Comscore Tracker

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKI

Dikenal dekat dengan CIA

Jakarta, IDN Times - Hari ini 30 September 53 tahun lalu, peristiwa penculikan para jenderal dikenal dengan Gerakan 30S/PKI. Enam jenderal dan satu perwira TNI menjadi korban dengan PKI yang dihukum sebagai dalangnya. 

Mereka dikubur dalam sumur tua yang sempit, berdiameter 75 senti meter dengan kedalaman 12 meter yang dikenal dengan sebutan Lubang Buaya di Cipayung, Jakarta Timur. 

Mereka pun dikenang sebagai Pahlawan Revolusi. Jenderal AH Nasution yang sebenarnya juga menjadi target lolos. Namun ada satu jenderal yang sebenarnya juga menjadi target menurut catatan CIA. Siapa dia?

1. CIA ungkap nama Brigjen Ahmad Sukendro

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKIPixabay.com/TheDigitalArtist

Berdasarkan laporan intelijen CIA bertajuk The President's Daily Brief pada 1965 (kini sudah bisa diakses publik di situs resmi CIA), dalam rangka memberantas PKI, rupanya jenderal-jenderal AD aktif berkomunikasi dengan pihak Amerika Serikat dan masuk dalam laporan CIA. 

"Jenderal Sukendro, satu-satunya yang selamat dari Brain Trust AD setelah pembunuhan 30 September, mengatakan kepada pejabat Amerika kemarin bahwa dia pikir situasi cukup baik. Dia mengakui, pertanyaan besar apakah AD bisa memberantas Komunis dengan Sukarno yang merasa keberatan," kata CIA dalam laporan tanggal 15 Oktober 1965. 

2. Lolos dari maut karena sedang tugas ke China

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKI(Presiden RI pertama, Soekarno) Instagram/@soekarno.legacy

Dalam buku Sukarno File karya Antonie CA Dake, menyebutkan Sukendro lolos dari maut karena saat itu sedang menjalankan tugas dinas ke Beijing, China. Sukendro juga disebut-sebut sebagai jenderal intelijen yang dekat dengan CIA dan pejabat AS. 

Dalam laporan CIA kepada Presiden Johnson pada 20 Oktober 1965, CIA cemas Sukendro ditendang Sukarno setelah kejadian G30S/PKI sebagai bagian dari pertarungan AD dan PKI. 

"Mantan PANGAU Omar Dani yang terlibat urusan 30 September, meninggalkan Indonesia kemarin untuk kunjungan yang diperpanjang di luar negeri karena didesak AD. Untuk kompensasinya, Sukarno meminta Jenderal Sukendro mengasingkan diri. Kalau dia pergi, AD akan kehilangan otak politik terbaiknya," kata CIA. 

Baca Juga: Relawan Emak-emak Bantu Konsumsi Pelajar yang Demo di DPRD Sumut

3. Sukendro menolak mengasingkan diri

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKImichiganradio.org

Laporan CIA pada 26 Oktober 1965 menyebutkan Sukendro menolak mengasingkan diri. Namun akhirnya pada 29 Oktober 1965, Sukarno berhasil memaksa Sukendro meninggalkan tanah air.  

Alasan lain kenapa nama Sukendro menghilang adalah diketahui bahwa Soeharto menjebloskannya ke penjara di awal Orde Baru. 

4. Dicurigai jadi dalang G30S/PKI

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKI(Monumen Pancasila Sakti) adhyaksadault.info

Dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto tulisan FX Baskara Tulus Wardaya disebutkan bahwa Sukendro merupakan jenderal yang dikenal dekat dengan CIA. Lantaran ia ditugaskan belajar ke Amerika Serikat, maka kedekatan dengan CIA kemudian terjalin baik. 

Beberapa program kerja sama TNI dan CIA bahkan berhasil lewat kemampuan komunikasinya. Sampai-sampai ada anggapan pada masa itu, sosok Sukendro-lah temali utama yang menghubung Nasution dan juga Achmad Yani dengan CIA. 

Bahkan dalam salah satu versi skenario Gestok, karena kecerdasan dan lobi baiknya dengan CIA, Sukendro disebut-sebut sebagai salah satu orang yang layak dicurigai sebagai dalang. 

5. Diincar PKI karena keintelektualannya

Kisah Ahmad Sukendro, Jenderal yang Selamat dari Penculikan G30S/PKI(Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla saat ke Museum Lubang Buaya) setkab.go.id

Sukendro termasuk sosok penting di tubuh militer. Namanya masuk dalam grup jenderal elite yang dekat dengan Nasution maupun Achmad Yani. 

Grup ini dikenal dengan julukan Dewan Jenderal, yang terdiri dari 25 orang. Namun motornya adalah Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo, dan Brigjen Sukendro sendiri. 

Masih dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto, grup disebut aktif melakukan counter politik untuk menandingi dominasi PKI. Peran Sukendro yang mendominasi ini tentu saja membuat PKI geram. Bagi PKI, perwira intelektual yang satu ini adalah bahaya laten. 

Sayangnya, Sukarno meminta Sukendro menjadi anggota delegasi Indonesia untuk peringatan Hari Kelahiran Republik China pada 1 Oktober 1965, sehingga dia selamat dari penculikan berdarah itu. 

Baca Juga: Dua Mahasiswa Tewas, KontraS: Ongkos yang Mahal untuk Demokrasi

Topic:

  • Doni Hermawan

Just For You