Comscore Tracker

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawan

Karena pahlawan bisa lahir dari golongan apa saja!

Jakarta, IDN Times - Sebentar lagi 17 Agustus 2020 akan diperingati sebagai Hari Kemerdekaan ke-75 tahun Republik Indonesia. Berkat para pahlawan, Indonesia bisa merdeka seperti sekarang ini.

Tapi tahukah kamu, kemerdekaan Indonesia salah satunya berkat peran dari para bangsawan. Mereka rela berperang melawan penjajah yang mencoba menduduki tanah air.

Nah siapa saja ya pahlawan nasional yang lahir dari keturunan bangsawan dan ikut membantu kemerdekaan Indonesia. Berikut ini 10 di antaranya.

1. Andi Abdullah Bau Massepe

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawanpareparekota.go.id

Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe lahir di Massepe, Sulawesi Selatan tahun 1918. Ia adalah pejuang heroik dari daerah Sulawesi Selatan yang juga merupakan Panglima pertama TRI divisi Hasanuddin.

Bau Massepe merupakan anak Raja dari kerajaan Bone yakni Andi Mappanyukki. Ia merupakan Datu Suppa ke 25 sekaligus pewaris tahta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan Gowa.

Selain itu ia juga merupakan pewaris tahta dari lima kerajaan di sebelah barat Danau Sidenreng yaitu Suppa, Allita, Sidenreng Rappang dan Sawito. Dia diakui sebagai pejuang yang teguh pendirian dan berani berkorban demi tegaknya NKRI.

2. Pangeran Diponegoro

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah BangsawanIDN Times/Achmad Hidayat Alsair

Pangeran Diponegoro lahir Yogyakarta, 11 November 1785 adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta. Ia dikenal karena memimpin perang diponegoro atau perang Jawa pada tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.

3. Sultan Hasanuddin

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah BangsawanIDNTimes/Abdurrahman

Sultan Hasanuddin lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 yang merupakan putera dari Raja Gowa ke-15, I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Muhammad Said. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa mulai tahun 1653 sampai 1669. Kerajaan Gowa merupakan kerajaan besar di Wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Sultan Hasanuddin pernah menolak keras Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis. Untuk itu Sultan Hasanuddin pernah mengucapkan kepada Kompeni "marilah berniaga bersama-sama, mengadu untuk dengan serba kegiatan".

Tetapi Kompeni tidak mau, sebab dia telah melihat besarnya keuntungan di negeri ini, sedang Sultan Hasanuddin memandang bahwa cara yang demikian itu adalah kezaliman.

4. Sultan Iskandar Muda

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawankanalaceh.com

Sultan Iskandar Muda lahir di Aceh pada tahun 1593 yang merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.

Beliau juga pernah melakukan serangan terhadap Portugis, tetapi serangan tersebut tidak berhasil, meskipun begitu Aceh tetap merupakan kerajaan yang merdeka. Namanya kini diabadikan sebagai Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Baca Juga: Jangan Lupakan Sejarah! Ini 11 Sosok Pahlawan Nasional dari Sumut

5. Sultan Mahmud Badaruddin II

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah BangsawanWikipedia

Sultan Mahmud Badaruddin II lahir di Palembang, 1767 yang merupakan pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode, setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin.

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut perang menteng. Pada tangga 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang dan Mata uang rupiah pecahan Rp10.000.

6. Malahayati

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawanmalahayati.ac.id

Keumalahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

7. Andi Mappanyukki

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawanpahlawancenter.com

Andi Mappanyukki adalah salah satu tokoh pejuang dan seorang bangsawan tertinggi di Sulawesi Selatan. Ia adalah Putra dari Raja Gowa ke XXXIV, Ia pula yang memimpin raja raja di Sulawesi Selatan untuk bersatu dan bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1950.

Ia sejak berusia 20 tahun sudah mengangkat senjata untuk berperang mengusir kolonial Belanda, perang yang dilakoni di masa muda itu tatkala mempertahankan pos pertahanan kerajaan Gowa di daerah Gunung Sari.

8. Sultan Nuku Muhamad Amiruddin

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawandictio.id

Sultan Nuku Muhamad Amiruddin adalah putra kedua Sultan Jamaluddin dari Kesultanan Tidore. Pada zaman pemerintahan Nuku (1797–1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran.

Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara dari penjajah bangsa asing.

9. Pong Tiku

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawanmakassar.terkini.id

Pong Tiku lahir di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada tahun 1846. Waktu itu, Sulawesi Selatan merupakan pusat perdagangan kopi dan dikuasai oleh beberapa panglima perang. Tiku adalah anak terakhir dari enam bersaudara yang lahir dari salah satu keluarga panglima perang tersebut. Ia merupakan putra dari Siambe' Karaeng, penguasa Pangala', dan istrinya, Leb'ok. Sebagai pemuda yang atletis. Tiku sangat ramah terhadap pedagang kopi yang mengunjungi desanya.

Pada tahun 1880, pecah perang antara Pangala dan Baruppu, negara tetangga yang dikuasai Pasusu. Tiku pun memimpin serangan ke negara tetangganya. Setelah Pasusu dikalahkan, Tiku menggantikannya sebagai penguasa Baruppu. Kerajaan yang baru dicaplok ini memiliki sawah yang luas dan aman sehingga Tiku memiliki kekuasaan yang besar. Meski suku Toraja umumnya lebih menghargai tenaga manusia dan membunuh orang secukupnya saja, sejarah lisan Baruppu mendeskripsikan Tiku sebagai sosok pembunuh yang tidak memandang pria, wanita, atau anak-anak.

Tak lama kemudian, ayah Tiku meninggal dunia. Tiku naik sebagai penguasa Pangala. Sebagai pemimpin, Tiku berusaha memperkuat ekonomi setempat dengan meningkatkan perdagangan kopi dan persekutuan strategis dengan suku-suku Bugis di dataran rendah. Kesuksesan ekonomi ini membuat para penguasa di sekitarnya menghormati dan mengagumi Tiku.

10. Samanhudi

Lawan Penjajah! 10 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berdarah Bangsawanpahlawancenter.com

Samanhudi lahir di Surakarta, 1868. Ia adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda dengan pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905.

Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalamanan unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di saat mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.

Baca Juga: Mengenal Ruhana Kuddus, Wartawati Pertama Bergelar Pahlawan Nasional

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya