Comscore Tracker

Periksa Eks Pejabat Polri pada Perkara BNI, Benny: Kasus Terberat Saya

Komjen Suyitno diduga terima suap dalam kasus pembobolan BNI

Jakarta, IDN Times – Buronan pelaku pembobolan Bank BNI Rp1,7 Triliun, Maria Pauline Lumowa akhirnya berhasil dibawa kembali ke Indonesia pada Kamis (9/7).

Mantan jenderal di kepolisian, Irjen (Purn) Benny Mamoto yang menjadi ketua tim penyidik perkara pembobolan BNI menjadi mengaku ini adalah kasus paling berat yang pernah ia tangani dalam hidupnya. Sebab, ada beberapa seniornya di korps Bhayangkari yang ikut terlibat perkara tersebut. Termasuk, salah satu di antaranya eks Wakil Kepala Bareskrim Komjen (Purn) Suyitno Landung. 

Di pengadilan, Suyitno mengaku telah menerima mobil Nisan X-trail dari salah satu tersangka lain di perkara pembobolan BNI bernama Ishak. 

“Tetapi prinsip saya sepanjang kita profesional, kita tetap hormat kepada senior dan sebagainya ya menurut saya semua berjalan dengan baik,” ungkap Benny ketika berbicara di program Ngobrol Seru by IDN Times, pada Jumat (10/7).

Yuk simak pengakuan Benny!

1. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri menurun

Periksa Eks Pejabat Polri pada Perkara BNI, Benny: Kasus Terberat SayaBenny Mamoto sebagai pembicara dalam Ngobrol Seru by IDN Times pada Jumat (10/7/2020) dengan Tema "Melacak Pembobolan BNI Senilai Rp 1,7 Triliun" (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Selain Suyitno, ada satu jenderal Polri lainnya yang ikut dijadikan tersangka karena menerima suap sehingga menyebabkan terpidana Adrian Woworuntu lepas. Ia adalah Eks Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Pol (Purn) Samuel Ismoko.

Benny mengakui dengan adanya nama-nama petinggi Polri yang terkait kasus pembobolan BNI menyebabkan tingkat kepercayaan terhadap institusi itu menurun drastis. Polri mulai mengendus ada yang tidak beres dalam penanganan kasus pembobolan BNI pada 2003 lalu karena terdapat beberapa langkah yang tidak dilakukan secara maksimal. 

“Kebijakan yang aneh, harusnya begini kok tidak itu semua ketika kami menginventarisir memotret kasus yang tidak berjalan. Di situ lah kita ketemu,” tuturnya.

Baca Juga: Menkum HAM Berhasil Bawa Pulang Buronan Pembobolan BNI dari Serbia

2. Benny memeriksa seniornya eks Wakabareskrim Suyitno Landung dengan tetap profesional

Periksa Eks Pejabat Polri pada Perkara BNI, Benny: Kasus Terberat Saya(Eks Wakabareskrim Komjen (Purn) Sulistyo Landung) www.abc.net.au

Benny mengisahkan ketika saat itu memeriksa seniornya yakni eks Wakil Kepala Bareskrim Komjen (Purn) Suyitno Landung. Ia mengatakan kendati Suyitno adalah seniornya, tetapi ia tetap bersikap profesional dan tetap sopan. 

“Memang terkadang terjadi perdebatan. Kami pun dalam hal meng-counter jawaban tetap menjaga sopan santun, bahkan ketika sempat menolak tanda tangan, semuanya dilakukan dengan sabar," tuturnya.

3. Negara dirugikan Rp138,442 triliun akibat kredit macet BLBI

Periksa Eks Pejabat Polri pada Perkara BNI, Benny: Kasus Terberat SayaBenny Mamoto sebagai pembicara dalam Ngobrol Seru by IDN Times pada Jumat (10/7/2020) dengan Tema "Melacak Pembobolan BNI Senilai Rp 1,7 Triliun" (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Selain menjadi ketua tim tim penyidik untuk perkara pembobolan BNI senilai Rp1,7 triliun, Benny juga tercatat pernah memimpin penyidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Menurut hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 2000 lalu, negara dirugikan Rp138,442 triliun akibat kredit macet BLBI. 

Benny pun mengaku bisa ditunjuk oleh Kapolri ketika itu untuk menuntaskan pembobolan BNI karena pernah memimpin perkara BLBI. 

“Rekam jejak itu lah yang kemudian, menjadi pertimbangan untuk kami penanganan kasus BNI ini,” kata dia. 

https://www.youtube.com/embed/I-zc8LJtkPc

Baca Juga: Yasonna: Pengacara Maria Pauline Sempat Mencoba Suap Otoritas Serbia

Topic:

  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya