Comscore Tracker

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak Dikisahkan

Mereka turut berjuang #MenjagaIndonesia 

Ada banyak orang yang berjuang memperjuangkan kemerdekaan. Mereka dijuluki pahlawan nasional. Namun ternyata ada banyak pejuang yang berkorban demi kemerdekaan tanpa statusnya diakui. Mereka tak banyak dikisahkan.

Tapi tanpa atau dengan gelar, mereka tetap harus diapresiasi. Berikut ini beberapa pejuang dari berbagai daerah yang belum bergelar pahlawan nasional. 

1. Ida I Dewa Istri Kanya, pejuang perempuan asal Klungkung yang membunuh Jenderal AV Michiels

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanPatung Ida I Dewa Istri Kanya. Dok.IDN Times/Istimewa

Masyarakat Klungkung tentu tidak asing lagi dengan nama Ida I Dewa Istri Kanya. Seorang tokoh perempuan dari Kerajaan Klungkung yang beristana di Kusamba. Ia dikenang karena sepak terjangnya dalam melawan imperialisme Belanda. Hanya saja sampai sekarang, salah satu tokoh kebanggaan masyarakat Klungkung ini tidak kunjung dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Ida I Dewa Istri Kanya dikenang sebagai seorang ratu dari Puri Klungkung dan beristana di Desa Kusamba pada tahun 1849. Sikapnya yang tak pernah tunduk membuat Belanda geram. Tanggal 24 Mei 1849, ekspedisi Belanda yang baru saja selesai menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan menuju Padang Cove (Sekarang menjadi Padang Bai) untuk menyerang Klungkung.

Sempat terpukul mundur pada serangan pertama, Ida I Dewa Istri Kanya akhirnya berhasil meracik strategi dan menyingkirkan Belanda dengan pasukan yang tersisa. Pasukan Belanda kocar-kacir. Dari serangan ini, pasukan Klungkung menewaskan jenderal Belanda paling disegani pada masanya, Andreas Victor Michiels.

Sosok Ida I Dewa Istri Kanya menjadi simbol keberanian, ketangkasan, dan emansipasi perempuan hingga beberapa generasi setelahnya untuk tetap mempertahankan tanah leluhur. Meski namanya kini diabadikan sebagai nama balai budaya, namun gelar pahlawan nasional yak kunjung disandang.

2. I Nengah Wirtha Tamu, pejuang perang dari Tabanan yang menggagas TPB Margarana

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanTjilik semasa hidup (Dok.IDN Times/Istimewa)

I Nengah Wirtha Tamu atau lebih dikenal dengan panggilan "Tjilik" adalah pahlawan asal Buleleng yang merupakan inisiator pembangunan Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana yang berlokasi di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Bersama dengan Ida Bagus Kalem, seorang seniman dari Kayu Mas  Denpasar, Tjilik mendesain bangunan Candi Pahlawan Margarana.

Sebelum menginisiasi TPB, Tjilik adalah seorang pejuang perang. Anak sulung Tjilik, I Wayan Abdi Negara mengatakan ayahnya merupakan kelahiran Liligundi, Buleleng pada 14 Oktober 1918. Nama Tjilik sendiri berarti kecil atau mungil. Nama ini sebenarnya adalah nama samaran yang dipakai saat menjadi pimpinan gerilya di wilayah Buleleng Timur pada tahun 1945-1950 dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat pergi berperang, menurut Abdi Negara, ayahnya sudah menjalani upacara ngaben. Tujuan upacara ngaben digelar meski saat itu Tjilik masih hidup, karena di medan perang dianggap hidup dan mati tidak ada yang bisa memperediksi. Jenazahpun tidak tahu akan ditemukan atau tidak. Tjilik pun sudah siap gugur di medan perang. Begitu juga keluarga telah mengiklaskan serta merestui langkah perjuangannya.

Tjilik  kembali dari medan perang dalam kondisi hidup, tetapi dengan membawa janji di pundaknya. Menurut Abdi Negara, saat berjuang, Tjilik dan kawan-kawan seperjuangan membuat janji. Siapapun yang bisa kembali dalam kondisi hidup, harus membantu membesarkan anak-anak yang mereka tinggalkan. 

Memenuhi janjinya pada kawan seperjuangannya yang gugur di medan perang, Tjilik kemudian mendirikan Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Provinsi Bali dan ia menjadi Ketua YKP pertama dari tahun 1951 hingga 1968. Ia pun mendata anak-anak yatim yang kehilangan ayah di medan perang.

Tjilik meskipun tidak sempat mengenyam pendidikan yang tinggi, namun dalam perjalanan hidupnya pernah menjabat sebagai anggota MPRS di Jakarta, sebagai anggota panitia persiapan pendirian Universitas Udayana, pendiri Yayasan Dwijendra, Taman Pendidikan 45, dan STM Nasional.  Tjilik tutup usia pada 13 Januari 1992 saat berumur 74 tahun. 

3. Tubagus Ahmad Chatib, Kiai Banten yang ikut pemberontakan terhadap Belanda di Batavia

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanDok. Dinsos Kota Serang.co.id

Banten memiliki peran penting dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Banyak tokoh-tokoh pejuang berasal dari provinsi ini. Salah satunya adalah Tubagaus Ahmad Chatib.

Pria yang lahir di Pandeglang, Banten pada 1855 ini merupakan salah satu tokoh Islam Banten. Dalam buku Jalan Hidup dan Jejak Langkah Perjuangan Sang Residen Banten, Ahmad Chatib disebut sebagai kiai yang turut melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1926 di Batavia (Jakarta) bersama kelompok pergerakan golongan kiri.

Akibat pemberontakan itu, sekitar 1.300 orang Banten ditangkap Belanda. Bahkan, empat di antaranya dihukum mati. Chatib sendiri akhirnya diasingkan ke Boven Digoel, Papua. Namun, ia kembali ke Banten tahun 1940. 

Berkat peran dan perjuangannya di era penjajahan Belanda dan Jepang,  Ahmad Chatib menjabat sebagai Residen Banten yang diangkat oleh Presiden Soekarno pada 19 September 1945.

Kariernya melesat. Dia pernah duduk di Dewan Pertimbangan Agung, DPR Gotong Royong (DPRGR), juga di MPRS dan BPPK. Ia juga merupakan pencetus berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), juga perguruan tinggi Universitas Islam Maulana Yusuf yang kita kenal sekarang sebagai IAIN Sunan Gunung Jati, Banten. Ia wafat pada 1966 dan dimakamkan di area Masjid Agung Banten.

4. Nyimas Gamparan, pejuang perempuan Banten yang menolak tanam paksa Belanda

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanIlustrasi tanam paksa. Berbagai Sumber

Nyimas Gamparan merupakan wanita yang berasal dari kesultanan Banten. Ia melakukan perlawanan terhadap Belanda lantaran menghapus sistem kesultanan Banten sekitar tahun 1813 pada era Sultan Syafiudin.

Heroisme Nyimas Gamparan dikenal dalam perang Cikande. Perang tersebut terjadi sekitar tahun 1829 hingga 1830. Perang tersebut terjadi lantaran Nyimas Gamparan yang memimpin puluhan pendekar wanita menolak Cultuurstelsel atau aturan tanam paksa yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 1830 yang diterapkan kepada penduduk pribumi.

Serangan demi serangan yang dilakukan oleh pasukan Nyimas Gamparan membuat Belanda sangat kerepotan. Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan wanita pimpinan Nyimas Gamparan.

Perjuangan Nyimas Gamparan tersebut dikenal dengan Perjuangan Cikande Udik, dengan lokasi Cikande Timur sebagi titik epicentrum gerak griliya pasukannya. Pemberontakan yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan ini dikenal jauh lebih dahsyat dan masif dari pemberontakan Geger Cilegon pada 1888 yang justru kini lebih dikenal masyarakat. Kisah pemberontakan Nyimas Gamparan kurang dikenal masyarakat karena sampai kini belum ada orang yang menyusun disertasi ataupun menuliskannya dalam bentuk buku.

Ada beragam versi cerita akhir hidup perempuan gagah berani ini.  Namun cerita paling terkenal adalah politik devide et impera atau politik adu domba ala Belanda. Ia diadu domba dengan Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor. Taktik Belanda ini rupanya cukup ampuh. Nyimas Gamparan akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

5. KH Muhyidin, ulama Subang yang bertempur di garis depan

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanDok.IDN Times/Istimewa

Di Kabupaten Subang, Jawa Barat, terdapat sosok ulama sekaligus pejuang kemerdekaan bernama KH Muhyidin. Namanya memang tak banyak dikenal, tapi dia merupakan salah satu pemimpin dalam penyerangan kepada Sekutu di Bandung Utara pada masa penjajahan.

"Tidak hanya bergabung dengan Hizbullah, KH Muhyidin pun menjadikan pesantren Pagelaran I (Tanjung Siang) sebagai markas pelatihan dan penggemblengan mental bagi para pejuang Hizbullah," kata Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Nina Herlina Lubis.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Subang, KH Satibi mengatakan, KH Muhyidin juga ikut bertempur ketika tentara NICA atau Nederlands Indie Civil Administration datang ke tanah air pada 1946. Ia melawan pasukan NICA di Jawa Barat, khususnya di daerah Ciater, Isola, dan Cijawura. Tak hanya itu, setahun berikutnya yakni pada 1947, dia juga ikut meredam pemberontakan yang dilakukan DI/TII.

Selain berjuang langsung di medan perang, KH. Muhyidin juga membina mental spiritual dan fisik pejuang Hizbullah dalam memerangi Belanda.

Baca Juga: Tahu Gak? 8 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Jurnalis dan Penulis

6. Mr Gele Harun, pengacara pertama di Lampung yang ikut angkat senjata

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanGele Harun Nasution. Berbagai Sumber

Sejauh ini, di Provinsi Lampung baru satu orang, yaitu Radin Inten II yang tercatat bergelar pahlawan nasional. Padahal, sebenarnya banyak sosok pahlawan yang ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Gele Harun Nasution. Gele Harun merupakan pejuang kemerdekaan yang menjadi pengacara pertama di Lampung. Ia bergelar Mester in de Rechten atau Mr.

Mr Gele Harun memulai perjuangan mempertahankan kemerdekaan saat bergabung di organisasi Angkatan Pemuda Indonesia (API) 1945. Adanya ultimatum dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus van Mook yang mengharuskan seluruh tentara Indonesia termasuk hakim militer membuat ia angkat kaki dari Palembang. Ia pun kembali ke Lampung dan bergabung kembali dengan API untuk angkat senjata saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Pada 1949, Gele Harun diangkat sebagai acting Residen Lampung (kepala pemerintahan darurat) menggantikan Residen Rukadi. Baru sebentar bertugas, Gele Harun terpaksa memindahkan keresidenan dari Pringsewu ke Talangpadang pada 18 Januari 1949. Itu lantaran Belanda telah memasuki kawasan Pringsewu. Serangan Belanda yang begitu bertubi-tubi, membuat Gele Harun kembali memindahkan pemerintahan darurat ke pegunungan Bukit Barisan di Desa Pulau Panggung, dan terakhir hingga ke Sumber Jaya, Lampung Barat.

Saat berjuang di Kawasan Waytenong, kondisi makanan dan obat-obatan yang sulit didapatkan, menyebabkan putri Gele Harun bernama Herlinawati yang kala itu baru berusia delapan bulan meninggal dunia.  Gele Harun dan pasukannya baru kembali ke Tanjungkarang setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1947.

Setibanya di Tanjungkarang, ia menduduki beberapa jabatan, seperti Ketua Pengadilan Negeri dan Residen Lampung. Gele Harun juga berperan dalam pembentukan Lampung sebagai provinsi. Ia juga sempat menjadi anggota Dewan Konstituante periode 1956-1959 dan anggota DPR-GR/MPRS dari fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI) periode 1965-1968. Gele Harun wafat di usia 62 tahun. Jasadnya dimakamkan di TPU Kebonjahe, Enggal, Bandar Lampung.

Mulkarnain G Harun anak keenam dan bungsu Mr Gele Harun menyatakan, Dinas Sosial Provinsi Lampung telah mengirimkan usulan Gele Harun menjadi Pahlawan Nasional. Pihak keluarga juga telah memenuhi seluruh persyaratan dari Kementerian Sosial terkait teknis administrasi sejak 2014 dan 2019. Kementerian Sosial mengutus Sejarahwan Indonesia Anhar Gonggong datang ke rumahnya untuk melihat bukti-bukti sejarah perjuangan Gele Harun.

"Ada samurai, baju-baju, foto-foto dengan Bung Karno sudah saya berikan. Bukti-bukti itu menurut pendapat Anhar Gonggong sudah lengkap semuanya sehingga bisa diterima oleh Kementerian Sosial di Jakarta. Saya dan keluarga besar menyerahkan kepada Pemprov Lampung, Kemensos, Sekneg, Sekmil, TP2GD, dan sampai ketangan Presiden. Ini adalah aset Provinsi Lampung," jelas Mulkarnain.

7. Abdoel Moeis Hassan, pejuang asal Kaltim yang bergerak melalui jalan diplomasi

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanAbdoel Moeis Hassan, calon pahlawan nasional dari Kaltim (wikimedia.org)

Tak seperti di Pulau Jawa, kisah Pahlawan di Kalimantan memang tak banyak yang tahu. Bahkan, di Kalimantan Timur hingga saat ini belum ada satupun pejuang yang bergelar pahlawan nasional. Padahal banyak sosok yang perannya tak kalah penting dalam memerdekakakn republik. Salah satunya adalah Abdoel Moeis Hassan.

Dalam catatan Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) dia adalah sosok yang berjasa bagi Kaltim. Sejak usia 16 tahun, Abdoel Moeis Hassan mendirikan dan mengetuai Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) pada 1940. Lima tahun kemudian saat Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tepatnya 17 Agustus 1945, Abdoel Moies Hassan muda turut dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI).

Tak hanya itu, Abdoel Moeis Hassan juga sempat membentuk partai lokal di Kaltim pada 1946 atau setahun setelah proklamasi. Namanya Ikatan Nasional Indonesia (INI) di Balikpapan. Organisasi politik ini berjuang mewujudkan kemerdekaan lewat jalur diplomasi. Abdoel Moeis Hassan kemudian mendirikan cabang di Samarinda.

Dalam prosesnya, INI berkoalisi dengan organisasi lain yang kemudian membentuk Front Nasional. Anggotanya beragam dari buruh tani, pemuda, perempuan, hingga seniman. Pusat aktivitasnya di Stamboel Straat (sekarang Jalan Panglima Batur).

Saat ini, mantan gubernur Kaltim era 1962 ini sedang diusulkan sebagai pahlawan nasional. “Berkas Calon Pahlawan Nasional (CPN) Abdoel Moeis Hassan diproses secara bertingkat dari masyarakat ke Pemkot Samarinda, sekarang tahapannya di Pemprov Kaltim,” ujar sejarawan lokal Muhammad Sarip saat dikonfirmasi pada Kamis (6/8/2020) sore.

8. Soeharsikin, Ibu kos yang berperan membentuk karakter seorang Sukarno

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanIDN Times/Vanny El Rahman

Tak semua perjuangan memang harus dilakukan di medan perang. Semua sumbangsih, dalam bentuk apapun, demi kemerdekaan Indonesia juga harus diakui sebagai sebuah perjuangan. Seperti apa yang dilakukan oleh Raden Ayu Soeharsikin. Istri Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto ini merupakan pembentuk karakter beberapa tokoh pejuang kemerdekaan, seperti Sukarno, Semaun, Alimin, Darsono, Kartosoewirjo, Tan Malaka, hingga Musso.

Tidak ada yang tahu pasti kapan Soeharsikin dilahirkan. Adrian Perkasa, pengamat sejarah Universitas Airlangga (Unair), memperhitungkan usia Soeharsikin lebih muda dari suaminya. “Tjokro itu lahir 1982. Saya kira beliau meninggal di usia 35, ya beliau lahir sekitar 1885 hitungan saya,” ujarnya. Dia merupakan putri dari Raden Mas Mangoensomo yang merupakan Patih (Wakil Bupati) Ponorogo. 

Sejak 1912, ia menjadikan rumahnya di daerah Peneleh Surabaya, sebagai kos-kosan. Kharisma Tjokro yang mentereng di Pulau Jawa pun membuat banyak orangtua yang ingin menitipkan anaknya di rumah tersebut. Namun, Soeharsikin hanya menerima anak kos putra dengan beberapa persyaratan kedisplinan.

Kedekatan Sukarno dengan Tjokro pun tidak lepas dari peran Soeharsikin. “Dia adalah penjembatan antara Sukarno dengan suaminya. Kan gak ujug-ujug mereka dekat. Dia melihat track record Sukarno yang memang anak baik, makanya dialah yang menyatukan antara keduanya,” ujar Sekretaris Wilayah Jawa Timur untuk Koalisi Perempuan Indonesia, Wiwik Arafah.

Wiwik kembali mengulas, “Dia tahu bahwa yang nge-kos itu anak-anak hebat. Dia ingin anak-anaknya melampaui ibu dan anaknya. Makanya dia berharap supaya Sukarno bisa mentransfer ilmu kepada anak-anaknya. Ini pula yang menjadikan Soekarno dekat dengan Tjokro."

Soeharsikin meninggal pada 22 Februari 1921. Dia tertular penyakit tifus yang diderita putra kelimanya. Kala itu, tifus adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Sehingga wajar bila sang ibu menemani putranya sepanjang hari. Tidak peduli bila dirinya tertular penyakit, apa yang dia pikirkan dan inginkan adalah keselamatan sang anak.

Mewakili suara perempuan, Wiwik sangat mendukung apabila sosok Soeharsikin dijadikan sebagai pahlawan bangsa. Pasalnya, Soeharsikin telah menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan adalah sosok yang kuat dengan berbagai beban yang ditanggungnya.

“Sejarah kita ini terlalu maskulin, karena memang menempatkan lelaki selalu di barisan depan. Padahal, siapa yang menyelundupkan senjata? Itukan perempuan. Nah Ibu Soeharsikin ini menggambarkan bagaimana potret multi-beban perjuangan perempuan,” urai dia.

9. Dokter Kariadi, pejuang yang gugur saat berjuang di jalur medis

Inilah Para Pahlawan Tanpa Gelar yang Tak Banyak DikisahkanMakam dr Kariadi. Dok Semaranginside

Bicara peristiwa pertempuran lima hari di Semarang memang tak bisa dilepaskan dari sosok dokter Kariadi. Tokoh pejuang yang wafat di usia 40 tahun itu rupanya meninggalkan ragam kisah menarik yang tak banyak diketahui masyarakat.

Komunitas Masyarakat Sejarawan Jawa Tengah mencatat bahwa dokter Kariadi semasa hidupnya kerap berpindah tugas. Itu ia lakukan selepas lulus dari sekolah kedokteran di Surabaya, Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) tahun 1931.

Ia diketahui sempat bertugas di Malang, Martapura hingga Papua. Di Bumi Cendrawasih, dokter Kariadi kala itu menemukan masyarakat mayoritas menderita penyakit malaria. Ia pun mencoba melakukan pengobatan dengan segala keterbatasan. Maklum, saat bertugas di Papua Jepang sedang menduduki Indonesia.

"Jadi, gak hanya Pertempuran Lima Hari yang identik dengan perjuangan dokter Kariadi. Sebenarnya sepanjang hayatnya Kariadi terkenal gigih sekali saat memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Dia berjuang tanpa pamrih buat kepentingan bangsa dan negara. Itu dia tunjukan ketika dia dipindah tugaskan ke berbagai daerah," kata Prof Wasino, Ketua Masyarakat Sejarawan Jawa Tengah ketika berbincang dengan IDN Times, Rabu (5/8/2020).

Menjelang akhir hayatnya, dokter Kariadi sempat bertugas di RS Purusera. Rumah sakit yang terletak di Jalan Dr Sutomo Kalisari, Semarang itu kini telah berubah nama dengan mengabadikan nama dokter Kariadi.

Ketika Pertempuran Lima Hari bergejolak di Semarang pada 15-19 Oktiber 1945, dokter Kariadi tetap menunjukan sikap profesionalnya dengan meneliti kandungan racun di tandon air atau Reservoir Siranda. Namun, dokter Kariadi gugur karena tertembak di tengah perjalanan.

Untuk mengabadikan jasa-jasanya, pihaknya bersama TP2GD dan Gubernur Jateng mengaku telah mengusulkan agar dokter Kariadi dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

 

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalamanan unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di saat mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.
 

Baca Juga: 14 Potret Masa Muda 7 Presiden Indonesia, Dari Sukarno Sampai Jokowi

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya