemik ia menghentikan aksi ini karena COVID-19.

10. Menghidupkan kembali minat baca lantaran pamor buku mulai hilang

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriPerpustakaan Jalanan Samarinda hadir menjawab tantangan minat baca rendah warga yang lebih karib dengan teknologi (perpusjalanansmr/instagram.com)

Buku memang jendela dunia, namun kini frasa tersebut tak lagi sama. Perlahan-lahan pamor buku mulai hilang ditelan masa. Era digital menjadi penyebab. Namun, sekelompok pemuda di Samarinda berusaha menghidupkan kembali minat baca.

“Namanya Perpustakaan Jalanan Samarinda. Berdiri pertengahan September 2016 lalu,” ujar Hendry Beneva salah satu founder dari komunitas ini, Jumat (23/10/2020).

Membentuk kelompok ini murni dari hati. Kata Hendry, tak ada penyokong dana ketika mula-mula didirikan. Semua kawan yang punya minat sama menyumbangkan buku-buku mereka. Inilah yang menjadi fondasi komunitas tersebut, yakni kebersamaan. Sayangnya kelompok ini tak punya tempat tetap.

Sesuai namanya, Perpustakaan Jalanan tersebut benar-benar hadir di pinggir jalan. Awalnya di Jalan Muhammad Yamin. Persis di depan salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda. Namun karena takut digerebek Satpol PP, komunitas ini pindah ke Taman Cerdas di Jalan Mayor Jenderal Siswondo Parman. Pilihan itu ternyata tepat sasaran. Di lokasi ini banyak warga. khususnya saban akhir pekan. Lebih-lebih akhir pekan.

Animo masyarakat dengan komunitas ini begitu positif. Apalagi anak kecil. Dari pantauan Hendry ketika itu, banyak anak suka dengan buku. Meski belum bisa baca, anak-anak ini senang dengan gambarnya. Setidaknya cara ini berguna untuk mengenalkan anak dengan buku sejak dini.

Tak hanya itu, kelompok ini juga adakan kegiatan storytelling saat anak-anak ramai mendatangi lapak Perpustakaan Jalanan Samarinda. Namun sayang, terkadang niat baik tak selamanya dipandang positif. Pemerintah tak sepenuhnya mendukung kampanye Hendry dan kawan-kawan. Bahkan dalam prosesnya mereka terkendala administrasi.

11. Pemuda butuh motivasi dan semangat tinggi dari orang-orang di lingkungan

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk Negeripexels.com/Dio Hasbi Saniskoro

Sosiolog Universitas Lampung, Dewi Ayu Hidayati, menerangkan, jarang sekali ada generasi muda yang memikirkan generasi muda lainnya. Menurutnya, jika generasi mudanya adalah generasi muda yang mentalnya bobrok tentunya pembangunan ini akan bobrok.

“Tapi jika generasi mudanya memiliki karakteristik yang positif, peduli pada orang lain, peduli pada lingkungan, memiliki jiwa sosial yang tinggi justru komponen-komponen seperti itulah yang akan meningkatkan, mengembangkan dan memajukan pembangunan ini lebih baik nantinya,” paparnya.

Merujuk peringatan Sumpah Pemuda ke-92 pada 28 Oktober mendatang menurut Dewi hal yang paling dibutuhkan pemuda saat ini adalah motivasi atau dukungan positif untuk mereka. Mengingat generasi muda masih memiliki jiwa-jiwa yang labil, sehingga akan mudah sekali dipengaruhi oleh hal-hal yang negatif.

“Mereka butuh dukungan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan positif, untuk meningkatkan semangat mereka, dan kualitas hidup mereka menjadi lebih baik. Jadi yang dibutuhkan itu motivasi dan semangat yang tinggi dari orang-orang di lingkungannya,”paparnya.

Dengan adanya perkembangan teknologi, justru teknologi itu sendiri yang menjadi tantangan bagi generasi muda. Menurut Dewi, jika para generasi muda tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan baik maka akan mudah terpengaruh hal-hal negatif. Namun sebaliknya, jika teknologi bisa dimanfaatkan ke hal-hal yang berguna maka akan menimbulkan dampak yang positif.

Selain teknologi, tantangan lainnya bagi generasi muda adalah lingkungan. “Bisa saja generasi muda bentukan dari keluarganya sudah baik. Tapi karena masuk dalam lingkungan sosial mereka salah menempatkan diri sehingga mereka bisa tergelincir pada hal-hal negatif,” ujarnya.

Meski orangtua memiliki peran utama dalam mendidik anak-anaknya namun peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk menjadikan generasi muda ini menjadi generasi yang memiliki kualitas. Supaya generasi muda saat ini mampu mengisi pembangunan dengan baik.

“Jadi misalnya ada gerakan pemuda yang membentuk komunitas untuk hal positif seharusnya memang difasilitasi dan diapresiasi oleh pemerintah. Karena memang tujuan pembangunan ini akan sesuai yang diharapkan apabila sumber daya manusia (SDM) itu berkualitas,” terang Dewi.

Menurutnya,  jika SDM dari generasi pemuda itu baik dan mempunyai kegiatan yang positif karena difasilitasi oleh pemerintah tentunya ini akan berimplikasi pada kemajuan pembangunan. Sehingga pemerintah memiliki peran yang vital dalam memfasillitasi gerakan-gerakan pemuda yang melakukan kegiatan-kegiatan sosial.

“Karena justru generasi muda seperti ini yang perlu diapresiasi. Jangan sampai gerakan seperti ini karena tidak disupport dan di motivasi atau tidak difasilitasi oleh pemerintah justru itu melemahkan mental mereka untuk melakukan kegiatan seperti ini lagi,” jelasnya.

12. Para pemuda sudah seharusnya terus berkarya meski berada dalam kondisi serba kekurangan

Sumpah Pemuda, 10 Kisah Inspiratif Millennial Berkarya untuk NegeriANTARA FOTO/Moch Asim

Taufik Ivan Irwansyah Hidayatullah, salah satu pemuda karang taruna di RW 15 Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat menyuarakan pendapatnya terkait peringatan Sumpah Pemuda ke-92. Menurutnya, saat ini peringatan tersebut masih sekadar jadi momentum saja. Belum banyak pemuda yang mengerti arti penting dalam Sumpah Pemuda.

Ia menilai, saat ini peran pemuda di tengah masyarakat masih sangat kurang. Saat ini mayoritas pemuda bekerja secara sendiri dan untuk kesejahteraannya masing-masing. Pergerakan pemuda yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat pun lebih sedikit.

"Ketika dulu pemuda bersatu dengan berbagai latar belakang untuk tujuan yang baik dengan cara yang baik juga, rasanya sekarang justru memudar," kata dia.

Taufik menambahkan, di tengah pandemik yang membuat masyarakat tertekan, para pemuda sudah seharusnya terus berkarya meski berada dalam kondisi serba kekurangan. Berkarya itu bukan hanya membuat barang, tapi perbuatan baik yang dilakukan pun adalah karya dan harus dinikmati banyak masyarakat.

Ia menuturkan, di saat pandemik seperti ini pemerintah harus lebih banyak menggandeng para pemuda yang ada di seluruh daerah baik mereka yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan bahkan perbatasan.

Dia menilai, program kepemudaan baik dari Kemenpora atau Kemendikbud kurang terasa optimal. Taufik merasa berbagai program yang diluncurkan terkait kepemudaaan dampaknya belum terlihat nyata.

"Karena yang saya tanggapi, program program yang dicanangkan lembaga pemerintah tersebut masih dibatasi dan terbatas untuk beberapa lapisan aja. Yang jadi pertanyaan, ke mana nilai ke-Bhinekaan yang dulu di gadang-gadangkan," ujarnya.

Dia berharap pemerintah bisa meningkatkan berbagai program kepemudaan, dan menjamah banyak kriteria pemuda di berbagai daerah. Dengan demikian, setiap masalah di setiap daerah bisa sedikit terselesaikan dengan kehadiran para pemuda di sana.

Memaknai Sumpah Pemuda Ke-92 juga disampaikan Saiful Anwar, salah satu anggota Kooperasi Moeda Kerdja, Ia ingin memaknai dengan mengajak anak muda atau generasi millennial ini untuk membuat peluang bagi dirinya dengan menciptakan usaha sendiri.

‘’Saat ini anak muda ditakuti susah dapat pekerjaan. Hal itu menjadi kekhawatiran, karena urusan perut tidak mengenal kata toleran. Namun, kami perlu diberikan satu ruang agar bisa membuat peluang itu sendiri terlebih untuk bekerja sama dengan yang lain. Salah satunya melalui koperasi, dengan badan usaha ini kami ingin memberikan makna bahwa sebagian ruang punya harapan untuk bekerja bersama-sama. Jangan melulu impian cari kerja tapi sisihkan untuk menciptakan usaha,’’ tandasnya.

Tim penulis: Muhammad Saifullah, Silviana, Muhammad Iqbal, Khaerul Anwar, Debbie Sutrisno, Anggun Puspitoningrum, Siti Umaiyah, Muhammad Tarmizi Murdianto, Tarida Alif, Ayu Afria Ulita Ermalia, Yuda Almerio Pratama Lebang

Baca Juga: Mahasiswa USU Olah Bawang Batak Jadi Gel Atasi Peradangan di Gigi

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya